Membuka Cinta Baru (Cerpen)

cinta baru

Aku dan dia telah bersama sepanjang tahun. Mengucap janji setia, namun, janji hanyalah sekadar janji. Janji itu akan terlihat sampah jika tidak ditepati. Dan aku melihat sampah tersebut.

Aku seorang wanita penyendiri. Sehari-hari hanyalah menyendiri. Sejujurnya aku tidak suka dengan keramaian. Aku tidak suka menjadi orang lain. Menjadi diri sendiri itu lebih baik menurutku.

Namun, cinta mampu mengubah hal tersebut. Cinta mengubahku menjadi orang yang senang berinteraksi. Berusaha sekuat tenaga untuk memberikan kesan yang mendalam.

Dan cinta juga mengkhianatiku. Cinta menjanjikan segala keindahan yang menyilaukan, namun keindahan itu hanyalah fatamorgana. Terlihat indah dari kejauhan, namun sejatinya sangat gersang.

Sekarang, ketika cinta telah mengkhianatiku, aku bukan lagi orang yang sama. Wanita penyendiri tidak lagi melekat di dalam diriku. Sekarang, aku menjadi wanita yang penuh dengan semangat, berusaha untuk berinteraksi dengan orang baru, dan menggunakan topeng.

***

Aku, adalah pria yang menyedihkan. Padahal aku tidak merasakan pengkhianatan cinta. Hanyalah cinta bertepuk sebelah tangan. Aku tidak sempat mengejar dirinya, aku hanya melihat dari kejauhan. Hingga aku menyadari kalau apa yang kulakukan ini salah. Aku membiarkan pria lain untuk memilikinya. Di mulut aku tersenyum lebar, namun di hati aku menjerit keras.

Setelah cinta bertepuk sebelah tangan, aku menjadi pemuda yang menyendiri. Aku mengurung diri. Bukan saja mengurung diri, namun juga menutup hatiku.

Aku menutup hatiku hingga waktu yang lama. Sampai-sampai aku tidak sadar kalau aku telah menutup hatiku.

Namun, kehadiran seorang gadis yang ceria mengubah diriku. Iya, diluar terlihat sangat ceria. Tapi entah kenapa aku tahu, kalau di dalam hatinya dia menjerit keras.

***

“Kenapa kamu selalu murung gitu sih? Padahal kamu tuh ganteng banget.”

“Sama, kenapa kamu bisa gembira tuh sih. Padahal kamu tuh jelek banget.”

“Siapa yang jelek?” tiba-tiba wanita itu bangkit. Dia tidak terima kalau dibilang jelek. Memang, dia tidak jelek sama sekali. Dia sangat cantik, namun aku gengsi mengatakannya.

“Ya kamulah,” kataku bercanda dan wanita itu memukul lembut pundakku. Mungkin dia geram melihat bercandaku.

Sudah dua bulan aku dan wanita itu berkenalan. Dan hubungan kami semakin dekat. Aku ingat, kapan kami memakai perkenalan singkat. Perkenalkan yang membuatku rindu setengah mati kepadanya.

***

Aku melihat pemuda yang murung banget. Dia suka sekali duduk di pojok bangunan tua. Rasanya bangunan tersebut tidak pernah dirawat. Jika dilihat dari kejauhan, pemuda itu mirip dengan penunggu bangunan tersebut.

Seketika itu juga aku mengingat diriku sebelum berubah. Sialan, ketika mengingat diriku yang dulu, jadi ingat deh mantan, mantan terindah dan terburuk.

Lebih baik aku tidak mendekatinya. Ini demi keselamatan jiwaku. Aku berjalan seolah-olah tidak melihat dirinya.

Namun, tingkah pemuda itu mampu menggerakkan hatiku. Pemuda itu menatap tumbuhan dengan konsentrasi penuh. Entah apa yang dia lihat. Lalu dia mengeluarkan buku catatan dan pulpen. Dia menulis apa yang dia lihat. Kalau dia menggambar masih. Isa ditolerir. Namun ini bukan menggambar, tapi menulis rumus-rumus tidak masuk akal.

Aku mengetahui dia menulis rumus tidak masuk akal karena aku mengikuti pergerakan pulpennya. Aku cukup terampil untuk menebak apa yang ditulis dengan gerakan pulpen.

Lalu pemuda itu menatap kotoran kucing. Ok, ini sudah keterlaluan. Dia menatap dengan konsentrasi penuh lalu menulis rumus tidak masuk akal.

Batas toleransiku sudah habis. Aku tidak bisa membiarkannya berbuat lebih aneh lagi. Aku harus menghentikannya. Aku langsung berjalan ke arah pemuda itu. Berjalan dengan penuh tergesa-gesa.

“Hei, kenapa kamu menatap sesuatu yang aneh?”

“Maksud kamu? Aku aneh menatap bunga?”

“Kenapa tidak menatap wanita saja?” pemuda itu menatapku dengan tatapan tajam. Tatapan itu mirip dengan tatapan om-om mesum.

“Apa yang kamu tatap?”

“Aku sedang menatap cewek jelek di depanku.”

Ok, aku akui kalau aku tidak suka dikatakan jelek. Karena sang mantan memutuskan akan dengan alasan aku jelek. Padahal, sebelumnya dia mengatakan kalau aku cantik. Aku langsung memarahi pemuda itu tanpa henti. Setiap kata yang kuucapkan membentuk melodi yang indah, mirip dengan musik RAP.

Setelah selesai aku memarahinya, pemuda itu justru tersenyum lebar. Rasanya dia tidak merasa bersalah.

“Ternyata kamu cantik ketika marah.”

Kata-katanya mungkin tidak jujur. Namun, kata-kata itu mampu membuat hatiku bergetar hebat.

***

Ini sudah tiga bulan aku bertemu dengannya. Rasanya, aku sudah mengerti dengan hatiku. Aku telah menetapkan hatiku.

Aku akan menembaknya, aku akan mengutarakan cintaku kepada wanita itu. Aku yakin kalau hatiku telah berhasil move on. Aku yakin kalau kisah cintaku ini tidak sama dengan kisah cintaku yang lalu, semoga saja.

Aku meminta wanita itu untuk ketemuan di tempat yang kutuju. Aku memilih tempat ini karena murah tanpa modal. Aku mengajaknya ketemuan dia taman.

Namun, ketika aku mengutarakan perasaanku, wanita itu serta merta menolakku. Sebenarnya bukan menolak sih. Dia hanya berkata, “Kalau serius, tembak aku dihadapan orang tuaku.”

Satu minggu kemudian aku menembaknya di hadapan orang tuanya. Orang tuanya seketika itu kaku bagaikan patung.

“Kenapa kamu menembakku di hadapan orang tuaku!”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here