Jangan Panik Ketika Mendapat Revisi, Santai Saja

Mengerjakan skripsi sudah berbulan-bulan lamanya, bahkan tidak tidur maupun makan, bahkan drama kesukaannya dikorbankan, cerita telah didramatisasi. Draft skripsi telah selesai, rasa bangga ketika melihat skripsi tiba-tiba muncul. Ingin rasanya skripsi itu dicetak, kalau bisa dicetak buku.

Eh, tidak tahunya, ketika menghadap dosen pembimbing nih. Banyak banget revisi yang diberikan. Tinta hitam yang seharusnya cantik terlihat, kini berubah menjadi seram. Tinta bekas tulisan dari dosen itu adalah tinta bencana.

Rasanya ingin berteriak kuat sekali. Kalau bisa teriakan sampai ke planet Mars. Tapi apalah daya, kalau berteriak, lebay pula. Kalau dipendam, sakit banget. Ini lebih sakit daripada ditolak balikan oleh mantan. Kalau mau balikan sama mantan, mendingan jangan. Tapi kalau mau halalin, bolehlah … kalau diterima, hihihi.

Jadi, bagaimana caranya agar tidak panik saat mendapat revisi? Gampang kok. Caranya:

Lupakan Skripsi Sejenak
Ini yang pertama, lupakan skripsi sejenak. Sudah mendapat revisi, buang tuh skripsi. Tapi jangan dibuang ke tong sampah juga kali. Di tempat yang tidak ingin Anda lihat namun tempatnya mudah diingat, misalnya di simpan di kolong tempat tidur gitu.

Intinya sih lupakan dulu masalah revisi yang menggunung. Abis melihat revisi itu kepala terasa pusing, lemah, lunglai, tidak bertenaga, ingin rasanya minum wedang jahe biar tenaga kembali. Jadi, sebaiknya lupakan dulu skripsi, tenangkan dulu pikiran.

Kalau bisa nih, hangout dulu bersama teman. Segarkan pikiran. Mungkin kalau Anda punya budget lebih, liburan gitu ke tempat liburan, ke Bali misalnya. Namun harus diingat, jangan sampai keenakan hangout sehingga lupa total tuh skripsi.

Tenangkan dulu pikiran lalu mulai lagi lihat revisi skripsi.

Setelah Itu?
Nah, Anda akan mengalami sebuah perubahan yang significant. Dulu Anda merasa pusing gitu melihat revisi, ketika dilihat lagi dan lagi, eh revisi sedikit banget ternyata. Tulisan tangan si dosen yang terlalu besar membuat diri berpikir kalau revisi banyak.

Coba lagi baca pelan. Pelan, pelan, pelan, tapi jangan terlalu pelan ya! Pahami apa maksud si dosen. Eh, bentar! Sebelum memahami maksud si dosen, ngerti dulu tulisan si dosen. Biasa, tulisan dosen kan cantik banget.

Baru deh mengerjakan apa yang direvisi. Mencoba satu per satu. Nah, saran dari saya nih, kalau mengerjakan revisi usahakan satu hari siap. Jangan biarkan lama-lama mengerjakan revisi skripsi. Kenapa? Biar revisian tersebut dilupakan segera dan siap menghadap dosen pembimbing, kalau revisian tersebut telah dibaca lagi dan lagi.

Revisian sih diusahakan diselesaikan satu hari. Setelah itu baca lagi pelan-pelan. Jangan-jangan ada lagi nih kesalahan di skripsi. Untuk mengantisipasi bakal ada revisian dosen jilid dua. Jadi, harus siap diri lagi nih.

Skripsi Itu Gampang, Niat yang Sulit
Banyak yang beranggapan skripsi itu sulit sekali, padahal dia belum pernah menyentuh skripsi, namun sudah panik duluan. Atau yang dia tanya adalah mereka yang malas mengerjakan skripsi, jelas sulitlah tanggapan mereka mengenai skripsi.

Coba dong tanya-tanya ke senoir dengan lulusan tercepat atau tepat waktu. Rata-rata mereka mengatakan skripsi itu gampang-gampang-sulit, hehe.

Pengalaman saya nih, skripsi itu gampang, gampang banget namun mengumpulkan niat yang sulit. Sudah di depan laptop nih, rencana mau mengerjakan skripsi, masih rencana. Akhirnya nyasar ke file video. Akhirnya, video ditonton skripsi dilupakan.

Keesokan harinya, ingin mengerjakan skripsi. Sudah siap-siap di depan laptop. Teman ngajak hangout, sulit juga untuk menolak. Akhirnya, hangout lagi deh, skripsi dilupakan.

“Hey, jangan lupakan aku!” sepertinya itulah teriakan skripsi yang dilupakan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here