Menulis Karena Terpaksa Hasilnya pun Terpaksa

Mungkin ada sebagian orang menganggap kalau dia tidak erat kaitannya dengan menulis, sehingga judul ini tidak cocok untuk dia. Sejujurnya, judul ini sebagian besar untuk para mahasiswa yang sedang menyelesaikan studi. Bisa jadi untuk mengerjakan makalah, karya ilmiah, essay, atau skripsi.

Menulis bukan diperuntukkan untuk menulis novel saja. Banyak yang tidak menyadari kalau sebenarnya menulis makalah itu termasuk kegiatan menulis. Iya sih, mungkin banyak dari kita menulis makalah hanya copy paste doang sehingga tidak terasa menulis. Bahkan ada nih, karya ilmiah untuk perlombaan pun menggunakan teknik copy paste, palingan hanya menerjemahkan sedikit saja yang ditulis sendiri.

Ketika ada tugas makalah dari dosen, rasanya itu malas sekali mengerjakannya. Sehingga apa yang dilakukan, menunda terus menunda. Padahal kalau dipikir-pikir satu hari sudah selesai mengerjakan makalah. Terbukti, ketika beberapa jam lagi makalah tersebut hendak dikumpul, selesai juga tuh makalah.

“Ngapain dikerjakan dengan benar tuh tugas, dibaca saja tidak.”

Hehe, kadang ada juga sih yang berpikir seperti ini, saya juga berpikir seperti itu sih. Tapi kan tidak semua dosen seperti itu. Takutnya ada dosen yang serius, wah … bakal bahaya nih tugas.

Kalau menulis dikerjakan dengan ikhlas, rasanya tugas tersebut terassa kurang sempurna. Ada yang ingin diperbaiki lagi dan lagi. Merevisi apa yang kita tulis bukan lagi pekerjaan yang sulit, karena kita ingin mengerjakan yang terbaik.

Maka tidak heran, ada kita lihat beberapa mahasiswa, yang mengerjakan tugas dia kerjakan dengan sungguh-sungguh. Bahkan rela begadang walau keadaan tidak kepepet. Hasilnya juga didapat maksimal, bahkan terlalu maksimal.

Kadang beberapa orang berpikir, “Apa gunanya mengerjakan tugas secara maksimal, toh yang dilihat nanti pengalaman kerja bukan nilai,” iya, yang dilihat pengalaman, tapi sebagai fresh graduate nantinya, yang belum pernah pengalaman, yang dilihat nilai juga.

Menulis itu sulit

Iya, itu memang benar, menulis itu sulit. Makanya semakin terkenal dan banyak variasi mengenai teknik copy paste. Karena dengan teknik tersebut, kita tidak usah berpikir, tulisan selesai dengan cepat.

Kalau misalnya sekarang ada tools untuk mengecek copy paste, pasti bisa lolos juga. Semakin berkembang tools mengecek copy paste semakin berkembang juga teknik copy paste. Hal tersebut memang tidak bisa dihindari.

Menulis satu paragraf saja itu sangat sulit. Memikirkan bagaimana cara memulai sebuah tulisan, bahkan memilih kata yang tepat, itu semua sangat sulit.

Tidak heran, hanya mengerjakan satu tulisan saja yang panjang tulisannya tidak sampai satu halaman, membutuhkan waktu satu harian. Itulah gambaran menulis itu sulit. Jadi, kalau menulis itu sulit, apakah harus menyerah? Sedangkan kita dalam keadaan harus menulis demi masa depan.

Tentu saja tidak bukan? Kalau menyerah maka berhentilah perjuangan Anda. Kita harus terus menulis dan menulis. Mengeluarkan semua kemampuan agar tulisan kita maksimal, yang nantinya membuat bangga siapapun yang menilai tulisan kita.

Ibarat kata nih, kalau menulis terpaksa nilainya pun terpaksa, nilai standar.

Kalau menulis dengan sungguh-sungguh maka nilainya pun sungguh-sungguh, nilai di atas rata-rata.

Menulis itu sulit jadi jangan menyerah

Kesimpulan

Menulis itu memang sulit, jadi jangan menyerah. Karena beberapa teman menggunakan copy paste menyelesaikan tulisannya, sebaiknya kita jangan lakukan itu. Kalau terpaksa pun, hanya 20% saja copy paste, selebihnya kita yang tulis.

Memang sih, hasilnya tidak dilihat langsung, namun ketika kita dihadapkan pada pekerjaan yang sesungguhnya, maka akan langsung terasa kegunaan dari menulis tersebut. Banyak banget pekerjaan yang erat kaitannya dengan menulis.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here