Terlalu Senang Hingga Akhirnya…. (Cerpen)

Mungkin semua hal di dunia ini tidak ada yang pasti. Namun, satu hal yang pasti yang kurasakan, bahwa aku telah jatuh cinta kepada dirimu, ok ini klasik banget tapi harus bagaimana lagi, kalau sudah jatuh cinta tidak bisa ditolak lagi kan?

Ketika aku pertama kalinya menyadari kalau aku telah jatuh cinta, aku terbodoh untuk beberapa saat. Aku mempunyai perasaan ini seharusnya sudah lama, tapi aku menyadari perasaan ini setelah beberapa bulan dia pergi dariku. Kenapa aku tidak menyadarinya? Dulu aku selalu merasakan getaran keras di dadaku, tapi aku tidak menganggap itu cinta.

Kini, setelah dia pergi menjauh dariku, aku tersadar, ternyata aku telah jatuh cinta kepadanya. Namun apa yang harus aku lakukan? Menunggunya atau mengejar cintaku?

***

Aku bertemu dengan dia secara sengaja. Aku melihat seorang gadis dengan bermain sangat riang dengan anak-anak. Belakangan kuketahui kalau dia memang suka anak-anak. Dia bermain tidak menggunakan alas kaki, sehingga beberapa serpihan pasir menempel erat di kakinya. Namun dia tidak risih dengan pasir tersebut. Dia melanjutkan permainannya bersama anak-anak.

Memang agak lucu sih. Tubuh gadis itu yang seukuran dewasa bermain bersama anak-anak. Tapi itulah sisi manis dari gadis itu. Kulitnya yang putih tidak dia lindungi. Dia merasa bebas bermain di bawah sinar matahari. Dan rambutnya yang panjang sebahu itu tidak juga dia lindungi. Beberapa pasir menempel di rambutnya. Jarang sekali gadis yang berbuat demikian.

Aku memandanginya dengan penuh senyuman. Beberapa orang mungkin menganggap kalau gadis itu aneh, tapi aku menganggap gadis itu menarik.

Tiba-tiba dia menyadari tatapan mataku. Untung tatapan mataku tidak mesum, kalau aku menatap mesum, wah … aku tidak tahu nasibku selanjutnya. Setelah perkenalan lebih lanjut, gadis itu ternyata tidak suka dengan orang mesum dan ahli beladiri. Dia mengetahui titik kelemahan manusia, dan aku salah satu korbannya.

Dia menyuruh salah satu dari anak-anak yang bermain bersamanya untuk menyapaku. Saat itu, seorang anak-anak yang memakai baju merah datang menyapaku.

“Abang suka ya sama kakak itu?” katanya dengan nada polos. Apakah dia tahu apa yang barusan dia katakan? Aku terkejut luar biasa. Seakan petir menyambar diriku. Sejenak aku begitu syok dan tidak bergerak. Hingga akhirnya aku berhasil menguasai diri. Sepertinya gadis itu tertawa begitu keras.

“Dik, Abang tidak suka dengan kakak itu.”

“Masak sih? Tatapan Abang penuh dengan cinta loh,” balas anak itu. Ini lebih mengejutkan dari sebelumnya. Aku semakin tidak bisa mengendalikan diri.

“A … Apa? Ma, ma, masak i … ya sih?” aku mulai gugup. Aku tidak bisa mengontrol apa yang aku katakan. Mataku telah berputar-putar.

“Temui aja kakak itu daripada Abang natap terus,” kata anak itu dengan polosnya. Sekali lagi aku berpikir, apakah dia tahu apa yang dia katakan? Mau tidak mau aku menuruti anak itu. Dia membimbingku berjalan mengikuti gadis itu. Yang akhirnya aku akan bermain dengan anak-anak. Baru pertama kali aku bermain dengan anak-anak.

Gadis itu tersenyum, senyuman yang penuh dengan arti. Antara senyuman marah atau senyuman tulus. Aku tidak menemukan kecantikan dalam senyuman tersebut.

Gadis itu menarik tanganku dan dengan sekilas membantingku ke pasir. Entah bagaimana gadis itu lakukan, pokoknya dengan sekilas aku berada di atas pasir dalam keadaan berbaring.

Gadis itu tersenyum dan menyuruh anak-anak untuk membantingku. Dan mereka dengan semangat membantingku dengan ramai-ramai. Serentak pula lagi.

***

Ketika lagi asyik makan di warung fastfood, tiba-tiba gadis itu muncul. Entah darimana dia tahu aku sedang makan di sini. Dia datang seperti menahan tangis.

Dia langsung duduk di hadapanku, mulai menceritakan segala apa yang dia tangisi. Dia menangis, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Baru kali ini aku berhadapan dengan situasi macam ini. Aku hanya terdiam kaku, mendengarkan apa yang di katakan.

Padahal waktu itu hanya selang dua minggu sejak pertemuan pertama kali. Setelah pertemuan itu, aku tidak bertemu lagi dengannya. Dan di fastfood ini, aku dan dia bertemu yang kedua kalinya. Namun ini bukan dan suasana senang tapi suasana sedih.

Setelah dia mengatakan apa yang dia katakan, setelah itu dia membersihkan air matanya. Ketika dia telah berhasil menguasai diri, dia bertanya kepadaku apa yang dia katakan tadi. Sontak saja aku terkejut, karena aku hanya mendengar kaku, dan tidak ada satupun kalimat yang kudengar.

Aku berusaha mengingat apa yang dia katakan. Aku berkata dengan terbata-bata. Dan tiba-tiba dia tertawa.

“Hahaha kamu mendengar apa yang aku katakan, dasar.”

“Mau gimana lagi? Kamu datang tiba-tiba, menangis pula lagi,” kataku dengan gugup.

Dan sejak saat itu kami menjadi dekat. Dan tanpa disadari aku telah jatuh cinta kepadanya.

***

Awalnya setelah aku menyadari perasaan ini, aku memilih untuk menunggu ketidakpastian. Aku akan menunggunya sampai dia datang ke kota ini.

Namun lama-kelamaan perasaan ini tidak menentu. Aku ingin bertemu dengannya, aku ingin bertemu dengannya, aku ingin mengatakan perasaan ini.

Hingga akhirnya, hari ini, aku memutuskan untuk menjumpainya di kota seberang dan mengatakan perasaanku.

Aku memang nekat karena aku baru pertama kalinya keluar kota. Aku hanya bermodalkan peta yang ada di smartphone kesayanganku. Beruntung aku mempunyai uang yang cukup. Kalau situasi tidak sesuai rencana, aku bisa menghadapinya.

Ketika aku mencapai perbatasan kota seberang, aku begitu gugup. Aku takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Dan pada akhirnya, aku sampai di stasiun. Dan aku mulai kebingungan, mencari alamat gadis itu.

Dengan bermodalkan bertanya kepada masyarakat sekitar, akhirnya aku menemukan alamatnya. Memang melelahkan, tapi semua itu terbayar setelah bertemu alamatnya. Ternyata itu hanya kos-kosan biasa. Aku menunggu di depan kosnya. Aku tidak punya kontak sosial medianya. Karena dulu sering bertemu dengan janjian tanpa melalui sosial media, akhirnya aku tidak menyimpan kontaknya.

3 jam berlalu, gadis itu akhirnya muncul di hadapanku. Aku begitu riang. Gadis itu tersenyum kecil.

“Hai, ada apa gerangan?” tanyanya dengan lembut.

“Anu … ada sesuatu yang ingin aku katakan,” kataku dengan gugup, tapi aku menekan rasa gugupku.

“Apa?”

Aku menarik nafas dalam-dalam. Aku akan mengatakannya, aku akan mengatakannya. Aku tidak tahu jawabannya, yang penting aku mengatakannya.

“A, a, aku-”

“Aku cinta kamu,” kata gadis itu dengan tiba-tiba. Aku ingin berkata namun terhenti dengan perkataannya. Aku langsung syok, tidak percaya apa yang barusan aku dengar.

“Apa maksudnya?”

“Seperti yang kamu dengar. Aku cinta kamu.”

Mungkin aku terlalu senang, aku akhirnya berubah menjadi kaku seperti kayu. Dan tanpa sengaja pandanganku berkunang-kunang. Dan akhirnya aku tidak sadarkan diri. Mungkin karena terlalu senang hingga akhirnya aku pingsan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here