Hantu Perempuan Itu Menjadi Istriku (Cerpen)

Aku melihat seorang perempuan di pinggir taman. Dia sedang bersedih. Tapi kenapa orang-orang mengacuhkan perempuan itu? Padahal dia cantik bangat.

Apakah orang-orang terlalu sibuk sehingga tidak memperhatikannya?

“Hei, apa kamu kenal dengan perempuan itu?” tanyaku kepada salah satu orang. Tapi dia berkata, “Perempuan mana? Tidak ada perempuan di situ,” katanya sambil tertawa. Kenapa dia tertawa? Apakah aku orang gila?

Aku bertanya kepada orang-orang kenapa perempuan itu menangis dan jawaban mereka sama. Mereka seakan-akan tidak melihat perempuan itu. Padahal perempuan itu sangat jelas sedang bersedih di mataku.

Dan dengan penuh keberanian aku mendekatinya dan berkata, “Ha-ha-hai,” dengan penuh senyuman paksa.

***

“Woi, namamu kalau tidak salah Suju dan kamu selalu mengekor. Kamu tidak tahu apa kalau aku butuh privasi,” kataku kepada perempuan itu. Aku menggerutu di kamarku.

“Tentu saja tidak salah. Aku yakin kalau kamu adalah penyelamatku,” katanya dengan penuh semangat. Dasar, kalau aku tahu kalau dia hantu aku tidak akan menyapanya waktu itu. Pantas saja orang-orang tidak melihatnya. Tapi kecantikannya menyilaukan semuanya.

Dan yang lebih parah lagi dia selalu mengekor ka mana pun aku berada. Beruntung dia tidak mengekor kalau aku ke kamar mandi. Tapi … wajahnya yang cantik dan pakaiannya yang sexy membuat pikiran kotorku selalu keluar kalau sudah di kamar.

“Hmm … sepertinya kamu hanya belajar dan bekerja saja. Apakah tidak ada kegiatan lain?” tanyanya sambil memperhatikan aku yang sedang bekerja.

“Tidak ada. Keahlianku hanya belajar dan bekerja. Tidak ada yang lain.”

“Kalau pacar?” pertanyaan itu membuatku tersedak. Itu adalah pertanyaan keramat.

“Hehehe jangan tanya itu. Aku dari dulu tidak punya pacar. Aku sudah 25 tahun menjomblo,” kataku lemas. Yang artinya, sampai umurku 25 tahun pun aku tidak mempunyai pacar.

“Oh … pantas saja kamu jarang mandi. Ternyata jomblo ya,” katanya sambil tertawa terbahak-bahak. Dasar sialan! Kenapa dia meledekku!

“Tapi … aku yakin kalau kamu mendapatkan jodoh suatu saat nanti.”

“Huh … kenapa? Dari mana kamu tahu?”

“Soalnya aku jatuh cinta kepadamu,” dan kata-kata itu membuat aku kecewa 100%.

***

Suju memang hantu tapi dia belum mati. Tubuhnya koma di sebuah rumah sakit. Dia kecelakaan di taman itu makanya arwahnya selalu di taman itu. Dan aku baru mengetahui kebenaran ini secara tidak sengaja.

Aku lagi iseng pergi ke sebuah rumah sakit dan aku melihat seorang pasien yang mirip bangat dengan dia. Aku mendekatinya.

“Hei, apakah itu kamu? Bukankah kamu sudah mati?”

“Enak aja! aku belum mati! Aku masih hidup tahu. Lebih tepatnya setengah hidup sih. Hehe.”

Aku bertanya kepada dokter dengan keadaannya. Ternyata keadaanya sangat parah. Dia telah koma selama tiga bulan.

***

Aku selalu mendatanginya di rumah sakit. Aku ingin melihat perkembangan tubuhnya. Lambat laun aku semakin akrab dengan orang tuanya. Dengan perantaraku, Suju berhasil mengutarakan isi hatinya kepada orang tuanya.

Tubuhnya semakin lama semakin melemah. Aku ini adalah pegawai bank, aku tidak mengerti tentang kesehatan. Tapi … dalam hatiku yang dalam ingin berbuat sesuatu untuknya.

“Hei, apa yang bisa kulakukan agar kamu sembuh?”

“Mudah saja. Cium aku!” katanya setengah bercanda.

“Aku serius.”

Suju pun mulai serius. Dia menatapku dengan tatapan serius.

“Apakah kamu mencintaiku?”

“Apa-apaan dengan pertanyaan itu? Mana mungkin.”

“Apakah kamu mencintaiku?” tanyanya lagi.

Aku mulai memperhatikannya lebih serius. Dia ternyata sangat serius dengan pertanyaannya. Aku menggenggam tanganku.

“Ya, aku mencintaimu. Makanya cepat sembuh!”

“Terimakasih,” katanya sambil berlinangan air mata.

***

“Papa, dari dulu kamu tidak berubah ya! Entah apa kerjaanmu di kamar mandi,” kata istriku. Ya, dia adalah hantu yang mengekor kepadaku. Entah keajaiban apa yang terjadi pada dirinya. Tiba-tiba dia sadar. Aku mendatangi tubuhnya dan di saat yang sama dia langsung mengatakan kepada orang tuanya kalau aku adalah calon suaminya.

Berhubung orang tuanya sudah akrab denganku, ya … aku dapat restu.

“Ya terserahku mau ngapai di kamar mandi!” kataku dengan berteriak.

“Berhubung kita sudah suami istri, tidak ada salahnya kan kalau aku bergabung,” katanya manja.

“JANGAAAAANNNNN.”

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here