Perempuan Penunggu (Cerpen)

Huh … pada akhirnya hari ini sama dengan hari-hari yang lain, begitu melelahkan. Aku sudah tidak sanggup menerima pelajaran apapun lagi. Kepalaku langsung puyeng. Sudah terlambat bangun, tidak sarapan, makan siang seadanya, ditambah dengan pelajaran yang berat, sudah, hebat banget hidupku.

Setelah dosen menyelesaikan pembelajarannya, aku langsung menghembuskan nafas lega. Karena sudah ngantuk banget, aku memutuskan untuk tidur di dalam kelas.

Di dalam tidurku, aku tidak bermimpi apapun. Yang kulihat hanyalah warna hitam tidak berujung. Namun, aku mendengar suara perempuan menangis. Aku menelusuri jalan, mengikuti suara perempuan itu. Namun, alangkah terkejutnya aku karena tiba-tiba perempuan berambut panjang, hitam, dengan kening berdarah muncul di depanku. Aku langsung terkejut dan seketika itu aku terbangun.

Mimpi? Ya … apa lagi kalau bukan mimpi? Sepertinya aku mimpi buruk. Oh ya, hari sudah gelap banget. Tumben pak Diki tidak membangunkanku. Biasanya dia membangunkanku.

Aku melihat jam dinding, jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Aku sebaiknya bergegas pulang. Aku melihat kantor staff, memeriksa apakah pak Diki masih di situ ternyata tidak. Mungkin dia sudah pulang kali. Aku pergi ke pintu, dan sialnya pintunya terkunci. Eh? Jadi? Aku akan menginap di sini?

“Hihihi,” tiba-tiba saja samar-samar aku mendengar suara perempuan ketawa cekikan. Ada apa ini? Bulu kudukku langsung berdiri. Instingku mengatakan kalau aku berada dalam bahaya.

Aku tidak menyerah, pasti ada pintu lain yang tidak dikunci. Aku memeriksa pintu satu per satu dan dikunci semua. Jendela juga dikunci, tapi memang aku tidak bisa keluar lewat jendela karena dilapisi besi. Akhirnya, terpaksa aku menginap di sini.

Aku menghidupkan lampu, lampu memang menyala tapi redup banget. Huh … sial banget. Tiba-tiba aja samar-samar aku melihat bayangan putih berlalu begitu cepat. What? Aku segera meluruskan pikiranku.

Aku pergi ke ruang praktikum. Katanya ruangan ini dulu adalah ruang penyiksaan. Dan aku tidak tahu kenapa aku berada di ruangan ini. Aku seakan dipanggil ke ruangan itu.

Ketika aku akan membuka pintu, tiba-tiba saja aku dihentikan. Tangan perempuan lembut menghentikan tanganku untuk membuka pintu. Seketika itu pula aku sadar.

“Eh … kamu terkunci di sini?” tanya perempuan itu kepadaku.

“Iya, aku terkunci. Aduh … padahal hari ini ada acara dangdutan lagi.”

“Hahaha, resiko kamu. Kenapa pula kamu mau bermalam di sini.”

Aku tidak mau menginap di sini. Tapi entah kenapa aku ketiduran dan pak Diki lupa membangunkanku.

“Oh ya, mumpung di sini, ayo kita ke ruangan atas. Aku bosan di ruangan sini.”

“Ok,” eh tunggu dulu! Perempuan itu siapa? Apa dia juga terkunci di ruangan ini?

“Tunggu dulu! Memang kamu terkunci juga?” tanyaku dengan lantang. Sekilas aku melihat ekspresi sedih di wajah perempuan itu. Namun langsung berganti dengan ekspresi ceria.

“Iya, benar sekali. Ayo!” katanya sambil menarik lenganku.

Tunggu dulu! Berarti aku akan berduaan bersama perempuan malam ini! Berdua-dua-dua-duaan. Tiba-tiba kapasitas otakku menjadi overload.

Aku memasuki sebuah ruangan yang aneh. Eh? Memang ada ruangan ini? Teringatnya tidak ada di ruangan ini sebelumnya? Ruangannya sangat terpencil dan terletak di ujung.

“Masuklah, di dalam nyaman banget loh.”

Aku mengikutinya saja. Aku membuka pintu dan di dalamnya memang nyaman banget. Memang seperti kelas kebanyakan, ada papan tulis putih dan ada bangku berjejer. Perempuan itu langsung duduk di bangku nomor 3 tepatnya di depan meja dosen.

Aku langsung duduk di sampingnya. Kami mulai bercerita panjang lebar. Entah kenapa cerita dengannya begitu menyenangkan. Hingga akhirnya jam menunjukkan pukul dua belas malam.

“Ayo sekarang tidur. Oh ya, awas kalau kamu macam-macam!” katanya setengah mengancamku. Aku menutup mataku dan akhirnya tertidur.

***

“Nak, nak, bangun nak,” tiba-tiba seseorang membangunkanku. Aku membuka mataku dengan sangat berat.

“Eh, pak Diki,” kataku dengan lemas.

“Kenapa kamu di sini nak? Ini gudang loh?”

Mataku langsung melotot. Ternyata aku sekarang berada di gudang. Dan tunggu dulu! Dimana perempuan semalam? Aku memalingkan wajahku ke kiri dan ke kanan tapi aku tidak menemukan perempuan itu.

“Apa kamu terkurung selama di sini?” tanya pak Diki.

“Iya benar pak.”

“Apakah kamu bertemu dengan perempuan dan kamu masuk ke dalam ruangan, ternyata itu adalah ruangan kelas.”

“Benar sekali pak.”

“Ternyata dia masih di sini,” kata pak Diki dengan ekspresi lega.

***

Akhirnya aku mengetahuinya. Perempuan itu adalah mahasiswi yang meninggal secara misterius di gedung ini. Dia kabarnya terkurung pada malam hari dan pagi harinya, mayatnya ditemukan di gudang ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here