Aku marah sekali dengan orang tuaku. Entah kenapa orang tuaku mengurusi semua keinginanku. Dikatakan aku tidak dewasalah, aku masih kecillah, dan banyak lagi perkataan mereka yang menusuk hatiku. Aku ini sudah SMA, sudah bisa berpikir. Dan yang terakhir, orang tuaku tidak merestui hubunganku dengan pacarku. Apa salahnya pacarku? Walaupun dia dan aku beda 10 tahun, tapi cinta kami begitu kuat.

Hingga akhirnya aku tidak tahan untuk berdebat dengan orang tuaku lagi. Aku memutuskan untuk melarikan diri. Aku kabur dari rumah. Setidaknya itulah keinginanku, keinginan sesat yang aku sesali.

Aku kabur dari rumah. Aku pikir aku akan menemukan kebebasan. Namun, aku baru sadar. Aku tidak bisa apa-apa jika tanpa orang tuaku. Pada siang hari, aku memang belum menemukan tantangan. Aku masih mempunyai uang yang banyak hasil tabunganku. Aku makan dengan sepuasnya. Namun, dengan cepat uangku habis.

Pada malam harinya, aku bingung mau tidur di mana. Biasanya, aku langsung tidur di kamar. Tapi sekarang aku tidak tahu mau tidur di mana. Ketika aku jalan, tiba-tiba saja ada pemuda yang menggodaku. Dia berkata kalau aku ini cewek nggak baik. Aku langsung berlari sambil menangis.

Pada malam hari ini, aku berpikir. Apakah keputusanku salah? meninggalkan orang tuaku? Aku baru merasakan kasih sayang orang tuaku. Kenapa? Kenapa aku baru merasakannya sekarang?

Sekilas aku terbayang dengan muka orang tuaku ketika memarahiku. Ekspresi mereka bukan menunjukkan muka marah, namun muka khawatir kepadaku. Sebenarnya mereka khawatir, tapi entah kenapa suara mereka meninggi sehingga terkesan marah.

Ayah yang selalu tersenyum ketika aku pulang dari sekolah, dia berusaha keras untuk memenuhi segala kebutuhanku.

Aku melihat ke depan, ada seorang pemuda yang mirip dengan pacarku. Ternyata dia sering main dengan cewek lain. Mungkin, orang tuaku telah memprediksinya, makanya aku tidak boleh pacaran dengan dia. Aku memang sudah bisa berpikir, namun yang mana benar yang mana salah masih abu-abu dalam pikiranku. Aku menyesal telah meninggalkan orang tuaku.

Aku memutuskan untuk pulang. Ketika aku mengetuk pintu, aku melihat muka orang tuaku begitu khawatir. Ketika mereka bersuara, suara mereka meninggi. Kini, aku baru melihat muka khawatir mereka. Setelah mereka selesai bersuara, mereka memelukku. Sungguh beruntung diriku, mempunyai orang tua yang begitu perhatian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here