Gadis Pantai yang Menangis (Cerpen)

malas menulis

Di tepi pantai yang airnya tidak begitu biru, hal ini terjadi karena banyaknya sampah yang dibuang di pantai ini. Warga suka sekali membuang sampah di tepi pantai ini. Entah apa yang dipikirkan warga masyarakat, yang ada dipikirannya, membuang sampah yang mereka hasilkan dari hadapannya. Dan pantai ini yang menjadi korban.

Sejatinya tidak ada yang ingin berada di pantai ini, karena penuh dengan sampah. Namun, tiga bulan yang lalu, aku tidak sengaja pergi ke pantai yang kotor ini. Terpaksa, karena ada tugas kuliah yang membuat aku harus ke sini. Semuanya pergi dengan teman kelompoknya, tapi aku pergi sendirian. Karena aku tidak punya teman kelompok, aku adalah orang yang terbiasa sendiri, tidak mampu berbuat apa-apa. Di luar banyak yang berkata kalau aku adalah orang yang suka sekali menyendiri, bahkan sudah masuk ke zona nyaman. Aku tidak pernah terlihat sedih dengan kesendirian ini. Tapi sebenarnya hati ini tercabik-cabik akan kesendirian ini. Tapi apa daya, aku kesulitan mengubahnya, karena dulu tidak terbiasa berteman, akhirnya mencari teman adalah sesuatu yang sangat susah.

Sebenarnya aku kuliah di kota seberang, tapi aku terpaksa pergi ke kota asalku untuk riset “dampak sampah”, dan tempat yang sesuai dengan riset ini adalah pantai yang penuh dengan sampah. Perjalanan menuju kampung halaman membuat aku terkenang kembali, terkenang akan masa kecil.

Aku sering melihat teman seusiaku bermain, ada yang bermain petak umpet, ada yang kejar-kejaran, ada yang bermain bola, dan banyak lagi permainan yang mereka lakukan. Aku hanya bisa menatap mereka dari kejauhan. Terkadang ada yang mengajakku bermain, tapi aku langsung berlari tanpa sebab. Maka tidak sering aku dianggap anak yang aneh, hehe kenapa ya aku menjadi seperti itu.

Orang tuaku tampak heran dengan keadaanku, bukan hanya heran, mereka terkadang menginterogasiku, tapi aku pun kebingungan dengan keadaanku saat ini. Dan keadaan itu tetap bertahan hingga sekarang, betapa kasihannya diriku ini.

Gerbang perbatasan mulai terlihat, setelah melewati gerbang perbatasan ini, segala pemandangan akan berubah. Sebelum mencapai gerbang perbatasan kota kelahiranku, penuh dengan rumah-rumah. Rumah-rumah begitu banyak dan rapat, namun setelah mencapai gerbang perbatasan kota kelahiranku, sangat sedikit sekali rumah yang berdiri. Memang, jumlah penduduk kota kelahiranku tidak banyak. Mereka lebih memilih merantau ke luar kota. Mungkin aku juga demikian.

Setelah turun dari stasiun Bus, aku langsung pergi ke pantai. Aku tidak ingin menghabiskan waktu. Jarak antara stasiun ke pantai lebih dekat daripada jarak antara bus ke rumahku. Dengan semangat aku pergi ke pantai tersebut, dan bau busuk semakin terasa ketika semakin mendekati pantai.

Dulu, baunya tidak sebusuk ini, ternyata tiga tahun aku meninggalkan pantai ini, baunya begitu busuk, hingga aku tidak tahan menciumnya. Mau tidak mau, aku memakai masker yang mampu menetralkan bau busuk.

Warna pantai sudah sepenuhnya berwarna hitam. Dulu sampah ini tidak sampai ke bibir pantai, kini sudah. Beberapa air pantai membawa sampah dari daratan untuk dibawa ke tengah lautan sana. Tidak ada yang bagus untuk dilihat dari pantai ini.

Sampah yang membusuk sudah semakin menumpuk, melebihi tingginya sebuah rumah. Bahkan sampah elektronik sudah dibuang di sini. Beberapa kulkas rusak, kompor rusak, mesin cuci rusak bertebaran di tempat ini. Tentu saja dengan keadaan yang memprihatinkan. Bahkan bangkai sepeda motor ditemukan di tempat ini.

Mungkin, kalau aku terluka dan lukaku menyentuh tempat ini, lukaku semakin parah dan aku harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan terbaik, melihat betapa ngerinya pantai ini.

Tapi … mataku tertuju di kejauhan. Seorang gadis menggunakan gaun berwarna putih, tunggu dulu, itu gaun pengantin? Dia memegang setangkai bunga berwarna putih, aku tidak tahu bunga apa itu, karena aku tidak familiar dengan nama bunga. Rambutnya berwarna hitam memanjang sampai ke punggungnya. Sekilas aku melihat gadis itu sangat cantik. Tapi, ketika aku mengetahui dia memakai baju pengantin, kecantikannya langsung berkurang.

Dia melepaskan bunga yang dia pegang sedari tadi. Bunga tersebut terbang mengikuti angin. Kemana arah angin, kesanalah bunga tersebut terbang. Dan angin membawa bunga itu menuju tengah laut, hingga bunga tidak kelihatan lagi. Dan mataku semakin terbuka, aku melihat gadis itu mengeluarkan air mata.

Aku hanya terdiam, tak bisa bergerak sedikitpun. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan. Karena aku tidak kuasa untuk mendekatinya, karena diriku yang bodoh ini. Aku hanya bisa melihatnya dari jauh.

“Ahhhhhhhh!” gadis itu berteriak kuat sekali. Seandainya jarakku dengan gadis itu sangat dekat, mungkin teriakknya akan menyakitkan telingaku. Karena jarak kami begitu jauh, teriakannya tidak menyakitkan telingaku tapi menyakitkan hatiku. Entah kenapa hatiku terasa sakit mendengar teriakannya. Tanpa sadar aku mengeluarkan air mata.

“Eh? Kenapa? Kenapa aku menangis?” itulah yang aku pikirkan. Aku tidak kuasa menahan air mata ini.

“Sedang apa kamu di sini?” entah sejak kapan gadis itu berada dekat sekali denganku. Ketika aku memikirkan kenapa aku menangis, gadis itu sudah berada di hadapanku. Dia belum sempat untuk menghapus air matanya. Air matanya masih mengalir deras.

Aku tidak dapat membuka mulutku, aku ingin sekali berlari seperti yang biasa aku lakukan, tapi aku tidak bisa berlari. Ada yang menahan kakiku untuk berlari. Apa yang menahanku? Apa air matanya yang menahan diriku?

“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya perempuan itu lagi. Kini suaranya melemah, suaranya tidak sekuat perkataan yang pertama tadi.

Aku memberanikan diriku untuk berbicara. “Tenang saja semua akan baik-baik saja,” kata itu yang aku katakan dalam hati. Aku mengumpulkan keberanianku untuk berkata, “Aku di sini untuk melakukan risetku. Dan aku tidak sengaja melihiatmu menangis?” ketika aku berkata, “Menangis,” tanpa sengaja air mataku mengalir juga. Ada apa ini? Seakan aku dan dia berbagi perasaan.

“Kalau begitu, temani aku menangis!” kata perempuan itu terus menangis di hadapanku. Kami tetap seperti itu sampai dia puas menangis. Dan kami pun berpisah tanpa mengucap kata perpisahan.

***

Selesai kuliah, ternyata kuliah lagi. Ah … aku tidak tahan akan kuliah tapi rasa haus pengetahuan semakin melahap tubuhku yang lemah ini. Maka dari itu, aku memutuskan kuliah lagi, mencapai pendidikan yang lebih tinggi dan tanpa terasa aku telah menyelesaikan perkuliahanku.

Awalnya aku pikir aku akan tinggal di luar kota, menatap selamanya di sana. Hidup berbahagia di sana. Ternyata aku salah. Aku langsung kembali ke kampung halamanku. Ada dua alasan kenapa aku kembali. Pertama aku ingin memajukan kampung halamanku, yang kedua ilmu yang kukuasai hanya bisa digunakan di kampung halamanku. Sepertinya diriku ini kena kutukan kampung halaman.

Gerakan yang pertama aku lakukan untuk memajukan kampung halamanku adalah sampah yang ada di pantai. Aku dengan semangat membersihkan sampah ini. Awalnya hanya aku sendiri yang melakukannya, tapi lama kelamaan aku dibantu oleh warga. Mereka juga tidak suka dengan pemandangan pantai yang penuh dengan sampah, tapi tidak ada yang mau memulai. Hingga akhirnya pantai ini bebas dari sampah. Tapi ada lagi permasalahan, airnya tetap berwarna hitam. beruntung ilmuku berguna, “Mungkin inilah yang membuat aku belajar keras selama ini,” pikirku dalam hati. Hanya dengan tiga bulan, pantai yang awalnya jelek, berubah menjadi cantik.

Dengan berubahnya menjadi cantik, pantai ini menjadi daya tarik wisatawan. Sedikit demi sedikit, kehidupan di kampung halamanku berubah total. Yang awalnya tidak ada yang ingin tinggal di kampung halamanku, sekarang berbondong-bondong. Semua tampak senang denga perubahan itu. aku juga sebenarnya, tapi ada yang masih mengganjal di hatiku.

Akhir-akhir ini aku semakin sering berinteraksi dengan orang-orang sehingga membuatku punya banyak teman. Entah sejak kapan, rasa gugup, ingin lari ketika bertemu dengan orang baru, kini sudah hilang. Sekarang aku nyaman berbicara dengan orang lain.

Dan … di lubuk hatiku masih menunggu dirinya, gadis yang waktu itu, waktu kami bersama menumpahkan air mata., seakan kami berbagi perasaan.

Hingga kini, aku masih saja menatap pantai, di tempat yang sama ketika kami berdua bertemu. Hmm … kemana dirinya? Apakah dia sudah meninggalkan tempat ini? Aku tidak tahu. Aku hanya ingin bertemu dengannya, walau hanya sekali.

Hari ini begitu cerah. Pantai sangat indah dengan warna biru dan pasir putih. Kebetulan pantai sepi, karena hari ini hari sibuk bekerja. Aku memegang bunga berwarna putih. Aku membayangkan gadis itu menggenggam bunga berwarna putih, aku menirukannya.

Perlahan-lahan aku melepaskan bunga tersebut. Membiarkannya terbang mengikuti angin. Namun, beberapa tahun yang lalu, bunga yang dilepaskan gadis itu terbang ke tengah lautan, kini terbang menuju ke samping, aku mengikuti bunga tersebut dan mataku langsung melotot tidak percaya. Untuk yang kedua kalinya kami bertemu.

Dulu dia memakai pakaian pengantin, kini dia menggunakan pakaian biasa saja. Namun warna pakaiannya tetap sama, berwarna putih. Kini dia memakai topi yang agak lebar untuk melindungi dirinya dari panas matahari. Rambutnya tetap hitam dan memanjang.

“Jadi, pantai yang waktu itu telah hilang ya?” gadis itu tersenyum.

“Iya, sudah hilang. Kamu mengubahnya,” kataku dengan senyuman pula.

“Kenapa bisa seperti itu?”

“Karena pada saat itu, aku dan kamu menangis bersama, aku bertekad mengubah pantai ini menjadi lebih indah. Sehingga ketika kita bertemu lagi, semuanya dalam keadaan bahagia,” kataku dengan suara yang lembut. Aku ingin sekali menumpahkan air mataku, tapi aku berhasil menahannya, begitu juga dengan gadis itu.

“Hahaha, dasar aneh. Tapi … aku yakin pertemuan kita hari ini penuh dengan suka cita.”

“Iya, kamu benar.”

“Namamu?” tanya gadis itu. Iya, aku tidak tahu dengan namanya. Kami waktu itu hanya menangis dan berpisah tanpa berkenalan.

Mungkin ini adalah takdir. Pertemuan yang kedua kalinya, pertemuan yang aku nantikan. Akhirnya aku berhasil bertemu dengannya sekali lagi. Walau kenyataannya sangat pahit. Karena aku sudah tahu, kalau gadis itu adalah hantu penunggu pantai ini. Dia menangis melihat pantai ini begitu buruk, dan dia bahagia melihat pantai ini begitu indah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here