3 Kelebihan dan Kekurangan Menulis Buku Ilmiah

Kelebihan dan Kekurangan Menulis Buku Ilmiah

Menulis buku ilmiah tentu saja berbeda dengan menulis buku fiksi, seperti cerpen ataupun novel. Menulis buku ilmiah membutuhkan pengetahuan yang luas dan tentu saja harus menarik. Kalau tidak menarik, mana ada yang mau baca. Maka dari itu, ada kelebihan dan kekurangan menulis buku ilmiah.

Oh ya, dalam proses menulis buku ilmiah, banyak orang berpikir kalau tidak perlu outline. Outline hanya untuk menulis fiksi saja. Namun sebenarnya itu sangat penting. Setidaknya sebagai petunjuk dalam penulisan. Bahkan, menurut writing.disc.edu, “Outline itu seperti kerangka/tiang dalam menulis. Jika kerangka/tiang tersebut tidak ada, tentu akan mengalami kendala saat menulis dan hasilnya tidak memuaskan.”

Nah, tentu saja buku ilmiah tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Apa-apa saja kelebihan dan kekurangan dalam menulis buku ilmiah?

Kelebihan

1. Merupakan Konten Abadi
Tentu saja buku ilmiah tersebut adalah konten abadi. Tidak bakal hilang walaupun dimakan zaman. Coba deh, untuk referensi untuk skripsi, pasti banyak yang menggunakan buku tahun di bawah 90-an. Itulah yang membuktikannya.

Tentu saja, ini menjadi kelebihan tersendiri bagi para penulis. Dengan demikian, buku yang dihasilkan masih tetap dipakai untuk sepuluh atau dua puluh tahun ke depan. Dan nama penulis tersebut, tetap saja diingat. Ya … selain buku ilmiah sangat jarang sih penulisnya.

Jadi, sekali Anda menulis buku ilmiah, maka sepuluh tahun ke depan, Anda masih tetap menemukan tulisan Anda. Bahkan, bisa saja tulisan Anda masih segar, tidak lengkang dimakan zaman.

2. Banyak Peminat
Buku ilmiah itu tentu saja banyak peminat, apalagi bagi para akademisi, guru, dosen, pelajar, mahasiswa, dll. Dan sayangnya, buku ilmiah itu sangat sulit sekali. Hal tersebut karena sedikit penulisnya.

Dan tentu saja itu menjadi kelebihan tersendiri. Dengan banyak peminat, dan juga sedikit yang menyediakan, akan membuat buku tersebut laris. Walaupun tidak menghasilkan best seller, namun tetap dicari sepanjang waktu.

3. Menaikkan Status Akademik
Memang sudah bukan rahasia umum lagi, jika seseorang berhasil membuat buku ilmiah maka status akademiknya akan meningkat. Selain itu, akan memudahkannya untuk naik pangkat.

Dengan menerbitkan buku ilmiah, beberapa orang tidak ragu lagi dengan gelar keilmuan yang Anda miliki.

Kekurangan

ditolak penerbit mayor

1. Membutuhkan Waktu Lama
Tentu saja membutuhkan waktu lama. Harus membutuhkan riset yang sangat lama. Selain itu, harus memperbanyak membaca, mencari sumber terpercaya. Dan tentu saja harus menyunting puluhan kali agar tulisan menarik dan mudah dibaca.

Bayangkan saja deh, untuk satu BAB membutuhkan wawancara sebanyak lima puluh orang. Untuk proses wawancara saja membutuhkan banyak waktu. Bisa memakan waktu enam bulan lebih. Artinya, untuk menyelesaikan satu BAB membutuhkan waktu enam bulan, waaaahhhh.

2. Membutuhkan Riset
Sebenarnya bukan tulisan ilmiah yang membutuhkan riset. Tulisan fiksi juga membutuhkan riset. Namun, untuk tulisan ilmiah membutuhkan riset secara ilmiah. Dan riset secara ilmiah itu sangat ribet, jelimet, dan buat otak berputar tujuh keliling.

Belum lagi kalau membuat soal-soal pertanyaan dalam buku tersebut. Tentu saja harus diuji dulu, setidaknya diuji apakah jawabannya sesuai atau tidak. Selain itu, jika menggunakan pilihan ganda, apakah pengecoh yang digunakan berfungsi atau tidak. Dan tentu saja semua itu membutuhkan riset, ada sample, beberapa manusia sebagai uji coba.

3. Membutuhkan Referensi Yang Jelas
Banyak sekali referensi di dunia ini, tidak terkecuali dengan tulisan ilmiah. Namun, menemukan referensi yang jelas dan terpercaya itu susah banget. Itu seperti memutar otak terlebih dahulu, bersemedi tujuh tahun, baru dapat referensi yang jelas.

Kenapa membutuhkan referensi yang jelas? Hal tersebut untuk membenarkan tulisan tersebut. Karena ini tulisan ilmiah, yang harus dibuktikan dengan ilmiah, berarti membutuhkan referensi yang sudah terbukti ilmiah juga dong. Belum lagi jumlah referensi yang dibutuhkan lumayan banyak. Jarang deh di satu buku ilmiah itu hanya mencantumkan referensi lima saja. Lebih dari sepuluh malah, bahkan ada yang saya temui, buku tersebut membutuhkan referensi ratusan, seperti buku Ensiklopedia.

Baca juga: perbedaan penelitian kualitatif dan kuantitatif

Menulis tulisan ilmiah, seperti skripsi misalnya, memang lumayan susah sih. Namun … jika dikerjakan pasti menghasilkan kepuasan tersendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here