Masalah Sepele Tapi Menyebalkan Menjadi Freelance

Masalah Sepele Tapi Menyebalkan Menjadi Freelance

Menjadi freelance memang memberikan keuntungan di satu sisi dan memberikan kerugian di satu sisi juga. Apalagi tuh, menjadi freelance dikira orang banyak tidak mempunyai pekerjaan. Atau bahkan bisa disebut kita memelihara tuyul karena dianggap tidak bekerja tapi ada saja uang mengalir. Hehe, banyak sih masalah sepele tapi menyebalkan menjadi freelance.

Ada banyak alasan mengapa memilih menjadi freelance. Ada memang karena minat dia memang di sini, ada juga yang mencari penghasilan tambahan. Kalau mencari penghasilan tambahan sih masih ada pekerjaan tetap di luar sana. Bagaimana kalau full time menjadi freelance.

Masalah Sepele Tapi Menyebalkan Menjadi Freelance

Nah, berikut adalah masalah sepele tapi sebenarnya menyebalkan banget menjadi freelance. Ada yang pernah mengalami hal tersebut?

1. Disangka tidak bekerja

Nah ini nih yang menjadi masalah sepele tapi bisa menjadi masalah utama. Ketika pikiran sedang berpikir keras. Di depan layar komputer sedang mengerjakan desain dari klien. Berjam-jam sudah di depan komputer. Ketika sudah selesai, kirim ke email klien. Eh tidak tahunya ada revisi. Revisi lagi deh, revisi lagi, revisi lagi sampai desain yang diinginkan tercapai.

Badan sudah lelah, bayaran sudah datang, ingin rasanya istirahat. Eh tiba-tiba tetangga pada berkata, “Cari kerja sana! Jangan menjadi pengangguran!” eh, ada pahit-pahitnya gitu ketika tetangga berkata demikian.

Memang sih, dari luar seperti tidak bekerja. Hanya memandangi komputer satu harian penuh tanpa keluar rumah. Kerja kan identik dengan keluar rumah plus menggunakan pakaian rapi. Nah ini, jangankan pakaian rapi, sepertinya mandi saja belum.

Memang kadang anggapan “tidak bekerja” yang terdengar di telinga para freelance tidak lagi dihiraukan. Tapi kadang sakit juga loh kalau dikatakan demikian. Padahal kan aslinya bekerja, kerja keras lagi.

Kadang ada tuh bisik-bisik tetangga, “Eh si dia itu tidak pernah bekerja ya? Tapi kok bisa membeli rumah? Terus kehidupannya makmur lagi. Jangan-jangan dia memelihara tuyul,” ok kalau ini sih telinga panas banget mendengarnya. Ingin rasanya menemui tetangga terus menjelaskan pekerjaan yang dilakukan. Ada sih tetangga yang mengerti, tapi banyak banget tetangga yang tidak mengerti.

2. Suasana rumah berisik

lelah bekerja

Hoho … coding ini susah nih. Pikiran fokus untuk mengerjakan coding yang mampu memecahkan kepala. Seharusnya suasana tenang sehingga konsentrasi menjadi fokus untuk pekerjaan.

Tiba-tiba ada suara, “Huhuhu,” anak menangis tanpa sebab. Suaranya kuat pula lagi. Istri sih berusaha menenangkan, seharusnya sih tidak begitu terganggu dengan suara anak. Tapi bagaimana, anak sendiri menangis tentu saja perasaan si ayah tidak enak. Langsung deh si ayah menemui anaknya, membelai anaknya, menenangkannya.

Setelah anaknya tenang, si ayah kembali ke meja kerjanya, menatap layar komputer. Dan pada akhirnya, dia tidak bisa konsentrasi. Karena tadi konsentrasinya pecah. Yang ada dalam pikiran ayah ingin bermain bersama anaknya.

Atau seperti ini, sedang asyik-asyiknya mengerjakan desain dari klien. Eh tidak tahunya ada tamu. Seharusnya sih bisa diabaikan tuh tamu. Biarkan saja istri yang melayani. Tapi kan tidak sopan. Terpaksa deh melayani tamu, dan pada akhirnya pekerjaan terbengkalai.

3. Internet lambat atau listrik tiba-tiba padam

Internet dan listrik erat kaitannya dengan pekerja freelance. Internet adalah ladang untuk mencari pekerjaan. Internet butuh listrik, kalau tidak ada listrik tidak bisa internet. Artinya tidak bisa mencari pekerjaan atau bekerja.

Lagi asyik-asyiknya nih mengerjakan coding. Sembilan puluh persen akan selesai. Tiba-tiba lampu padam. What? Belum di simpan lagi. Rasanya tuh, “Uhhhh,” sebal-sebal tidak bisa dikatakan.

Atau pas pekerjaan telah selesai, ingin mengirimkanya ke klien. Eh tiba-tiba internet menjadi lambat. Padahal yang akan dikirim ukurannya tidak sampai 10 MB. Namun itu membutuhkan berjam-jam. “Ahhhhh,” rasanya sebal banget deh.

Eh, usut punya usut, internet lambat karena si anak keasyikan main game online dan istri keasyikan streaming drama Korea. “Ahhh,” kenapa seperti ini! Sebal-sebal-sebal.

Pokoknya kalau internet lambat atau listrik tiba-tiba padam adalah masalah sepele sih sebenarnya. Namun hal tersebut membuat si pekerja freelance sebal setengah abad. Maunya itu listrik 24 jam nonstop dan internet kencang. Kalau bisa kecepatan internet 100 GB per second, hehe.

4. Pekerjaan tidak bergengsi

Bagi orang lain tuh, pekerjaan bergengsi itu adalah pekerjaan di gedung tinggi nan ber-AC. Menggunakan jas, sepatu kantoran, serta rambut rapi penuh dengan kilat. Gaji pokok tinggi banget belum lagi tunjangan. Mempunyai bawahan yang setia mengikuti perintah.

Eh, yang ada si pekerja freelance, sudah bekerja di dalam kamar, kamarnya berantakan lagi. Syukur kalau ada AC, ada juga yang tidak menggunakan AC. Menggunakan kaos oblong yang mungkin beberapa hari tidak diganti. Sepatu yang digunakan? Karena di dalam kamar tidak menggunakan sepatu. Bawahan? Syukur deh kalau ada bawahan, rata-rata tidak ada, hiks.

Walaupun mungkin gaji pekerja freelance lebih tinggi daripada pekerja kantoran, namun tetap dianggap tidak bergengsi. Ya mau bagaimana dianggap bergengsi, tampilan sewaktu bekerja saja beda jauh banget.

Si pekerja kantoran sangat memperhatikan penampilannya. Penampilan juga menambah gengsi juga loh. Nah si pekerja freelance percuma memperhatikan penampilan. Yang penting menarik bagi istri dan anak, itu sudah cukup.

Kadang sih telinga sudah kebal ketika ada orang yang mengatakan, “Ih, jadi freelance? Tidak ada gengsi!” namun kadang juga panas mendengarnya. Padahal tuh, kalau dihitung-hitung, penghasilan tidak kalah bahkan melebihi dari pekerjaan kantoran.

5. Godaan bermalas-malasan terlalu kuat

Kalau pekerja kantoran tuh, bagaimana mau bermalas-malasan, ada si bos yang mengawasi. Kalau di pagi hari terasa ngantuk banget, terpaksa harus bangun. Kalau tidak habis diomeli si bos. Ada absen yang siap menunggu.

Kalau pekerjaan dokumen belum selesai tapi rasa malas sedang menyerang, terpaksa harus rajin. Kalau tidak bisa-bisa gaji dipotong, ahhh jangan sampai terjadi!

Nah beda dengan pekerja freelance. Tidak ada yang mengawasi. Godaan bermalas-malasan semakin kuat. Iya, iya, sekarang sedang di depan komputer. Komputer telah menyala, aplikasi untuk bekerja telah dibuka. Terus buka lagi browser, terus kunjungi situs YouTube, eh ada video lucu. Berhubung internet kencang, coba deh lihat videonya.

Awalnya sih satu video Lama kelamaan hampir tiga puluh video telah ditonton. Di depan komputer hampir tiga jam dan itu belum melakukan pekerjaan apapun. Eh? Kok bisa?

Bagi pekerja freelance, godaan bermalas-malasan itu terlalu kuat karena tidak ada yang mengawasi. Tapi entah kenapa kalau mendekati deadline tuh, seluruh energi tiba-tiba disalurkan. Tidak ada waktu untuk bermalas-malasan dan akhirnya selesai tepat waktu.

Penutup

Mau milih pekerja freelance atau pekerja kantoran, itu sih boleh-boleh saja. Ada keuntungan dan kerugiannya masing-masing. Namun harus diingat, baik untuk pekerja freelance maupun kantoran membutuhkan kerja keras. Kalau tidak kerja keras tidak akan sukses.

Memang banyak di internet menyebutkan, “Pekerja freelance hanya tiga puluh menit di komputer mampu menghasilkan uang puluhan juta,” hello … itu hanya judul saja. Sebenarnya dia itu tidak tiga puluh menit di depan komputer melainkan satu harian penuh dan itu bekerja keras.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here