Fenomena Pendidikan Siswa Nilai Tinggi Sulit Berkembang di Pekerjaan

lelah bekerja

Seorang anak dengan kecerdasan yang luar biasa. Dari SD telah mendapat juara 1. Kehidupannya di sekolah begitu mudah. Semua guru menyayangi dirinya. Begitu juga dengan kehidupan SMP. Dia selalu mendapat juara 1. Teman-teman dan guru menyayanginya. Rasanya sekolah itu sangat mudah baginya. Karena memang otaknya yang cemerlang.

Berlanjut juga di masa SMA, yang mana di SMA juga langganan juara 1 dan juara Olimpiade. Dengan prestasi yang demikian, dia dengan mudah masuk di Perguruan Tinggi Negeri. Di bangku kuliah juga dia kuliah dengan mudah. Sederet IP tinggi selalu dia dapatkan. Prestasi akademik ketika di bangku kuliah juga berhasil dia raih dengan mudah.

Dia wisuda dengan mudahnya. Namun, setelah wisuda dan terjun ke dunia kerja. Di sanalah dia menemukan masalah. Yang mana dunia kerja bukan hanya mengandalkan kepintaran akademis. Kepintaran akademis hanyalah sekian persennya saja.

Pertama adalah mencari pekerjaan. Teman-teman yang lain yang kemampuan akademis yang tidak lebih baik daripada dirinya dengan mudahnya mendapatkan pekerjaan. Sedangkan dia sangat sulit mendapatkannya. Kenapa? Hal ini karena kemampuan temannya yang mampu membaca peluang. Temannya mengetahui peluang yang kecil tersebut yang membuat dia diterima. Karena kehidupan dia yang begitu mudah karena otaknya cemerlang di SD sampai bangku kuliah, dia tidak mengerti dengan peluang.

Berbagai cara dia berusaha mendapatkan pekerjaan hingga akhirnya dapat juga. Namun, masalah juga timbul di dunia pekerjaan. Di mana yang dibutuhkan di sana bukanlah kemampuan akademis yang hebat. Namun sebuah kerjasama tim, kemampuan komunikasi, skill yang hebat, dan mampu mengambil peluang.

Dia semakin tertekan, yang mana dia tidak mengerti akan semua hal tersebut. Dia hanya tahu mengenai hidup dengan otak cemerlang maka hidupnya akan sangat mudah. Di bangku pendidikan memang nilai yang paling utama. Namun di bangku pekerjaan bukan nilai yang paling utama.

Dari kecil dia telah dimanjakan dengan kehidupan yang mudah. Mungkin dia tidak begitu menemukan masalah yang sulit ketika di bangku sekolah. Sehingga dia tidak terbiasa menghadapi masalah ketika di pekerjaan. Sehingga dia sulit untuk beradaptasi di dunia pekerjaan.

Kemampuan adaptasi juga mempengaruhi kemampuan berpikir seseorang. Inilah yang semakin ditakutkan. Walau dia pintar dengan otak encer, namun karena kemampuan adaptasi memecahkan masalah di pekerjaan kurang. Lambat laun kemampuan akademisnya juga akan menurun. Hingga akhirnya dia tenggelam dengan stigma kerja dan gaji itu-itu saja, sangat sulit berkembang.

Memang banyak banget fenomena di luar sana. Dimana seseorang yang tidak begitu bagus dalam hal akademik, justru dia sukses di lingkungan pekerjaan. Sedangkan dia yang begitu bagus di lingkungan sekolah, tidak sukses di pekerjaan. Kenapa hal tersebut bias terjadi?

Kita kesampingkan dulu EQ, yang mana EQ lebih baik daripada IQ. Salah satunya adalah karena pengalaman. Seseorang dengan kemampuan akademisnya bagus, dia akan dimanjakan dengan kehidupan sekolah yang mudah. Segala hal mudah, menyelesaikan soal mudah, bertemu dengan guru mudah, mendapatkan nilai bagus mudah, memenangkan perlombaan mudah, bahkan masuk di dunia organisasi sekolah juga mudah.

Namun bagaimana dengan dia dengan kemampuan akademisnya yang biasa saja? Maaf saja sangat sulit untuk mendapatkan kemudahan di bangku sekolah. Harus benar-benar bisa membaca peluang sehingga dia terlihat di bangku sekolah. Menyelesaikan soal-soal rasanya itu sangat sulit, apalagi dengan mengikuti Olimpiade, bahkan bisa dibilang tidak mungkin. Guru-guru juga menganggap sebelah mata dengan siswa yang prestasi akademis lemah. Rasanya dia tidak seramah jika dibandingkan bertemu dengan siswa prestasi tinggi. Di bidang organisasi sekolah? Sangat sulit juga untuk berkembang. Jadi dia terbiasa untuk hidup keras dan bagaimana caranya mengambil peluang.

Nyatanya, itu sangat dibutuhkan di lingkungan pekerjaan. Sehingga apa yang terjadi? Seseorang yang terbiasa hidup sulit dan harus mengambil peluang akan sukses di pekerjaan, sedangkan seseorang yang tidak terbiasa akan sangat sulit untuk sukses.

Silahkan seseorang yang kemampuan akademis berargumen kalau seseorang bisa sukses karena relasi yang bagus. Namun, bukankah relasi juga peluang?

Satu lagi, orang yang sudah dimanjakan dengan kehidupan sekolah, dia akan menjadi pribadi yang egois. Dia akan sangat sulit menerima kritikan. Dan juga dia semakin tidak bisa bekerja sama.

Inilah kesalahan fatal. Kritikan dan kerja sama adalah hal yang sangat dibutuhkan dalam dunia pekerjaan. Kalau orang lain mengkritik diri sendiri, sebaiknya jangan marah. Siapa tahu kritikan yang dia lontarkan itu benar. Jangan sungkan untuk menjalin kerja sama dengan orang lan. Karena dengan bekerja sama, kemampuan kita akan semakin hebat, karena ada pemikiran baru. Kekurangan kita semakin tertutupi.

Inilah fenomena di dunia pendidikan. Jadi, jangan manja ketika di bangku sekolah. Biasakan hidup sulit. Mungkin Anda memiliki otak cemerlang dengan prestasi yang luar biasa. Kehidupan sekolah begitu mudah. Maka cobalah keluar dari zona nyaman. Coba bergabung dengan organisasi atau komunitas di luar sekolah, tentu saja yang sesuai dengan minat dan bakat Anda. Hal tersebut untuk melatih kemampuan kerja sama dan mengambil peluang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here