Penderitaan Yang Disatukan Oleh Ketulusan (Cerpen)

Mungkin hujan yang sudah keseribu jumlahnya merupakan hujan yang paling berarti untuknya. Seorang perempuan dengan diam, membiarkan dirinya diguyur hujan. Bukan hal yang remeh mengapa dia demikian. Seorang kekasih hatinya, yang selama ini dia perjuangkan, tiba-tiba memutuskan cintanya dengan mudahnya. Bagi perempuan yang begitu mencintai laki-laki, pasti itu sangat terpukul. Seakan, perjuangan selama ini terasa sia-sia. Namun apa yang bisa dilakukan perempuan itu? Marah, kesal, menampar laki-laki itu, mengucapkan kata-kata binatang? Tidak ada satupun yang terjadi. Dia hanya membiarkan dirinya diguyur hujan sambil mengeluarkan air mata. Dia tidak bersuara sedikitpun. Di tengah hujan tanpa bersuara sambil menangis, mungkin beberapa orang tidak menyadarinya bahkan mungkin menganggap dia gila. Namun, satu laki-laki menyadari dia menangis.

Perempuan itu tetap berdiam di tempatnya sambil bermandi air hujan dan laki-laki itu tetap berdiri di tempatnya melihat perempuan itu. Entah kenapa, ketika dia melihat perempuan itu, dia mengingat salah satu lukisan. Lukisan perempuan sedang menangis di saat hujan, menunjukkan kesedihan yang amat mendalam. Dia butuh seseorang yang mengisi ruang hatinya. Buka orang lama, tapi orang baru.

Namun, ketika laki-laki itu ingin melangkah, kakinya terasa berat sekali. Seakan ada kekuatan lain yang menahan dirinya. Mengatakan kalau menenangkan perempuan itu bukan urusannya. Lebih baik dia mengurusi dirinya sendiri daripada perempuan itu.

Namun di sisi lain juga, ada kekuatan besar yang mengatakan harus menenangkan perempuan itu. Itu adalah kekuatan hatinya.

Laki-laki itu mengambil keputusan sepihak. Walaupun kekuatan besar menghadangnya, namun dia tetap pergi menenangkan perempuan itu. Dia membentangkan payungnya, ingin membagi payungnya dengan perempuan itu. Walaupun dia sebenarnya tidak tahu apa yang akan terjadi, apakah perempuan itu akan senang dengan perlakuannya atau tidak.

Laki-laki itu berjalan sambil menarik nafas. Dia berjalan perlahan-lahan mendekati perempuan itu. Semakin dia mendekati perempuan itu, langkahnya semakin berat. Seakan beban yang ada di kakinya semakin berat. Tentu saja jantungnya semakin berdebar.

Jaraknya sudah sangat dekat, dia langsung membagikan payungnya ke perempuan itu. Perempuan itu menyadarinya. Dia mengangkat kepalanya ke atas, melihat siapa yang membagi payung dirinya. Perempuan itu langsung memeluk laki-laki itu. Sebenarnya dia tidak mengenal laki-laki itu, tapi itu tidak dia pikirkan. Yang ada dalam pikirannya adalah tempat bersandar, menangisi semuanya.

***

“Andri, kenapa dirimu selalu terlambat ke kantor sih? Apa salahnya coba bangun pagi?” perempuan itu, ya perempuan yang menangis di tengah hujan itu. Entah kapan, dia menjadi akrab dengan laki-laki yang membagi payung, Andri.

“Sama Lela, pagi itu musuhku. Aku ingin tidur lebih lama lagi,” kata Andri dengan keras. Hal itu dia lakukan agar Lela mendengar suaranya di balik pintu kosnya.

“Kamu buka atau aku dobrak nih?” terak Lela dengan tidak sabar. Mendengar hal tersebut, Andri langsung berlari ke kamar mandi. Mandi, gosok gigi, pakai sabun, setelah itu pakai baju, merapikan diri, dan membuka pintu. Dia sudah berada dalam posisi siap ke kantor.

Lela dan Andri sebenarnya berbeda tempat kerja, namun mereka satu arah. Entah kenapa, sejak kejadian tersebut, Lela merasa ketergantungan kepada Andri. Andri tidak keberatan dengan hal demikian. Seumur hidup, baru kali ini dia berteman dengan perempuan. Entah kenapa tidak ada satupun perempuan yang mau mendekati Andri.

Awalnya lela juga bingung. Lela bingung melihat sikap Andri yang kaku banget di depan dirinya. Dan melihat sekeliling Andri tidak ada teman, apalagi perempuan. Laki-laki juga sih. Andri adalah orang pemurung. Entah kenapa, bakat detektif Lela muncul. Dan akhirnya dia mendapat kesimpulan, tidak ada yang menemani Andri karena Andri itu jelek. Sebenarnya dia tidak jelek seratus persen, namun lingkungan yang mengatakan dia jelek.

Dia berada di tempat orang berada, tempat kerjanya adalah tempat orang berada semua. Dan Andri berpakaian seadanya saja, yang terkesan dia berasal dari keluarga kelas bawah. Hal seperti itulah yang membuat Andri tidak punya teman. Apalagi dirinya yang merupakan introvert, memperparah suasana.

Lela ingin mengubah Andri. Entah kenapa dia berhutang kepada Andri. Dengan perubahan sedikit saja, membuat Lela jatuh ke dalam jurang cemburu. Karena Andri telah berubah, yang awalnya tampan belum diolah, kini menjadi tampan maksimal. Namun, Andri yang awalnya sendirian, dia paham akan keinginan seseorang. Dia memahami, kalau sebenarnya perempuan yang mendekati Andri, tidak tulus mendekatinya.

“Boleh bertanya? Tipe perempuanmu seperti apa?” tanya Lela di tengah padang rumput yang luas. Di kota tersebut ada sebuah taman, dan di taman itu ada padang rumput. Andri sangat suka duduk di padang rumput tersebut. Rasanya, dia melihat dirinya di padang rumput.

“Aku tidak tahu Lela. Selama ini aku tidak pernah berteman dengan perempuan. Jadi, aku tidak tahu tentang tipe atau apapun itu. Selama ini aku jatuh ke dalam jurang kesendirian,” kata Andri dengan serius. Entah kenapa, saat perkataan tersebut, membuat Lela tersadar, kalau selama ini dia cukup bodoh. Dia pikir hidupnya yang hancur, yang sudah beberapa kali patah hati merupakan hal yang paling menyakitkan. Namun ada hal yang lebih menyakitkan daripada itu, yaitu kesendirian.

Lela mengamati Andri begitu dalam. Melihat Andri dengan gagahnya namun menunjukkan ekspresi kesendirian merupakan hal yang terberat bagi Lela. Orang yang telah menyelamatkan dirinya, membutuhkan pertolongan orang lain untuk melepas kesendiriannya.

“Andri, sebenarnya dirimu terluka kan? Terluka yang sangat dalam sampai-sampai kau tidak bisa menjerit karena luka itu.”

***

Hari ini, adalah hari yang spesial. Hari ini Andri ulang tahun. Lela sangat bersemangat untuk merayakannya. Namun, ketika Lela sudah capek merayaannya, membawa Andri ke sebuah café, terus menyuruhnya menutup mata, saat Andri membuka mata, Lela langsung menunjukkan kue ulang tahun sambil berucap “happy birthday”, dan Andri hanya berkata, “Emang siapa yang ulang tahun?”

Sontak saja Lela langsung heran. Seorang manusia yang melupakan hari ulang tahunnya begitu langka.

“Kamu loh ulang tahun.”

“Yang benar?” Andri langsung melihat KTP-nya dan ternyata benar. Namun, setelah melihat kebenaran kalau dia ulang tahun, hanya satu kata yang keluar dari mulut Andri, “Oh.”

Lela langsung sebal tujuh kuadrat. Setelah mereka menyelesaikan urusan di café tersebut, awalnya Lela ingin mengajak Andri ke sebuah taman yang indah di malam hari, namun melihat reaksinya barusan, mengurungkan niatnya.

Sebenarnya Andri memang tidak begitu surprise dengan hari ulang tahunnya. Karena selama bertahun-tahun tidak ada yang merayakannya, sehingga dia tidak tahu apa makna sebenarnya di balik ulang tahun. Orang tuanya juga tidak pernah merayakannya.

Dan langkah Andri berhenti di sebuah taman. Taman yang sudah lama tidak dia kunjungi, karena taman ini begitu ramah, begitu menyilaukan bagi dirinya. Lela juga menghentikan langkahnya, karena sebenarnya dia ingin mengajak Andri ke taman ini. Namun, Andri hanya berhenti saja menatap taman itu. Lela ingin mengajak Andir, dia mengangkat kepalanya, hendak ingin berbicara, namun, mulutnya berhenti berucap. Dia melihat sebuah tatapan kesendirian yang begitu dalam.

Lela langsung menarik tangan Andri, dan berucap, “Ayuk kita ke sini. Ngapain pula hanya menatap saja tanpa ke taman ini.”

Andri menunjukkan sebuah tatapan harapan. Secercah cahaya yang akan menerangi hidupnya. Melihat tatapan tersebut, Lela langsung merasa senang. Sepertinya, dirinya membawa secercah cahaya bagi Andri.

***

Hidup dua tahun bersama Andri, merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Lela. Dia memberikan warna baru bagi hidupnya. Yang awalnya dia tahu mengenai pertemanan, persahabatan, percintaan, hanyalah sebatas kepura-puraan, kejaim-jaiman, dan nantinya akan ditinggalkan, ternyata bersama dengan Andri itu tidak berlaku.

Sudah tidak terhitung lagi berapa kali Lela marah tanpa sebab kepada Andri. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali mereka bertengkar karena urusan sepele. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali mereka berdua kesal satu sama lain. Namun, waktu yang menyembuhkan mereka. Waktu yang membuat mereka untuk saling terbuka, saling memaafkan, dan saling memperbaiki satu sama lain.

Namun, satu hal yang belum jelas mengenai Andri, dan itu memberikan segudang pertanyaan di kepala Lela.

Hanya satu perempuan yang ada di hidup Andri, namun, apa yang dipikirkan Andri mengenai dirinya? Apakah dia tidak menganggap Lela perempuan? Memang akhirnya Lela mengakui dirinya, kalau kenyamanan, warna baru dalam hidupnya memberikan cinta yang baru kepada diri Lela. Dan cinta itu begitu langka, baru kali ini dia rasakan. Ini bukan sekadar cinta ala remaja yang mengedepankan aspek kesenangan semata, melainkan cinta yang akan menerima segala kelebihan dan kekurangan.

Namun, pertanyaan tersebut terbantahkan oleh satu fakta. Di malam hari, tepatnya di taman yang sama saat Andri berulang tahun. Andri berlutut di hadapan Lela dan menunjukkan cincin bermata rugby merah. Melihat hal tersebut, Lela merasa senang banget. Dia tidak bisa menutupi kesenangannya.

Sebuah takdir yang mempertemukan mereka. Yang satu menderita karena manusia, yang satu menderita karena kesendirian. Satu sama lain mengobati masing-masing luka tersebut, dan membawa secercah harapan bagi mereka berdua. Secercah kebahagiaan abadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here