Misteri Tanah Perantauan (Cerpen Horor)

selamat ulang tahun horor

Di sebuah kota yang besar nan luas, dengan segala kemegahan yang ditampilkan. Banyaknya manusia yang berjalan maupun berkendaraan. Sekilas merupakan kota impian. Namun, itu bukanlah kota impian melainkan kota menyesatkan. Karena di kota ini tersimpan sebuah rahasia. Rahasia yang berpuluh-puluh tahun tersembunyi dan telah memakan korban. Para pemerintah berusaha menutup mulut para saksi mata karena tidak ingin kota mereka terlihat buruk.

Salah satu yang akan menjadi korban adalah Radit. Dia telah lulus di salah satu perguruan favorit kota tersebut. Dia sangat senang dengan kabar tersebut. Dia telah belajar secara maksimal supaya lulus. Namun, dia tidak menyadari kalau keputusannya untuk merantau merupakan kesalahan yang sangat besar.

“Ma, pa, Radit akan pergi besok. Mohon doa restu ya,” kata Radit dengan penuh sopan santun. Sudah menjadi kebiasaan keluarga mereka untuk berkumpul pada malam harinya sambil bercerita mengenai keseharian mereka.

“Pergilah Radit, pap akan selalu mendukungmu,” papa Radit terlihat tegar sekali. Dia tidak terlihat sedikitpun menangis. Walaupun dalam lubuk hati papanya, tersirat kesedihan yang sangat dalam. Karena delapan belas tahun mereka telah menyaksikan anak semata wayang mereka tumbuh, belum pernah berpisah seharipun. Kini harus berpisah dalam waktu yang lama.

“Iya, Radit. Pergilah, pergilah dengan damai,” mama Radit tidak kuasa menahan air matanya.

“Iya mama,” teriak Radit sambil menumpahkan air matanya juga. Dia juga awalnya berusaha untuk menahan air mata. Karena pantang bagi lelaki untuk mengeluarkan air mata. Namun pertahanannya jebol setelah melihat mamaknya mengeluarkan air mata.

Melihat adegan mama dan anak menangis, akhirnya pertahanan papa Radit jebol juga. Papa Radit berteriak, “Selamat jalan anakku, jangan pernah lupakan kami,” sambil mengeluarkan air mata.

Kejadian yang penuh dengan drama air mata itu terjadi semalam suntuk. Hingga akhirnya mereka mampu menenangkan diri dan pergi ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Besok paginya, Radit pergi dengan gagahnya.

***

Perjalanan ke kota tersebut penuh dengan jalanan berlubang. Entah sudah berapa lubang yang harus dilewati sopir namun tetap harus dilakukan. Entah kenapa jalanan tersebut tidak pernah diperbaiki. Salah, jalanan itu selalu diperbaiki setiap tahun, namun, entah kenapa selalu saja muncul lubang. Banyak yang menyalahkan pemerintah, namun, benarkah seluruhnya kesalahan pemerintah?

Enam jam perjalanan merupakan perjalanan yang sangat melelahkan. Akhirnya sampai juga ke kota tersebut. Pertama kali yang Radit lihat adalah gedung yang menjulang ke angkasa. Lehernya saja sampai sakit menatap ke atas. Untuk ukuran masyarakat desar, pemandangan tersebut merupakan pemandangan yang mengagumkan.

Lalu Radit melihat burung besi. Suaranya memang bising, membuat polusi udara di mana-mana. Hal ini karena hari ini cuaca agak mendung, sehingga burung besi tersebut tidak ada pilihan selain terbang rendah. Namun, suara bising tersebut merupakan kekaguman bagi Radit.

Hingga akhirnya Radit menemukan tempat tinggalnya. Tempat tinggal yang bisa dikatakan sederhana. Hanyalah sebuah kamar kosong yang tidak diisi apapun. Kamar mandi di luar dia pilih, mengingat dirinya memang tidak bisa membersihkan kamar mandi. Untuk malam pertama di kota tersebut, berjalan dengan damai. Bahkan, Radit masih bisa bermimpi. Namun, bukan mimpi baik yang dialami Radit, namun mimpi buruk.

Di dalam mimpi Radit bertemu dengan perempuan berambut hitam panjang dan memakai pakaian Kimono. Perempuan itu terlihat sangat anggun dan bersahaja. Melihat pemandangan tersebut, Radit hanya bisa berdiam sambil memandangi perempuan itu. Lagian, itu hanya mimpi dan Radit tidak bisa menggerakkan tubuhnya.

Namun, perempuan itu semakin memudar, seolah-olah perempuan itu adalah bayangan. Radit hanya diam saja melihat pemandangan tersebut. Setelah perempuan itu hilang sepenuhnya, seluruh ruangan berubah. Awalnya yang berwarna putih, kini berubah menjadi hitam disertai dengan coretan merah. Coretan tersebut tertulis, “Kini giliranmu!”

Radit sedang asyik memandangi coretan tersebut, tiba-tiba muncul sesosok muka yang sangat mengerikan. Dan itu sukses membuat Radit terbangun dari tidurnya. Dia sangat terkejut dengan mimpi tersebut.

“Ah ….! Ternyata mimpi toh. Kirain benaran,” teriak batin Radit. Baru kali ini dia merasakan mimpi demikian. Dan rasanya mimpi tersebut sangat nyata. Dia melihat jam dinding, masih menunjukkan pukul tiga pagi. “Baiklah, saatnya tidur,” namun, ketika dia membaringkan dirinya, sekilas dia melihat sesosok perempuan dengan muka yang sangat mengerikan di langit-langit bangunan. Sontak saja membuat mata Radit langsung melotot.

Entah kenapa bulu kuduk Radit berdiri. Jika bulu kuduk berdiri, itu menandakan sesuatu yang mengerikan. Bisa jadi di belakang tubuhnya ada sesosok bukan manusia. Namun, karena Radit baru pertama kali merasakan ini, dia hanya diam saja.

“Alah, apakah ada setan di sini? Kalau benaran ada setan, kenalan dong, mumpung aku mau ketemu setan, siapa tahu kodoh,” kata Radit dengan polosnya.

“jodoh ndasmu!” tiba-tiba kepalanya dipukul seseorang. Pukulan tersebut sangat kuar sehingga membuat Radit jatuh pingsan.

***

“Ah … aku terlambat!” ketika Radit membuka matanya dan melihat jam dinding, dia langsung terkejut. Dia sudah terlambat dua jam. Untuk ukuran mahasiswa polos, terlambat dua jam merupakan cobaan yang sangat berat. Dia langsung beraksi, memakai pakaian rapi, merapikan rambut, menggunakan parfum yang banyak, dan mengambil tas. Setelah itu mengunci pintu dan berlari menuju kampus.

Yang namanya terlambat ya terlambat. Setiba di kampus, Radit melihat tidak ada satu pun orang. Eh? Apa yang terjadi? Ke mana orang-orang?

Entah kenapa, langit menjadi hitam, tidak ada satu pun sinar matahari yang masuk. Seharusnya ini siang hari dengan matahari yang terik, namun keadaan sekarang seperti malam.

Tiba-tiba saja di sudut bangunan, samar-samar Radit melihat seseorang berjalan. Namun, jalannya sempoyongan, mirip jalan orang mabuk. Insting Radit mengatakan kalau dia tidak boleh berinteraksi dengan orang tersebut. Justru insting Radit mengatakan kalau dia harus berlari secepat mungkin.

Radit mengikuti instingnya. Dia berlari menjauhi orang tersebut. Namun, di depannya muncul lagi orang yang sangat aneh. Dia botak dan muka yang penuh dengan darah. Giginya yang kebanyakan tidak ada namun, gigi tarinya begitu tajam. Dia bergerak cepat ke arah Radit, Radit begitu terkejut sehingga dia refleks mengeluarkan jurus beladirinya. Dengan sekali jurus, orang tersebut terbaring tidak berdaya.

“Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?” itulah yang ada di pikiran Radit. Dia tidak tahu apa yang terjadi. Kenapa seluruh orang berubah menjadi zombie?

“Kau tidak tahu kebenarannya. Sebenarnya kota ini membutuhkan tumbal,” tiba-tiba saja di samping Radit muncul sesosok perempuan. Perempuan tersebut mirip dengan perempuan yang ada di mimpinya.

“Siapa kamu?” tanya Radit bingung, “Dari mana dia muncul?” teriak Radit dalam hatinya.

“Kau tidak usah tahu siapa aku. Yang pastinya kamu akan berakhir hari ini. Mulai sekarang, jadilah zombie yang berkualitas ya. Zombie yang vegetarian saja, jangan jadi zombie karnivora.”

“Aku tidak peduli zombie apapun itu. Yang pastinya aku ingin hidup sebagai manusia!” teriak Radit kepada perempuan itu.

“Huh, terserah kau deh. Aku sudah memberiaknmu petunjuk. Oh ya, satu petunjuk lagi. Kalau kau berhasil keluar dari area kampus ini tanpa sedikitpun digigit zombie, maka kamu berhasil keluar hidup-hidup. Mungkin, kau akan kembali ke duniamu,” kata perempuan itu dan setelah itu dia menghilang.

Dari awal Radit sudah menyadarinya, perempuan itu bukanlah manusia. Karena kakinya tidak menyentuh tanah. Namun, bukan itu yang dia permasalahkan. Perempuan itu sudah memberinya petunjuk, berarti dia harus keluar dari tempat ini. Tapi … bicara sih gampang, namun mau keluar sangat susah. Karena Radit telah dikelilingi zombie.

“Baiklah kalau begitu,” Radit langsung menghitung aba-aba. Dia menghitung angka satu, dua, dan tiga! Dia langsung berlari menembus gerombolan zombie. Beruntung Radit belajar parkour, sehingga dia sangat gesit. Para zombie terlihat kewalahan mengikuti lari Radit.

Radit berhasil kabur dari kawanan zombie, namun dia sepertinya masuk ke lubang buaya. Karena dia sekarang sudah berada di atap gedung kampus, dia memang sudah menutup pintu jalan satu-satunya menuju atap kampus. Namun, tidak ada lagi jalan lain.

“Jadi, kau sudah terjebak? Para zombie sebentar lagi akan berhasil menembus pintu tersebut, dan kau tidak bisa kabur. Hanya bisa memilih, lompat yang berakhir kematian, atau digigit zombie berakhir dengan menjadi zombie,” tiba-tiba saja perempuan itu muncul di samping Radit.

“Ada satu lagi pilihan lain,” kata Radit dengan sangat serius.

“Apa itu? Bukannya tidak ada jalan lain lagi?”

“Wahai perempuan yang cantik, maukah kamu menjadi pacarku?” kata Radit sambil berlutut di hadapan perempuan itu.

“Apa? Bodoh!” teriak perempuan itu sambil memukul keras kepada Radit. Pipi perempuan itu memerah dan dia pun menghilang.

“Yah … sepertinya aku ditolak lagi. Kalau tidak salah, aku sudah ditolak 50 kali,” kata Radit dengan sangat pelan. “Yos, sekarang aku harus menyelamatkan diri,” Radit mundur ke belakang sebanyak tujuh langkah. Setelah itu dia berlari cepat dan langsung melompat dengan gaya parkour. Tujuan Radit adalah mencapai pohon, karena jika dia mendarat ke pohon dan mencapai ranting, lalu dia terjatuh dan membentur ranting demi ranting, itu tidak akan membunuhnya. Dan itu berhasil Radit lakukan. Beruntung dia tidak mengalami luka yang cukup parah.

Seluruh zombie berkumpul di kampus, para zombie tidak ada yang di dekat Radit. Radit langsung berlari ke luar kampus, ketika dia melewati pagar kampus, tiba-tiba dia sudah berada di pinggir jalan. Suasana yang tadinya gelap, kini terang benderang. Tadi tidak ada orang yang lalu lalang, kini banyak yang lalu lalang.

Ternyata Radit berhasil keluar dengan selamat. Dia memutuskan untuk kembali kamarnya untuk mengobati luka-lukanya.

“Akhirnya, ada juga yang selamat dari tempat tersebut, huhuhu … melihat dirinya, sepertinya ada harapan bagi kota ini. Mungkin, dirinya mampu menyelamatkan kota ini dari kehancuran,” teriak perempuan itu dari atap gedung. Bola matanya, menunjukkan secercah harapan.

Kota yang memiliki sisi gelap yang sangat rahasia, mungkin, suatu hari kegelapan tersebut akan memudar dan berganti dengan cahaya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here