Keinginan Sang Anak (Cerpen)

Keinginan Sang Anak

Seorang ayah yang hidup demi membahagiakan keluarganya. Dia bekerja keras demi keluarganya. Dengan membahagiakan keluarganya, itu sudah cukup baginya. Bukan hanya keluarga kecil seperti istri dan anak-anaknya, tapi juga keluarga besarnya. Ayah, ibu, dan saudaranya juga ingin dia bahagiakan. Perjuangan berpuluh tahun, mungkin ayah selalu tersenyum.

Pada saat shubuh, seorang ayah pergi dengan tergesa-gesa. Istrinya sudah berada di rumah sakit. Pikirannya pilu memikirkan kelahiran anak pertamanya.

“Apakah anakku akan selamat? Apakah istriku akan selamat? Apakah anakku lahir normal?” dan masih banyak lagi yang ada di dalam pikirannya. Dia tidak bisa tenang memikirkan hal tersebut. Pikirannya semakin tidak tenang, ketika berada di rumah sakit, dia tidak diperbolehkan untuk masuk.

Seorang ayah pun berjalan ke kanan dan kiri, pikirannya kalut sehingga dia tidak bisa berpikir tenang. Akibatnya, tubuhnya tidak bisa tenang, menanti hasil saja. Dalam pikirannya, dia ingin melihat istrinya yang tengah berjuang hidup dan mati.

Di dalam hatinya tidak berhenti berdoa demi keselamatan istrinya dan anaknya.

Sebuah tangisan bayi yang memekakkan telinga, tangisannya terdengar sampai ke luar ruangan. Dia, ayah mendengar suara tersebut. Dengan berlari cepat, dia langsung masuk ruangan. Pertama dia bertanya mengenai keadaan istrinya. Istrinya baik-baik saja. Selanjutnya keadaan anaknya, anaknya juga baik-baik saja. Maka riang sekali hati seorang ayah. Dia pun menggendong anak pertamanya yang masih menangis. Dia azankan anaknya, anaknya berhenti menangis, mendengarkan suara azan dari seorang ayah. Suara itu begitu lembut dan penuh kasih sayang, hingga si anak tertidur di dekapan seorang ayah.

Hari berganti hari, ternyata anaknya tidak ada bedanya dengan ayahnya. Sang anak dengan sangat lincah, tidak mau berhenti, bahkan mempunyai keinginan untuk menyerap ilmu. Maka tidak ada yang mengejutkan, ketika saat umur dua tahun, si anak telah pandai berhitung, walaupun bahasanya masih kurang, tapi kemampuan berhitungnya lua biasa.

Sang ayah dengan senang hati melihat perkembangan anaknya. Ayah menjadi lebih bekerja keras. Kerja siang malam, hanya demi melihat senyuman anak tersayangnya. Setiap si ayah pulang, anaknya selalu berlari menuju pintu memeluk ayahnya. Mungkin, ingatan itu masih membekas sampai si anak tumbuh dewasa.

Untuk pertama kalinya, si anak masuk TK. Si anak berpikir dia akan mendapatkan ilmu baru di sana. Memang dia mendapatkan, mendapatkan ilmu untuk bersosialisasi. Si anak amat gembira mendapatkan ilmu tersebut. Ketika si anak pulang ke rumah, si anak terus menunggu ayahnya, demi menceritakan setiap kejadian yang terjadi di sekolahnya. Mungkin ayah bosan mendengarnya, tapi demi buah hatinya dia mendengarkannya. Terkadang, sang ayah tertidur akibat terlalu lelah bekerja keras, sang anak masih semangat bercerita.

Pada saat SD, sang anak masuk dengan semangatnya. Namun itu hanya satu Minggu pertama. Pada saat TK, keaktifannya tidak dipermasalahkan. Si anak ribut saat guru menjelaskan, dia tidak disalahkan. Namun di SD berbeda, sang anak harus mendengarkan apa yang dikatakan gurunya. Maka si anak memberontak, dia dimarahi, si anak langsung pulang ke rumah, menunggu sang ayah pulang, dia duduk di depan pintu, ketika si ayah pulang, dia langsung memeluk ayahnya sembari bercerita. Sang ayah mendengarkannya dengan serius. Namun ayah berpesan kepada anaknya, “Dunia ini tidak sesuai dengan kehendakmu, lebih baik kamu mengalah untuk menang, daripada melawan tapi ujungnya kalah,” sejak saat itulah si anak berusaha diam di sekolah.

SMP, ketika egois anak mulai berkembangnya, namun sang ayah tetap sabar. Baginya, si anak adalah anak yang polos, yang berusaha mencari jati diri. Sang ayah dengan sabarnya memberi nasihat untuknya. Sehingga nasihat tersebut, selalu terngiang di hatinya.

Kehidupan SMA yang penuh dengan kenakalan remaja, sang anak berhasil melewatinya. Semua itu berkat ayah yang dengan sabar menasihati dirinya. Si anak pernah melawan ayahnya. Dia pikir dia sudah besar, sudah bisa menentukan yang terbaik untuknya. Namun semua itu hanyalah penampakan semu belaka. Sang anak masihlah putih, belum melihat pahitnya kehidupan. Sang ayah sudah melihat pahitnya kehidupan, maka sang ayah dengan sabar menasihati anaknya.

Kini anaknya telah dewasa, dia sangat berterima kasih kepada ayahnya. Namun, kini ayahnya telah jatuh sakit. Ayahnya berada dalam sakit yang tidak bisa diremehkan. Kehidupan telah berputar, dulu ayah yang merawat anak, kini berganti, anak berusaha merawat ayah. Dalam hatinya, ingin menangis setiap melihat ayahnya.

Ayah yang dulu kuat, kini terbaring tidak berdaya. Beberapa alat penopang kesehatan telah dimasukkan ke dalam tubuh ayahnya, ayahnya masih bernafas, tapi belum bisa membuka matanya.

Sang anak tidak hentinya berdoa demi keselamatan ayahnya.

“Ayah, jika ayah sembuh, aku akan di samping ayah lagi. Aku akan menunggu ayah di pintu rumah. Mungkin keadaannya berbeda. Dulu ayah yang bekerja keras, sedangkan aku menunggu ayah. Nanti, di saat ayah sembuh nantinya, ayah akan menungguku di depan pintu, dan aku bekerja keras. Hingga kita bisa saling berbicara, seperti dulu lagi. Semoga sembuh ayah,” sang anak mengecup lembut kening ayahnya.

Kesembuhan ayahnya, merupakan keinginan terbesar dari seorang anak saat ini.

1 COMMENT

  1. Menyentuh. Semoga banyak ayah yg sabar dan jadi teladan anak2nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here