Ini Mimpi Baik atau Buruk?

Ini Mimpi Baik atau Buruk

“Meong,” jrejeng … aku memang suka kucing, namun kenapa dalam mimpi aku tidak suka kucing. Ingin rasanya aku berlari menjauhi kucing ini. Rasanya seluruh badanku geli banget ketika kucing itu mendekatkan dirinya ke tubuhku. Aku tahu, kucing adalah binatang manja. Kucing adalah tipe binatang yang ingin disayang selalu. Sejatinya aku suka sekali memanjakan kucing, mengelus lembut bulu halusnya. Namun di dalam mimpi ini, aku tidak suka dengan kucing.

“Ah … jangan dekati aku!” kataku kuat sekali (dalam mimpi), namun kucing itu tidak menghiraukannya. Dia tetap mendekatiku. Mendadak seluruh badanku menjadi geli, geli ini tidak mengenakkan. Karena tidak tahan dengan sensasi geli, aku pun meletakkan kucing itu menjauh dan pergi berlari. Namun, kucing itu tetap mengejarku. Kemanapun aku berlari, dia tidak mengejar. Anehnya dia berhasil menemukanku, dimanapun aku bersembunyi. Apakah ini termasuk kucing sakti?

Akhirnya, aku sadar berhasil menyadarkan diri (masih dalam mimpi). Aku sadar ini dalam mimpi, dan aku sadar kalau aku harus bangun. “Ini adalah mimpi, dan aku harus bangun. Bangun-bangun-bangun-bangun!”

“Segitu takutnyakah kamu kepada diriku?” tiba-tiba samar-samar kucing itu berubah menjadi sosok perempuan. Aku tidak dapat melihat rupanya karena dihalangi oleh cahaya putih. Namun, rasanya aku kenal banget dengan suara ini.

“Maksudnya?” aku berteriak namun teriakanku membangunkan diriku. Aku terbangun sambil berteriak. Ah … kenapa bisa aku bangun dalam keadaan tidak keren seperti ini. Eh, aku tidur sendirian sih, nggak masalah kalau aku bangun dalam keadaan tidak keren sekalipun. Toh tidak ada yang melihatku.

Sejenak aku berpikir, apakah itu mimpi buruk atau mimpi baik?

***

Hari ini hari minggu, aku tidak tahu harus melakukan apa-apa, yang aku tahu hanyalah tidur. Mumpung hari libur, tugas pekerjaan dan tugas kuliah semuanya sudah selesai, kini yang terpikirkan adalah menikmati liburan sepuasnya.

Tapi kok rasa-rasanya aku bakal menghadapi sesuatu yang tidak terduga. Perasaanku berkata kalau hari minggu ini akan berbeda dengan hari lainnya. Rasanya, aku malas sekali untuk tidur. Biasanya, kalau sudah di tempat tidur, bagaimanapun keadaannya, pasti tidur juga. Biasanya tidur, bangun tidur, lalu tidur lagi. Kali ini, tidur, bangun tidur namun tidak bisa tidur lagi.

Hatiku berkata kalau sebaiknya aku pergi ke sebuah gedung. Gedung itu baru pertama kali aku lihat. Gedung itu begitu megah nan indah. Sepertinya gedung itu adalah apartemen bagi mereka yang berduit tebal.

Huh … dasar hati, tidak mau diajak kompromi. Ini nih hasil negatif kalau selalu mengikuti kata hati, alhasil hati menjadi manja banget. Apapun kemauannya harus dituruti.

Aku mengambil baju yang cocok untuk keluar. Walaupun aku terkesan cuek dengan penampilanku, namun aku sedikit malu kalau aku keluar hanya menggunakan kaus oblong. Eh itu alasan saja deh. Di luar dingin banget. Kalau aku memakai kaus oblong, bisa-bisa badanku beku karena kedinginan.

Aku mengambil jaket tebal dan juga menggunakan celana jins tebal. Aku rasa gaya pakaian ini cocok untuk menghadapi cuaca dingin di luar. Hi … sebulan terakhir ini, sering banget turun hujan, membuat udara menjadi dingin. Kalau hujan turun begini, jadi ingat dengan keadaan di kampung. Dulu, waktu di kampung, ketika aku menanam singkong. Ketika hujan datang, rasanya senang banget, aku tidak perlu repot-repot ke kebun untuk menyiram singkong.

Aku berjalan pelan menuju gedung yang dikatakan hatiku. Gedung ini begitu megah. Walaupun keadaan berkabut, tidak menunjukkan kalau gedung ini gedung yang lesu. Gemerlapan lampu yang diciptakan gedung ini, menunjukkan kalau gedung ini akan terlihat mewah gimanapun keadaan lingkungannya.

Dari kejauhan aku melihat sesosok manusia yang berdiri lurus, dekat dengan bibir gedung. Wah … berani benar tuh orang. Kalau aku sih mungkin berani juga. Namun aku lebih memilih jalur aman daripada jalur ekstrim. Eh tunggu dulu, rambutnya kok panjang dan lagi … rasanya dia bukan untuk menatap pemandangan deh.

“Jangan-jangan?” pikiranku sudah melayang kemana-mana.

Aku langsung bergegas menuju atap gedung. Walaupun aku bukan penghuni gedung ini, aku pura-pura saja sebagai penghuni. Untung saja petunjuk untuk gedung ini jelas banget. Jadi, aku gampang banget untuk bisa sampai ke atap gedung. Hanya dengan menggunakan lift menuju lantai 50 lalu menaiki tangga lagi menuju lantai 52. Di lantai 52 ada sebuah tangga kecil menuju atap gedung, dan berhasil, aku berhasil menuju atap gedung.

Apa yang kupikirkan sebelumnya memang benar. Dia adalah perempuan yang berdiri tegak di bibir atap gedung. Dia … sepertinya ingin bunuh diri.

“Siapa kamu? Pokoknya kamu tidak boleh menghentikan aku!” teriak perempuan itu dengan lantang. Baru saja aku tiba di atap gedung, berusaha mengambil nafas dulu karena tidak biasa berlari kencang. Eh, si perempuan telah menjerit demikian.

“Tunggu dulu! Aku ngambil nafas dulu. Aduh … nyesal deh kenapa aku tidak rajin olahraga.”

Setelah tiga menitan, akhirnya nafasku berlangsung pulih. Kini aku mampu berpikir normal, dan juga aku sudah menyusun rencana agar perempuan itu tidak bunuh diri. Bunuh diri itu tidak baik? Setelah nyawa berpisah dengan tubuh, apakah permasalahan dunia akan sirna begitu saja? Tentu saja tidak. Banyak banget urusan ketika menghadapi kematian tersebut.

“Hey, kamu tidak ingin bunuh diri kan?”

“Jangan mendekat! Keputusanku sudah bulat! Aku ingin mengakhiri hidupku. Aku muak dengan dunia ini! Aku muak dengan pekerjaanku! Aku muak semuanya!”

Iya sih, kalau dipikir-pikir aku juga sedikit muak dengan dunia ini.

“Hey, tapi kamu tidak harus bunuh diri dong. Masih banyak cara lain supaya kamu menikmati dunia ini.”

“Aku muak! Tidak ada cara lagi untuk menikmati dunia ini!”

Oh … perempuan ini sudah tidak tertolong.

Kebetulan banget udara cukup dingin, dan juga angin begitu lebat, sehingga langkah kakiku tidak terdengar. Aku diam-diam berjalan mendekatinya. Perempuan itu terus bicara kuat sekali, dan aku membalas ucapannya dengan kuat juga. Tapi dia tidak menyadari kalau aku semakin mendekati dirinya.

Ketika jarak sudah cukup dekat, aku langsung memegang tangannya dan menjauhkan dirinya dai bibir atap. Huh … sulit memang, karena dia meronta. Namun akhirnya aku berhasil melakukannya.

“Kenapa? Kenapa kamu menghalangiku?”

“Bodoh! Kalau kamu bunuh diri, siapa yang repot? Tentu saja aku yang repot. Aku sebagai saksi mata dirimu bunuh diri. Nanti aku jadi viral deh nantinya, hidupku tidak akan tenang, pasti bakal banyak yang mencariku.”

“Kamu juga, kamu hanya memikirkan dirimu sendiri.”

“Tidak juga. Aku tidak ingin melihat dirimu bunuh diri. Pasti ada jalan lain yang lebih baik daripada kehidupanmu saat ini. Jalan tersebut, mengantarkan dirimu ke indahnya dunia.”

Sudah, setelah mengucapkan kalimat tersebut, aku bersin kuat sekali. Sepertinya aku flu deh.

***

Tiga minggu semenjak aku menolong perempuan itu, akhirnya perempuan itu menempel terus kepadaku. Awalnya sih biasa saja, namun lama-kelamaan mengganggu juga. Aku juga ingin merasakan kebebasan sendiri, namun, ketika aku merasakan kebebasan sendiri, perempuan itu mengganggu kebebasanku.

Umur perempuan itu satu tahun lebih muda dariku. Namun, dia memilih bekerja setelah sarjana sedangkan aku memilih melanjutkan studiku. Oh ya, aku juga bekerja kok. Jadi bekerja sambil menjalankan studi pascasarjana.

Hal ini persis banget dengan apa yang kualami dalam mimpiku. Seekor kucing yang selalu mengikutiku kemana-mana, kucing itu ingin bermanja-manja denganku. Namun aku keberatan dengan keadaannya.

Lama-kelamaan akhirnya aku mengadakan pertemuan darurat dengan perempuan itu. Aku menagajaknya makan di café paling murah.

“Hey, kenapa kamu selalu mengikutiku?”

“Kenapa?”

“Kadang aku merasa kalau kamu sedikit menyebalkan. Bisakah kamu masuk ke duniamu, tanpa memaksakan dirimu masuk ke duniaku?”

“Kamu adalah duniaku,” kata perempuan itu spontan.

“Bukan, tempatku bukan duniamu. Duniamu jauh berada di atasku,” aku berkata demikian karena perbedaan derajat antara aku dan perempuan itu berbeda jauh. Strata sosial perempuan itu begitu tinggi.

“Tidak! Duniaku ada di duniamu!” perempuan itu mulai memaksa.

“Tolong mengerti!” kataku lembut namun penuh arti.

“Segitu takutnyakah kamu kepada diriku?” kata itu mirip banget dengan apa yang aku ingat di mimpiku. Berarti, wajah perempuan itu adalah dia.

“Tidak, aku ingin kamu menikmati hidupmu,” kataku dan dengan segera perempuan itu meninggalkan diriku. Huh … rasanya lega banget telah mengatakan apapun yang diresahkan hati ini.

Keesokan harinya dan keesokan harinya, tidak terasa sudah enam bulan aku tidak melihat perempuan itu. Ternyata dia benaran meninggalkan diriku. Aku sih sebenarnya tidak keberatan, aku jadinya bebas menikmati waktu bebas.

Namun semua itu berubah pada hari minggu.

“Pokoknya kamu harus menerima cintaku,” kata seorang perempuan dengan wajah penuh dengan cahaya. Aku bermimpi dan aku sadar aku bermimpi. Aku bertemu dengan perempuan yang wajahnya penuh dengan cahaya.

Kenapa pula dengan perempuan ini? Tiba-tiba saja muncul dalam mimpi. Wajahnya tidak jelas lagi. Terus dia berkata kalau aku harus menerima cintanya. Memangnya aku tidak bisa menolak?

Namun, ketika aku akan berkata untuk menolak cintanya, hatiku berkata (ini mimpi, jadi wajar kalau aku mendengar suara hati, namanya mimpi), “Jangan ditolak, nggak baik, siapa tahu jodoh.”

Ini hati seenak saja bicara. Ketika hati selesai bicara, aku membuka mataku.

Ini mimpi baik atau buruk?

***

Setelah bermimpi yang tidak jelas itu, aku bermaksud untuk berlari pagi di taman. Aku sudah membiasakan badanku untuk berolahraga. Aku cukup terpukul melihat betapa lemahnya diriku.

Sudah menjadi kebiasaanku untuk menyempatkan diri berolahraga di pagi hari. Awalnya sih susah banget, namun lama kelamaan terbiasa juga. Tidak ada susah-susahnya membiasakan diri berolahraga. Malah dapat keuntungan yang berlipat ganda.

Secara tidak sengaja, atau mungkin disengaja kali, aku bertemu dengan perempuan itu. Aku melihat dia dari kejauhan, sedang termenung. Sepertinya dia memikirkan sesuatu. Aku pun mendekati perempuan itu, sambil menyapanya.

“Akhirnya kita bertemu lagi ya?”

“Iya nih. Bagaimana kabarmu?”

“Ya … kabarku baik-baik saja. Namun, aku baru menyadari sesuatu.”

“Menyadari apa?”

“Ternyata duniaku di tempat sana bukanlah duniaku. Pantas saja aku memilih bunuh diri dulu. Beruntung kamu menyadarkanku.”

“Jadi, dimana duniamu?”

“Di sampingmu,” kata perempuan itu dengan wajah yang memerah. Aku langsung panik.

“A-a-a-apa?”

“Pokoknya kamu harus menerima cintaku,” kata perempuan itu setengah memaksa dengan wajah yang begitu merah. Mungkin karena malunya, dia menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.

Akhirnya, asap keluar dari kepalaku. Sepertinya memori otakku sudah overload untuk memproses data yang baru masuk. Sejenak aku berpikir untuk menolak cintanya, namun tiba-tiba hati ini berkata, “Jangan ditolak, nggak baik, siapa tahu jodoh.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here