Kebiasaan Siswa Mencontek dan Siapa yang Salah

Mencontek, rasanya setiap siswa jarang sekali ditemukan yang tidak pernah mencontek. Hampir sebagian besar siswa melakukan kegiatan tersebut. Entah apapun motif dibalik kelakuan mereka. Beberapa orang cerdas sering mengatakan mencontek itu tidak baik, namun orang cerdas tersebut kadang mencontek juga.

Mencontek mendapat nilai baik, nilai baik maka akan disenangi oleh orang dewasa. Orang dewasa tidak pernah memikirkan bagaimana si anak mendapatkan nilai baik. Yang diperhatikan adalah coretan tinta di sebuah kertas dengan angka 80 sd 100.

Ironis? Memang bisa dikatakan demikian. Namun, bukan sebagai siswa sekarang saja yang senang mencontek. Siswa dulu juga yang artinya telah menjadi orang tua di masa sekarang senang melakukan hal tersebut.

Mencontek seperti jalan pintas dan itu dibenarkan dalam mendapatkan nilai terbaik, nilai terbaik!

Namun, beberapa tahun terakhir ini, dengan hadirnya pendidikan berkarakter, ditekankan kalau nilai hasil kemampuan sendiri itu jauh lebih baik daripada nilai hasil mencontek. Sejujurnya, bukan hanya zaman sekarang yang mengatakan demikian, bertahun-tahun sebelumnya sudah ada kalimat demikian. Namun tetap diabaikan.

Mungkin zaman sekarang kembali diingatkan kembali kepada kita yang telah lupa dari fenomena mencontek tersebut. Namun apa daya, fenomena yang semakin menjamur seolah sulit sekali dihentikan. Bukan sulit, tapi kadang tidak mendapat dukungan.

Sang pendidik berusaha untuk netral, melakukan yang terbaik untuk muridnya. Dia melihat ada siswa yang mencontek, dia jatuhkan nilainya. Ini adalah hukuman bagi para pencontek. Namun orang tua tidak menerima begitu saja. Mereka protes! Mereka bahkan menyalahkan si pendidik yang tidak becus mendidik anaknya.

Atau mungkin sebuah cerita klasik. Ada seorang anak yang memang terkenal pintar. Gimana dia tidak pintar? Setiap malam dia belajar. Teman yang lain sih belajar, tapi tidak seserius anak yang pintar ini. Atau mungkin temannya tidak ada yang belajar di rumah.

Ketika si anak konsisten tidak mencontek, artinya dia juga tidak memberikan contekan kepada temannya. Siapa yang tidak suka dengan orang pelit? Walaupun itu pelit untuk kebenaran, tetap tidak ada yang suka.

Akhirnya, siswa yang jujur ini dijauhi dan dikucilkan, bahkan tidak jarang dibully. Hingga akhirnya dia menyerah dengan keadaan. Pasrah, mengubah perilakunya dan pola pikirnya. Tidak apa-apa mencontek yang penting mendapat ilmu.

Terkadang, orang dewasa sangat bangga dengan kenakalan dia sewaktu menjadi siswa. Dia dengan bangganya menceritakan kepada orang terdekatnya tentang kehebatan dia mencontek. Sebuah cerita heroik yang nantinya tokoh utama menjadi idaman. Siswa yang masih polos tentu menginginkan kehidupan seperti itu.

Ada dua kemungkinan mengenai hal ini. Si anak mengikuti sepak terjang orang dewasa itu, mulai mendalami ilmu contek mencontek dengan belajar dari pengalaman. Atau si orang dewasa menurunkan ilmunya.

Bagaikan sebuah rantai yang terikat kuat, tidak ada ujung maupun pangkal. Setiap sisi sudah diprogram tidak pernah putus.

Era pendidikan ini adalah era yang serba salah. Mau tegas salah, mau ramah salah, mau marah salah, bahkan mau nangis pun salah. Selalu ada celah untuk disalahkan. Seolah pendidikan ini tidak sempurna, memang tidak sempurna!

Namun, walaupun itu tidak sempurna bukan berarti buruk? Apapun masanya, apapun zamannya, apapun kurikulumnya, masalah pendidikan tetap sama dari tahun ke tahun. Terkadang, beberapa pendidik tidak merasakan apa perbedaan antara kurikulum yang satu dengan lainnya.

Dalam kertas kasar terlihat sama, hanya dibumbui sedikit demi sedikit. Maka kadang, ada beberapa pendapat yang mengatakan, “Apapun kurikulumnya namun ujung-ujungnya sama saja.”

Kembali ke masalah mencontek ini, kebudayaan yang tiada ujung pangkal maupun akhir. Siapakah yang patut disalahkan dalam hal ini? Sang siswa, guru contek, pendidik, orang dewasa, ataukah orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan pendidikan?

Mencontek adalah fenomena dan tidak ada yang salah. Semua orang bisa saja namun juga bisa benar. Sebaiknya jangan menyalahkan satu sama lain. Mulailah membenarkan apa yang salah.

Rantai yang tidak ada ujung maupun pangkal, bisa dipotong tengahnya. Tentu saja dengan alat pemotong yang kuat.

Jadi, untuk menghentikan kebiasaan yang tiada kunjung selesai ini, mulailah dari sekarang. Dari siswa, pendidik, orang tua, siapapun itu, mendukung anti mencontek.

Memang, ketika melihat nilai yang rendah walaupun hasil kerja keras itu, menyakitkan hati. Kebetulan ada teman yang mencontek, dapat nilai tinggi, plus disanjung orang dewasa.

Pertanyaan, “Salahkah aku mencontek?”

Salah! Sangat salah! Namun, kenyataannya kita tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya orang-orang pemberani yang dengan gagahnya menolak hal tersebut. Walaupun jumlah mereka sudah mulai punah. Namun, dikatakan mulai punah bukan berarti tidak ada.

“Salahkah aku berusaha walaupun nilai mengecewakan?”

Tidak! Itu yang seharusnya dilakukan. Walaupun kadang hati ini kecewa. Namun, suatu hari nanti, kamu akan mendapat hasil positif dari kegigihanmu itu.

“Kapan?”

Bukan sekarang! Mungkin besok, lusa, tahun depan, atau berpuluh-puluh tahun ke depan. Siapa yang tahu, tidak bisa kita tebak, namun yang pasti hal itu akan terjadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here