4 Tahap Penting Sebelum Kirim Naskah Novel ke Penerbit

Kirim Naskah Novel ke Penerbit

Naskah novel nih sudah siap, siap-siap dikirim. Mudah-mudahan diterima dan diterbitkan, jangan ditolak. Sakit loh ditolak, seperti gebetan yang barusan menolak cintaku. Yang pastinya, Anda ingin mengirim naskah novel, dan inginnya sih diterima. Eits, jangan asal kirim saja dulu. Sudah dibaca belum novelnya? Sudah editing dulu? Atau yakin EYD atau EBI sudah sempurna? Hihi, jangan buru-buru, nanti ditolak. Sama seperti menyatakan cinta, buru-buru menyatakan cinta ujungnya ditolak juga kan? Makanya perlu yang namanya PDKT. Hey, kembali ke topik, sebelum kirim naskah novel, sebaiknya perhatikan 4 tahap penting sebelum kirim novel ke penerbit.

Kenapa tidak langsung dikirim saja? Ya, nggak boleh. Sesaat setelah menyelesaikan naskah novel, rasanya novel yang ditulis adalah novel yang terbaik, bakal laku, bakal jadi best seller, bahkan mega best seller, hehe saya juga gitu sih. Tapi kenyataannya belum tentu demikian. Jangan-jangan novel yang barusan ditulis ini tidak bagus, atau ada cerita yang nggak nyambung. Hmm, harus dikoreksi lagi nih.

Belum lagi, ternyata novel sendiri banyak salah ketik alias typo. Ahhhh, pasti pusing banget tuh. Dan penerbit bakal menolak naskah novel Anda dengan cara sadis, wahahaha.

Tahap Penting Sebelum Kirim Naskah Novel ke Penerbit

Tanpa mempersingkat kata, berikut 4 tahap penting sebelum kirim naskah novel ke penerbit.

1. Lupakan naskah novel

Eh? Kok dilupakan? Dilupakan itu sakit banget loh. Seperti dia, yang tega melupakan semua kenangan indah. Kini dia nyaman bersama yang lain, eh kok ke situ sih. Ya, memang usahakan lupakan dulu naskah novel yang baru Anda tulis. Endapkan dulu, jangan langsung dibaca. Mau di print lalu disimpan di laci terus lacinya digembok atau disimpan di komputer sambil dibuat password tingkat tinggi juga boleh.

Kenapa harus dilupakan? Agar pikiran ini lebih rileks. Pastinnya setelah menulis novel, pikiran ini terasa lelah bercampur puas. Tapi, rasa itu tidak baik untuk naskah novel. Maka dari itu, endapkan dulu. Biarkan beberapa hari diendapkan, tapi jangan kelamaan juga kali.

Lakukanlah hal-hal yang mampu mengalihkan pikiran. Misal, nongkrong di pinggir jalan, atau shopping-shopping ke pasar tradisional.

Nah, setelah diendapkan, lalu naskah novel sudah terlupakan, hiks, baru deh baca lagi tuh naskah. Setelah dibaca, Anda bakal terkejut batin. Ternyata, masih banyak yang harus diperbaiki. Aduh … kok nggak nyambung sih ceritanya, kok banyak banget sih yang typo, kok EYD atau EBI masih bersalahan sih? Hihi.

2. Baca lagi

Setelah diendapkan dan dilupakan, baca lagi deh. Hiks jahat, setelah dilupakan kini balik lagi, jahaaaat. Fokus! Setelah pikiran segar, maka dibaca lagi. Nah, terpampanglah kesalahan di naskah tersebut. Bukan hanya satu kesalahan saja, tapi banyak. Jadi, jangan terkejut. Ya … sebelum diketahui penerbit kesalahan naskah novel, sebaiknya ketahui dulu naskah novel sendiri. Biar jangan terlalu sadis nanti penolakan yang diterima, hihihi.

Tentu saja, membaca lagi naskah novel yang sudah diketik itu berat banget. Berat-berat, serasa mengangkat beban 1 ton. Eits, sudah capai-capai menulis beberapa ribu kata, masak membaca lagi nggak mau. Jangan gitu dong. Baca lagi ya, dan temukan kesalahan sendiri.

3. Lakukan editing sendiri

buku jendela dunia

Nah, pas lagi baca tuh, pasti bertemu kesalahan dengan jumlah ratusan. Lakukan editing sendiri dulu, perbaiki mana yang nggak baik untuk menjadi lebih baik. Entah itu banyak yang typo, perbaikilah. Atau banyak yang EYD atau EBI yang salah, perbaiki. Atau banyak yang ceritanya nggak nyambung, perbaiki lagi dong. Jangan malas lakukan editing sendiri, demi kebaikan naskah.

Jadi, pada saat kirim naskah novel ke penerbit, naskah kita itu sudah seratus persen eh nggak ada yang seratus persen, sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen tuh dah bagus, nggak ada lagi salah. Jadi kan, penerbit bakal puas menerima tuh naskah. Bayangkan, Anda editor sebuah penerbit. Tiba-tiba Anda disuruh untuk menyeleksi yang naskahnya banyak bersalahan. Ayo … mata bakal pecah tuh baca naskah tersebut. Jangan-jangan, Anda bakal malas dan langsung mengeluarkan stempel “ditolak”. Begitu juga dengan editor di sana.

4. Perbanyak baca

Mau jadi penulis kok malas baca? Jangan gitu dong. Maka dari itu, perbanyaklah membaca. Mulai dari ketentuan EYD atau EBI, biar pengetahuan makin bertambah. Oh ya, perbanyak juga membaca novel yang keren bingitz, biar makin terasa. Tapi, cintamu hanya untuk saya saja ya, hehe.

Mengapa perlu banyak baca. Ya … selain pengetahuan makin bertambah, juga semakin banyak perbendaharaan kata. Dengan memperbanyak membaca, diksi kata semakin terarah. Setiap penulis mampu mengolah kata sehingga tampak indah, dan itulah pelajaran yang harus diambil. Ibarat kata nih, orang yang belum pernah keluar dari kampung halaman, pasti menganggap kampung halamannya yang terbaik.  Nggak perlu diperbaiki tuh kampung halaman, pasti sudah baik. Tapi, orang yang sudah merantau ke mana-mana, bakal berpikir kampung halamannya belum yang terbaik, masih banyak yang harus diperbaiki dan dipelajari dari tempat lain, agar kampung halaman menjadi lebih baik.

Penutup

Ya … awalnya sih, setelah menyelesaikan naskah novel, bakal berpikir kalau novel itu sudah sempurna. Tapi, jangan buru-buru kirim naskah novel ke penerbit. Endapkan dulu, lupakan, setelah itu baca lagi dan lakukan editing sendiri. Sehingga, ketika kirim naskah novel ke penerbit, naskah tersebut sudah sempurna. Dan si editor semangat membaca naskah tersebut.

Tapi, walaupun sudah sempurna namun belum juga diterima, jangan putus asa. Pasti ada beberapa faktor mengapa ditolak penerbit. Jangan menyerah karena penolakan, masih banyak gebetan lain yang siap menerima kamu, eh maksudnya masih banyak penerbit lain yang siap menerima naskah kamu.

Demikian 4 tahap penting sebelum kirim naskah novel ke penerbit, tetap semangat dan jangan mudah putus asa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here