Mungkin Logikaku Sudah Tumpul

Kirim Naskah Novel ke Penerbit

“Aku capek! Sampai kapanpun aku tidak akan mengerti kamu!” kata seorang perempuan kepadaku. Aku hanya diam ditempat. Terlihat jelas kalau dia akan mengeluarkan air mata namun aku tidak dapat berbuat apa-apa.

Dalam hati aku ingin sekali berkata, “Kamu memang tidak akan mengerti karena kita berbeda paham. Dan juga aku tidak akan membiarkan siapapun tahu mengenai diriku!” ingin sekali aku menjerit demikian namun aku tidak sanggup berkata. Mulut ini terasa beku ketika hendak berkata.

Perempuan itu perlahan mundur, langkahnya semakin cepat dan semakin cepat. Kalau diperhatikan dia semakin berlari kencang. Tumben, padahal dia tidak suka dengan olahraga. Namun di saat dia akan menangis, dia mampu berlari secepat itu.

Kini aku mematung bagaikan patung yang tidak tahu berbuat apa-apa. Sejujurnya aku tidak mengerti dengan perasaan orang. Aku selama ini menggunakan logikaku untuk mendekati seseorang. Mempelajari ilmu psikologi merupakan hal yang menarik bagiku. Dengan demikian, aku mampu menebak apa yang orang pikirkan.

Namun ketika aku jatuh cinta, logikaku luntur seketika. Ketika aku berada di dekat dia, semua ilmu yang telah aku pelajari langsung hilang. Ketika di samping dia, tidak lagi berlaku sesuai logika namun sesuai perasaan. Dan di samping dia aku mampu melepaskan topengku. Namun itu juga sebagai bumerang bagiku.

Perempuan itu, perempuan dengan paras cantik dengan wangi vanila. Entah kenapa dia suka sekali dengan wangi demikian, begitu juga denganku.

“Hai, ternyata wangi vanila berasal dari kamu,” kataku basa-basi. Sebelum aku jatuh cinta, aku masih bisa menggunakan logika. Aku sudah tahu kemana arah tujuan pembicaraan saat aku pertama kali bertemu dengan dia.

“Benarkah? Kamu pasti bohong ya?” sudah kuduga kalau dia akan berkata demikian. Dia adalah perempuan yang tidak begitu mempercayai perkataan orang lain. Terkadang sebal juga sih. Beberapa kali aku mengatakan kalau dia itu cantik namun dia tidak percaya. Kalau aku bilang dia jelek dia marah besar.

“Serius loh, itu wangi dari kamu. Aku sudah mencari beberapa orang dengan wangi vanila, hanya kamulah orangnya,” kataku dengan senyum percaya diri. Hal ini membuat dia memberikan tatapan jijik kepadaku.

“Kamu ini normal kan?” jrejeng! Kata-kata itu bagaikan petir di siang bolong. Aku memang sudah menduga kalau dia akan berkata demikian, ternyata sakit juga ya rasanya. Aku memegang dadaku kuat sekali. Rasanya jantung ini memberikan pukulan terbaiknya di dadaku.

“Kamu kenapa? Sakit jantung? Masih muda sudah sakit jantung!”

“Dadaku berdebar kencang tahu! Seolah ada perasaan yang akan hinggap di sini,” dan itulah awal pertama kali aku tidak menggunakan logika. Perkataan itu langsung keluar dari mulutku. Aku juga sedikit terkejut di kala itu.

***

Hari minggu, adalah hari yang pas untuk tidur satu harian non-stop. Tugas dan belajar di perkuliahan menghabiskan seluruh kemampuan otakku. Kini otakku butuh yang namanya dicharger. Cara mengisi ulang otak dengan cara tidur.

“Tapi nggak sampai tidur satu harian juga kali!” teriak mama kepadaku tepat di telinga kananku. Aku langsung terkejut dan seketika itu juga aku bangun, kesadaranku langsung penuh seratus persen. Aku memegangi telinga kananku karena sakit. Mungkin telinga kananku juga tidak siap mendengar omelan mama.

Mama mengomel pada siang hari itu. Rasanya mama mengomel satu jam lebih. Aku hanya mendengarkan dengan penuh senyuman. Di akhir omelan, mama menarik keras telinga kananku seraya berkata, “Kalau mama bicara itu dengarin bukan mengkhayal!”

Aku masih belum percaya, ada seorang perempuan yang mampu melunturkan logikaku. Semalaman aku asyik memikirkan tentang dia. Bahkan aku berusaha untuk mencari akun social media dia juga. Beruntung aku menemukannya, aku perhatikan status yang dia tulis. Aku analisa dan aku simpulkan kepribadian dia.

Ketika aku mendapat kesimpulan mengenai kepribadian dia, aku akan mengajak dia bicara lagi. Aku yakin aku akan berbicara sesuai logika. Logikaku tidak akan kalah oleh perasaan. Dan beruntungnya aku, pada hari Senin tanpa sengaja aku bertemu dengan dia di halte bus. Tunggu dulu! Berarti rumah kami searah dong?

“Hay,” sapaku basa-basi.

“Ada apa? Kamu mau merayuku lagi? Kali ini apa yang berdebar?”

“Enak aja merayu kamu. Aku hanya ingin kenalan kok. Namaku ̶.”

“Tidak perlu,” potong perempuan itu. Dia bekata dengan sinisnya. Aku langsung terdiam di tepat. Diam seperti patung, mungkin seperti itulah keadaanku waktu itu.

Bus datang dan aku hanya mematung saja. Perempuan itu naik bus tanpa memandangku sedikitpun. Setelah dia pergi sekitar tiga puluh menit, barulah aku tersadar.

Aku memaki diriku sendiri. Kenapa aku tidak bisa menghadapi perempuan itu. Padahal aku telah menyimpulkan kepribadian dirinya. Percuma dong aku capai kuliah psikologi kalau tidak mampu memahami dia.

Bus datang dan aku menaikinya. Tapi sialnya, hari ini aku datang telat dan dosen yang mengajar adalah dosen paling killer. Sial banget deh, tahun depan aku bakal mengulang mata kuliah ini. Sudah yakin aku tidak lulus.

“Hay, gara-gara kamu aku terancam tidak lulus, tahu nggak!” kataku kepada perempuan itu di kantin. Aku tahu kalau dia fakultas FMIPA dan aku tahu kalau dia tidak suka disalahkan. Dia pasti akan merasa bersalah.

“Serius? Maaf ya?” katanya dengan nada bersalah. Seharusnya aku berkata, “Hahaha, makanya tanggung jawab,” kenyataannya justru aku berkata, “Eh, nggak apa-apa kok. Aku yang salah.” What? Ada apa denganku!

Aku sudah tidak mengerti lagi. Logikaku kalah bila di samping dia. Dan pada hari itu aku berencana untuk terus di samping dia. Mungkin aku akan mendapatkan data penting kenapa aku tidak bisa menggunakan logika. Sekilas aku mengerti penyebabnya, karena aku jatuh cinta, namun aku berusaha menolah kenyataan tersebut.

Bulan demi bulan dilalui, tidak terasa hubungan kami semakin dekat dan aku semakin tidak bisa mengerti kenapa aku tidak bisa menggunakan logiku, alias aku semakin menolak kenyataan aku jatuh cinta. Hingga tanpa sadar aku menyatakan perasaaanku kepadanya. Beruntung dia menerima cintaku. Ketika dia menerima cintaku, aku hanya terdiam bagaikan patung. Pada malam harinya aku berbunga-bunga.

***

Aku menunggu, aku menunggu dia membuka pintu rumahnya. Setelah dia berlari dari hadapanku, setelah aku tidak lagi mematung, aku memutuskan untuk ke rumahnya. Aku ingin meminta maaf. Aku ingin berkata kalau kita adalah orang yang berbeda.

Namun dia tetap tidak membuka pintu rumahnya. Ibunya merasa kasihan kepadaku namun beliau menyerahkan segala keputusan kepada anaknya. Beliau terkadang memandangiku namun hanya sekadar memandangiku saja. Trkadang aku melihat beliau tersenyum.

Malam hari, tepatnya pukul sepuluh malam aku masih berdiri mematung. Tanpa sadar aku sudah enam jam mematung. Kenapa bisa? Seharusnya aku tidak akan tahan mematung selama enam jam.

“Kenapa kamu masih berdiri di depan rumahku?” kata perempuan itu. Dia akhirnya membuka pintu rumahnya. Terlihat jelas kalau matanya sembab habis menangis.

“Aku tidak mengerti, aku juga tidak mengerti. Entah kenapa untuk pertama kalinya aku melakukan sesuatu tanpa logika. Aku mengikuti perasaanku,” kataku lirih. Entah kenapa rasanya air mata ini hendak keluar ketika aku menjelaskannya.

“Kenapa? Kenapa kamu lebih percaya logika? Berarti selama ini kamu bohong?”

“Aku tidak bohong. Aku hanya jujur bila bersamamu. Aku hanya menunjukkan sikapku kepadamu seorang saja, tentu saja selain keluargaku. Kamu pasti merasakan hal yang aneh dari sikapku. Kamu melihat diriku berbeda dari biasanya. Kamu melihat diriku ini begitu cuek, padahal dilihat dari luar aku perhatian. Kamu melihat diriku ini pendiam, padahal yang dilihat dari luar aku periang. Kamu melihat diriku ini tidak romantis, padahal dilihat dari luar aku begitu romantis. Inilah diriku yang sesungguhnya,” hingga tanpa sadar air mataku jatuh.

Perempuan itu hanya mematung. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena kepalaku kini tertunduk lesu. Namun sebuah tangan halus nan lembut memegangi pipiku.

“Jangan paksakan dirimu menjadi orang lain. Cukup menjadi dirimu sendiri bila bersamaku,” itulah kata-kata lembut dari perempuan yang telah mencuri hatiku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here