Photo di Meja Kerjaku dan Penantian (Cerpen)

Gadget Keren Buatan Indonesia Nggak Bikin Kantong Jebol

Sebuah photo terpampang jelas di meja kerjaku. Aku memperhatikan photo tersebut. Sejak kapan ya photo ini dibuat? Dua tahun yang lalu atau tiga tahun yang lalu. Pastinya sewaktu aku kuliah kalau tidak salah. Photo tersebut tetap terpampang meskipun … aku tidak pernah melihatnya. Walaupun di meja kerjaku, tapi aku lebih asyik menikmati laptop daripada memandang photo. Baru kali ini aku melihat photo tersebut.

Aku memandanginya. Bayangan akan masa lalu mulai menari satu per satu. Kalau tidak salah aku waktu itu adalah anak yang membina sosial. Sejak kapan aku kayak gini yang anti sosial? Mungkin karena pekerjaanku yang tidak membutuhkan keluar ruangan sehingga aku menjadi anti sosial begini.

Aku membuka laptopku, memerika email masuk. Oh … banyak juga pekerjaan hari ini. Aku mengembalikan photo tersebut seperti semua. Semua pekerjaan aku lakukan. Sepertinya aku akan begadang malam ini. Secangkir kopi hangat telah menemaniku.

“Andre, sepertinya kau belum berubah ya?” ingatanku tiba-tiba bicara saat sedang asyik bermain keyboard.

***

Huh … pekerjaan sudah selesai. Mudah-mudahan klien puas dengan pekerjaanku. Pukul sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Akibat kopi yang kuminum membuat aku tidak bisa tidur. Mataku kembali ke photo yang kulihat tadi.

Oh … dia adalah sahabatku yang sangat berarti untukku. Mungkin dia sekarang sudah menikah ya? Atau jangan-jangan dia berusaha mencari jodoh? Mengingat dirinya yang entah berantah itu.

Oh ya, iseng-iseng ku buka sosial medianya. Aku perhatikan photonya ternyata tidak berubah sedikitpun. Dan aku perhatikan statusnya masih saja jomblo. Padahal sudah tua, tapi masih saja jomblo. Apa tidak ada orang yang melamarnya apa? Aku memperhatikan teman dia, tidak ada yang aku kenali.

Aku menutup laptopku, memaksa diriku untuk tidur. Tidak berapa lama kemudian aku pun tertidur pulas.

***

“Andre, dari dulu kau begitu saja. Ingat ya! Aku selama ini menunggumu”

Aku langsung membuka mata. Mimpi? Tidak mungkin mimpi seperti itu? Apa yang terjadi? Aku memperhatikan jam, ternyata matahari sudah terbit.

Oh … hari ini aku ada deadline. Huh … kerja keras. Aku membuka laptopku dan ada beberapa email. Penghasilanku sudah ditransfer ke bank dan nominalnya sangatlah besar. Mencapai 5 digit angka nol. Oh … sebuah pencapaian yang besar. Oh ya, tabunganku sudah cukup. Kenapa tidak istirahat saja dulu?

Katanya sih istirahat. Tapi … setelah pergi ke kota tujuan untuk bermain, yang ada pada malam harinya tetap kerja juga. Oalah.

***

“Andre!” aku mendengar suara memanggilku begitu kuat. Siapa gerangan yang memanggilku. Aku membalikkan badanku ternyata dia. Sani, perempuan yang ada di photo itu. Kebetulan atau tidak ya?

“Loh kok ke sini? Bukannya kau ada di kota nan jauh di mata. Kok tiba-tiba ke sini?”

“Mau liburan,” kataku pelan.

“Oh … kok memilih kota ini?”

“Emang kenapa di kota ini?”

Sani langsung tepok jidat.

“Ini kota kelahiranku loh. Dan aku kerja di sini. Kenapa kau lupa sih?”

Ya … aku memang lupa dengan dirinya. Kalau tidak karena photo itu, mungkin aku lupa seutuhnya.

“Syukurlah kalau kau masih mengingatku. Oh ya, main-main yuk. Seperti dulu lagi.”

***

Selama tiga hari Sani menemainku bermain. Hari-hari bersamanya sangat menyenangkan. Dan … pada hari keempat, aku mendapat pernyataan yang sangat mengejutkan bathinku.

“Kau sudah menikah?” tanya Sani pelan dan penuh hati-hati.

“Belum.”

“Kenapa?”

“Ya … mungkin karena aku tidak tertarik menikah kali ya? Haha bercanda. Aku masih menunggu seorang perempuan. Perempuan di photo meja kerjaku. Kalau tidak salah aku bermimpi perempuan itu menungguku,” kataku tidak sadar.

“Ehm, photo di meja kerjamu?”

“Iya dia ph—,” sial! Kenapa aku mengatakannya dengan jelas dan tanpa sadar. Photo yang ada di meja kerjaku adalah perempuan di sampingku.

“Oh … jadi kau menungguku ya?” tiba-tiba Sani berubah menjadi penggoda.

“Bukan-bukan.”

“Emang siapa lagi yang memberikanmu photo? Seingatku hanya akulah temanmu.”

Aku hanya diam saja. Aku begitu malu. Mukaku memerah.

“Nggak apa-apa deh. Lagian aku pun menunggumu. Ternyata penantianku tidak sia-sia,” katanya sambil mencium lembut pipiku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here