Pornografi dan Merosotnya Pendidikan Remaja

Beberapa tahun terakhir, perkembangan ponografi di Indonesia terlihat mengkhawatirkan. Kalau dulu, persebaran pornografi harus dilakukan sembunyi-sembunyi, kali ini masih sembunyi sih, tapi menyebar cukup cepat. Salah satu faktornya adalah berkembangnya teknologi internet.

Remaja bahkan orang dewasa sekarang ini semakin gemar mengkonsumsi pornografi. Semakin gencar pemerintah memblokir situs-situs terkait pornografi, semakin hebat pula pecandu pornografi mengakses situs tersebut.

Pornografi sejatinya bisa disamakan dengan narkotika. Membuat kita kecanduan. Sekali saja terjun ke dunia pornografi, untuk lepas dari hal tersebut sangat sulit. Beberapa orang sering merasakan penyesalan ketika mengkonsumsi pornografi, tapi mereka tidak bisa lepas. Hal ini seperti siklus berulang. Konsumsi pornografi, menyesal, konsumsi lagi, menyesal lagi, tanpa henti (Love, T, dkk., 2015).

Tentu saja pornografi ini berkaitan erat dengan merosotnya pendidikan. Bisa kita bayangkan, seharusnya tidak boleh dilakukan tetapi malah dilakukan. Bagaimana dengan perkembangan mental dan belajar anak.

Seperti anak yang selalu berbohong. Dari kecil dia telah terbiasa berbohong. Sehingga dalam pendidikan, lambat laun si anak akan terjun ke dunia contek mencontek. Begitu juga dengan pornografi, lambat laun anak-anak terjun ke dunia tersebut.

Sekolah atau bimbingan belajar bukan lagi mencari ilmu, itu hanya tuntutan nomor dua. Tuntutan pertama adalah bertemu dengan lawan jenisnya. Para remaja menyebutnya dengan istilah pacaran. Namun, gaya pacaran zaman sekarang ini sangat mengkhawatirkan. Terlihat bebas dan hampir mirip dengan dunia barat.

Sepasang remaja, berduaan, di tempat sepi, terbayang dengan tontonan pornografi yang pernah ditonton sebelumnya. Hasrat seksualitas yang sedang gencar-gencarnya. Ketika tidak disalurkan, maka akan menyerang otak.

Ketika rangsangan seksual muncul, maka hormon seks dalam tubuh bergerak cepat. Namun, ketika hasrat seksualitas tidak tersalurkan, maka hormon seks ini akan menyerang otak. Dampak yang paling dirasakan adalah sakit kepala ketika menahan hasrat seksual. Bukan hanya itu saja, hormon tersebut menyerang posterior (otak bagian belakang) yang mengatur mengenai kemampuan berpikir dan logika (Borsook, D, dkk., 2014).

Inilah yang dikhawatirkan dari perkembangan pornografi ini. Sehingga para siswa yang sudah terlanjur mengkonsumsi pornografi seperti memiliki dua pilihan. Menahan hasrat seksual namun berdampak pada kemampuan logika, atau hasrat tersebut disalurkan namun sangat bertentangan dengan norma.

Beberapa siswa ada yang menyalurkan hasrat seksual. Sehingga banyak berita yang kurang enak didengar di beberapa media akhir-akhir ini. Bagaimana rendahnya norma remaja yang mengikuti hasrat seksual.

Beberapa siswa lagi menahan hasrat seksualnya. Sehingga kemampuan berpikirnya menjadi rendah. Mungkin dulu dia mampu menghafal ratusan paragraf hanya satu jam saja. Namun kini, menghafal satu paragraf saja membutuhkan usaha keras.

Bukan hanya kemampuan menghafal saja. Kemampuan berhitung juga menurun darastis. Kurang konsentrasi dan tidak fokus.

Para ahli pendidikan sering menyebutkan bahwa pendidikan di Indonesia merosot tajam menjadi lebih buruk. Mungkin salah satunya karena pornografi ini.

Sebagai remaja memang tidak mudah untuk lepas dari dunia pornografi. Misal satu kelas ada 40 siswa, kemungkinan 20 siswa telah terjangkit pornografi. Seperti kecanduan narkoba, para pelaku pornografi menyebarkan ke temannya yang masih polos.

Pornografi menyebar melalui mulut ke mulut, melalui teknologi, dan itu berkembang pesar. Perkembangan pornografi bukan menyasar bagi mereka yang sudah kecanduan, namun yang masih belum mengetahui pornografi. Hal itu sangat menggiurkan bagi penikmat pemula pornografi (Coopersmith, J., 1998).

Jauhi pornografi adalah jalan terbaik. Ketika mendengar kata pornografi langsung alihkan. Ketika ada pemandangan pornografi, langsung tutup mata. Jangan sampai diri tersentuh.

Bagi yang sudah kecanduan, sebisa mungkin hilangkan kebiasaan tersebut. Tidak mudah memang. Seperti orang yang menghilangkan kebiasaan merokok tidak mudah, begitu juga dengan kecanduan pornografi. Tapi, jika diri ingin menjadi lebih baik, sebaiknya jauhkan dunia tersebut.

Pornografi mampu menurunkan fungsi logika, dan itu berpengaruh besar kepada kemampuan berpikir. Siswa yang telah tererumus pornografi, akan mengalami penurunan dalam kemampuan berpikirnya, baik significant maupun perlahan.

Jauhi pornografi, hidupkan kebiasaan hidup sehat, perkuat iman, maka hidup akan terasa indah dan mudah.

1 COMMENT

  1. Terimakasih… Insight yg luar biasa bagus

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here