Dua Hati yang Tak Menyatu (Cerpen)

cinta baru

Perpisahan, mungkin inilah yang dirasakan dua buah hati, pria dan wanita yang berpisah oleh jarak yang cukup jauh. Alasan untuk berpisah bukan dikarang-karang dan bukan karena keinginan. Namun karena keterpaksaan. Sang pria akan pergi ke tempat yang jauh demi cita-citanya, dan sang wanita memilih menetap di tempat yang sama demi cita-citanya.

Dan perpisahan ini telah berlangsung beberapa tahun lamanya. Sungguh waktu yang lama untuk perpisahan, namun sang pria maupun wanita masih tetap mengingat masa-massa dulu mereka bersama.

Mungkin ada yang mengatakan kalau mereka cocok bahkan mungkin ada yang mengatakan kalau mereka jodoh. Namun, sebenarnya tidak. Mereka mungkin tidak akan menjadi pasangan resmi. Karena bagi mereka, hati yang sudah terlalu nyaman itu, tidak cocok dijadikan kekasih, tapi lebih cocok dijadikan sahabat.

Namun, apakah tidak ada sedikitpun rasa cinta di hati mereka? Hanya sang pria dan wanitalah yang tahu. Karena keduanya menutup rapat-rapat mengenai percintaan.

Kini sang pria mematung di sebuah danau. Hari ini hari Senin, seharusnya semua orang bekerja, namun hari ini adalah tanggal merah. Banyak orang yang memilih liburan di danau tersebut. Bukan karena keindahannya namun karena ketenangannya.

Di danau ini, entah sihir apa yang menyebabkannya, semua orang lebih memilih diam. Bahkan, anak-anak yang biasa membuat keributan, ketika berada di danau ini tidak jadi ribut.

Konon ada sebuah legenda mengenai danau itu. Sebuah naga yang tidur tenang di danau itu. Dia menjaga negara itu dari marabahaya, namun dia tidak suka dengan keributan. Ketika dia mendengar keributan, maka terjadilah gempa bumi.

Itu memang sebuah legenda, dan beberapa ilmuwan tidak menemukan naga di dasar danau tersebut. Namun masyarakat masih memiliki kepercayaan yang kuat.

Pria itu masih menatap danau. Dia kembali mengingat, masa-masa ketika bertemu dengan sahabatnya. Potongan film memori mulai berputar di otak pria tersebut.

***

Beberapa tahun yang lalu, pria itu adalah pria penyendiri. Dia asyik dengan dunianya sendiri. Hal itu karena dia pernah sakit hati karena dia mencoba untuk bergaul. Sehingga, daripada mendapatkan sakit hati itu kembali, dia lebih memilih sendiri. Dia lebih asyik dengan dunia maya daripada dunia nyata. Dia selalu membawa satu buah laptop untuk tempatnya menulis. Menulis fiksi adalah cara dia untuk mencurahkan isi hatinya.

Dia berada di tepi danau, danau tersebut sangat kecil. Namun, danau itu cukup indah dengan warna biru dari air danau itu. Dia duduk di dekat pohon, dia bersandar, dia membuka laptopnya yang mungil.

Sejenak dia memperhatikan danau tersebut. Walau danau ini cukup indah, namun sedikit yang mengunjunginya. Hal itu karena masyarakat lebih memilih liburan di luar kota daripada mengunjungi danau ini. Jadinya, keindahan danau ini bisa dikatakan sia-sia. Yang seharusnya dinikmati masyarakat lokal, justru dinikmati orang luar.

“Aku berdiam diri di tepian danau,” itulah kalimat pembuka dari cerita yang dia buat kali ini. Dia ingin bercerita kalau dia hari ini merasa kesepian. Biasanya, rasa sepi itu hanya bertahan beberapa menit saja. Namun, rasa sepi kali ini begitu besar. Mungkin, rasa sepi yang ada di hatinya sudah tidak terbendung lagi.

Dia tidak memiliki teman, karena dia tidak ingin sakit hati lagi. Namun, harga yang harus dia bayar adalah kesepian.

Pria itu menulis tanpa henti di keyboard laptop mungil. Dia menulis curahan hatinya dicampur aduk dengan karangan fiksi. Entah kenapa hal tersebut lebih nyaman baginya daripada menulis langsung curahan hatinya.

Namun, setengah jam dia asyik menulis, seorang wanita duduk di samping pria tersebut. Bukan hanya duduk, dia bersandar di bahu pria itu.

Sontak saja pria tersebut terkejut bukan main. Dia tidak pernah menjadi tempat sandaran, tiba-tiba dia menjadi tempat sandaran orang tidak terkenal, wanita pula itu. Pria itu tiba-tiba tidak fokus menulis. Jantungnya berdetak kencang.

“Ada apa ini? Siapa ini? Kenapa dia begini? Bagaimana caranya dia bisa bersandar?” rasanya itulah yang ada di pikiran pria itu.

Wanita itu bersandar di bahu pria itu sambil memejamkan matanya. Jika dia tidur, maka akan terdengar suara lembut khas tidur, namun dia hanya memejamkan matanya saja. Dna pria itu tidak berani untuk menegur wanita itu. Dia terlalu gugup untuk pengalaman pertamanya.

“Biarkan aku bersandar di bahumu,” kata wanita itu dengan lembut dan bersuara pelan. Walaupun pelan, pria itu mendengarnya. Dan pada akhirnya, dia membiarkan wanita itu bersandar di bahunya. Dan keadaan pria itu seperti patung.

“Ternyata kamu kesepian ya?” itulah yang ada di pikiran wanita itu. Pada saat wanita itu berjalan mengelilingi danau, baru kali ini dia ke danau tersebut. Padahal rumah dia dekat sekali dengan danau ini.

Dan samar-samar dari kejauhan, dia melihat seorang pria yang duduk sendirian bersandar pada pohon yang rindang. Dia asyik mengetik di keyboard mungilnya. Dan dari wajah pria itu, terlihat kalau dia kesepian. Entah kenapa, wanita itu mampu membacanya.

Sehingga wanita itu berinisiatif untuk bersandar di bahu pria itu. Mungkin itu akan mengusir kesepiannya.

***

Seorang wanita sedang menatap danau di dekat rumahnya. Semenjak perpisahan dengan sahabatnya, dia sering sekali melihat-lihat danau itu. Dia sering bersandar di pohon rindang, tempat pertemuan pertamanya dengan pria itu.

Dia terkadang tersenyum sendiri, ketika mengingat pertemuan pertamanya. Awalnya, dia tidak menyangka kalau dia adalah teman wanita pertamanya.

Si pria terus dia mematung, hal tersebut membuat sang wanita tertawa kecil. Baru kali ini dia menemui pria yang polos banget.

Si wanita mengangkat kepalanya, dia tidak lagi bersandar. Dia kini duduk di samping pria itu. Jarak mereka sepuluh centimetar.

“Hey, kamu kesepian ya?”

Pria itu langsung terkejut batin. Dia tidak kenal dengan wanita itu, namun wanita itu mampu menebak isi hatinya.

“Ti-ti-tidak, aku tidak kesepian,” kata pria itu terbata-bata karena gugup banget.

“Yakin tidak apa-apa?” goda wanita itu. Entah kenapa sikap si pria yang polos dan gugup itu membuat wanita itu tertawa kecil. Ada rasa senang kalau dia sedikit menjahili pria itu.

“Ya-ya-yakin banget!” kata pria itu dengan penekanan suara namun tetap terbata-bata.

“Hahaha lucu banget sih kamu.”

Jleb gitu, ketika wanita itu mengatakan kalimat itu, ada pisau yang menusuk dada pria itu.

“Ma-ma-mak–.”

“perkenalkan namaku Putri,” potong wanita itu.

Sang pria semakin tidak mampu berpikir. Baru kali ini ada wanita yang mengajak dia kenalan. Dia antara senang dan takut. Takut kejadian yang membuatnya sakit hati terulang, walaupun itu dia berteman dengan pria sih. Dan senang karena ada yang mengajaknya kenalan, wanita lagi, dan dia penuh harap kalau wanita itu akan menjadi temannya.

Pria itu terdiam seribu bahasa. Dia memikirkan kata-kata apa yang harus dia ucapkan. Padahal hanya mengatakan namanya saja, namun dia memikirkannya begitu dalam. Wajahnya tampak memikirkan sesuatu.

Pria itu semakin berpikir semakin tidak menemukan kata-kata yang tepat. Hal itu karena rasa gugupnya sudah teramat parah. Bahkan, jantungnya seperti mau meledak.

“Kalau kamu tidak mau mengatakan namamu, tidak apa-apa kok. Aku nggak kepo orangnya. Kalau kamu tidak mau mengatakan namamu, kamu akan kupanggil ‘Budi’.”

Jleb untuk yang kedua kalinya. Karena nama pria itu adalah Budi. Kenapa pas pula dengan tebangan Putri. Membuat Budi semakin tidak bisa berpikir jernih.

Tiba-tiba pandangannya semakin kabur. Di bola matanya mungkin terlihat sedang berputar-putar. Dan tidak lama kemudian dia pingsan untuk beberapa saat. Satu menit saja pingsannya, setelah itu dia sadarkan diri.

***

Semakin hari, semakin dalam pertemanan Putri dan Budi. Budi memang tidak bisa menghilangkan kebiasaan gugupnya. Walaupun sudah sangat akrab dengan Putri.

Putri memang wanita populer karena dia orangnya cantik dan gampang bergaul. Namun, dia lebih memprioritaskan Budi sebagai temannya daripada temannya yang lain. Entah kenapa, jika bersama dengan Budi, ada ketenangan yang dia dapat.

Kalau Budi … tentu saja dia memprioritaskan seutuhnya bersama Putri. Karena dia memang tidak punya teman.

Putri orangnya banyak cerita, dia sering mencurahkan isi hatinya. Dan itu hanya bersama Budi. Dan Budi adalah pendengar yang baik. Dia mendengarkan apa yang dikatakan Putri, bahkan mencatatnya. Dia hampir mengingat semua apa yang dikatakan Putri.

Sedangkan Budi, masih asyik mencurahkan isi hatinya di blog dalam bentuk tulisan fiksi. Dan Putri menyadari hal tersebut. Walaupun Budi berusaha untuk menyamarkan curahan hatinya, Putri tetap menyadarinya. Dan terkadang, Putri membahas apa yang dia temukan di tulisan Budi.

Putri orangnya lemah, dia sebenarnya penakut. Dan Budi sesungguhnya orang yang berani. Dia tidak takut dengan apapun, karena dia memang sudah terbiasa sendiri. Putri sering sekali meminta tolong kepada Budi untuk menemaninya, jika dia berpergian di tempat asing.

Banyak kenangan antara Budi dan Putri dan anehnya mereka saling melengkapi satu sama lain.

Hingga pada hari itu, mereka harus berpisah. Walaupun Budi tampak sendirian sebelumnya, dan tidak memikirkan cita-citanya, namun dia memilikinya. Dia ingin mencapai impiannya. Dan untuk mencapai impian itu, dia harus pergi ke tempat yang jauh.

Dan Putri juga memiliki impian. Namun, impian itu bisa dia dapatkan di kota tempat dia berada.

Sebuah perpisahan yang menyakitkan. Budi dan Putri akan kehilangan sosok yang membuat mereka nyaman. Namun, mereka harus merelakan masing-masing. Mereka sudah menyadari sebelumnya, cepat atau lambat mereka akan berpisah.

“Hari-hari ya! Jangan keenakan sendiri. Cari dong teman di kota sana.”

“Mungkin aku tidak punya teman di sana. Temanku hanya kamu Putri.”

“Haha dasar! Kamu pikir aku akan tergoda dengan gombalanmu?”

“Aku tidak gombal. Aku jujur.”

“Sudah-sudah, pergi sana. Jangan lupa kembali ya!” kata Putri.

Budi pun berjalan menuju pintu bandar. Ketika Budi telah hilang seutuhnya dari pandangan Putri, Putri pun menumpahkan air matanya. Rasanya, perpisahan ini terlalu sulit baginya. Dan Budi, dia memang tidak mengeluarkan air mata. Namun hatinya menjerit.

Dan kini, telah lima tahun mereka berpisah. Budi tidak mendapatkan teman, Putri memang memiliki teman. Namun tidak ada teman yang membuat hatinya tenang.

Pada malam harinya, Budi dan Putri masing-masing merebahkan di tempat tidur masing-masing. Rutinitas yang melelahkan, membuat mereka berdua merasa nikmat ketika merebahkan diri di tempat tidur.

Namun, sebelum menutup mata mereka, mereka sama-sama berkata, “Aku mencintaimu tapi aku tidak tahu apakah kamu mencintaiku atau tidak. Aku tidak mau merusak persahabatan ini. Namun, jika memang kita sama-sama saling mencintai, aku ingin kita saling mencintai di sebuah pernikahan.”

Sebuah perpisahan menyadarkan mereka, bahwa Budi mencintai Putri dan Putri mencintai Budi. Namun, mereka sama-sama lebih memilih memendam perasaan ini. Karena mereka menginginkan perasaan ini akan terbalas di sebuah pernikahan.

Entah kapan pernikahan itu berlangsung. Namun, terkadang mereka berdua sama-sama memimpikan mereka akan menikah. Hanya waktulah yang menjawab apakah cinta mereka akan terbalas oleh pernikahan atau cinta itu akan tetap cinta tanpa kepastian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here