Guru yang Paling Berkesan Bagi Saya (BC65)

guru

Masa sekolah itu adalah masa dengan belajar setengah-setengah. Maksudnya di sini, setengah belajar dan setengah bermain. Jarang ada yang full time of belajar. Kalau ada pun, pasti dia anak yang jenius banget.

Dan masa sekolah erat kaitannya denga guru. Gurulah yang berjasa mengantarkan saya hingga seperti saat ini. Walaupun saya masih belum ada apa-apanya sih, tapi saya berterimakasih kepada guru yang dengan sabar mengajarkan saya.

Saya paling ingat dengan satu guru di SMA saya dulu. Dia adalah guru kimia waktu itu. Ok, saya memang jurusan Kimia, tapi sejak SMA saya kurang suka dengan kimia. Saya merasa berkesan kepadanya, karena guru tersebut mengajar dengan gaya yang santai. Saya suka dengan mengajar santai.

Entah kenapa beliau pandai sekali memanfaatkan situasi. Beliau tahu kapan untuk bercanda dan juga tahu kapan untuk serius. Hal tersebut yang membuat saya senang.

Oh ya, ada lagi guru saya waktu SMA guru PKn. Guru tersebut juga memiliki gaya mengajar yang santai, dan dapat menjelaskan pelajaran dengan bahasa yang mudah banget dimengerti. Tahu juga kapan untuk serius dan kapan bercanda.

Karenanya, sampai sekarang saya berusaha untuk mengajarkan pelajaran dengan gaya santai dan mudah dimengerti. Apalagi pelajaran yang saya kuasai yaitu kimia. Aduh, pelajaran kimia termasuk pelajaran yang susah sekali dimengerti.

Tapi, kalau dijelaskan dengan bahasa yang ringan dan santai, maka pelajaran kimia adalah pelajaran yang menyenangkan. Tapi itu dia, kebanyakan pelajaran kimia mengandung bahasa sains yang sulit banget. Guru saja sulit menjelaskannya apalagi murid yang menerima pembelajaran.

Oh ya, saya juga berkesan dengan guru bahasa Inggris waktu SMA dulu. Beliau ini termasuk guru yang aneh. Bila rata-rata guru suka dengan mengajar di kelas yang pintar-pintar, beliau tidak suka. Beliau sering mengatakan kalau mengajar di kelas yang pintar itu tidak menantang.

“Mengajar orang yang pintar itu ya mereka bakal mengerti, tidak usah diajari sebagian besar mengerti. Tapi mengajar di kelas yang tidak pintar, ada tantangan untuk memberikan pengajaran agar mereka mengerti,” saya masih ingat dengan apa yang dikatakan beliau. Waktu itu dia terpaksa mengajar di kelas saya, karena diancam kepala sekolah, katanya.

Dan pada akhirnya, saya mengerti dengan apa yang dirasakan guru bahasa Inggris saya. Memang benar, mengajar di kelas yang pintar tidak menantang. Tapi mengajar di kelas yang kurang pintar sangat menantang, itu yang saya rasakan.

Tulisan ini untuk menyelesaikan tantangan bloggers’ challenges yang ke enam puluh lima dengan topik, “guru yang berkesan.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here