Kesepian dan Kesedihan dalam Satu (Cerpen)

Kesepian dan Kesedihan dalam Satu (Cerpen)

Mungkin hal yang paling kuinginkan adalah mengusir kesepian ini. Aku sudah menahan rasa ini lebih dari lima tahun lamanya. Rasanya, aku cukup tahan dengan keadaanku ini. Namun, lama kelamaan rasa ini semakin menyiksa.

Terkadang aku tidak terganggu dengan keadaan ini. Aki baik-baik saja dengan keadaan ini. Tidak ada hal yang mengangguku. Namun, ketika aku berkumpul dengan temanku, aku berpura tersenyum di hadapan mereka. Rasanya, aku ingin tetap demikian, karena ketika berpisah, aku merasakan kesepian yang teramat dalam.

Ingin rasanya aku menghentikan waktu, tetap bersama temanku, walaupun kadang aku menganggap mereka bukan teman, namun, tetap tersenyum palsu mampu membuat diriku nyaman, setidaknya sedikit nyaman.

Daripada berpisah, rasa kesepian ini begitu menusuk hati ini. Aku bahkan tidak mampu berbuat apa-apa dari perasaan ini. Atau aku ingin tidak bertemu dengan temanku, di kala temanku mengajak untuk bertemu. Namun, pada saat mereka mengajakku, ada rasa yang tertahan selama ini. Ada rasa ingin bersama mereka, berbincang dan bercanda bersama. Rasanya, aku tidak mampu menahan rasa ini.

Dan kini, tiga puluh menit berlalu dengan perpisahan. Beberapa jam yang lalu, aku dan teman-temanku bercanda ria. Lalu akhirnya berpisah pun tiba. Rasa sakit di dada semakin terasa. Aku yang tidak sanggup untuk kembali ke tempat tinggalku, karena rasa sepi itu akan terus menggerogotiku, seakan rasa itu adalah lebah yang masuk ke dalam tubuhku. Lebih baik aku berjalan sendirian, dan sepanjang perjalanan kerjaanku melamun.

Mungkin karena sudah kebiasaan, aku mampu berjalan sambil melamun. Aku bahkan mampu melihat siapa yang di samping atau depanku ketika aku berjalan, walaupun pikiranku sedang melamun.

Namun akibatnya, aku tidak mendengar apa yang orang lain bicarakan. Bahkan, jika temanku di hadapaku, memanggil namaku, sedangkan waktu itu aku sedang melamun, aku tidak akan dengar. Aku akan terus melamun.

Dan akhirnya, aku bertemu secara tidak sengaja dengan perempuan itu. Perempuan aneh dengan senyuman tulusnya. Dia selalu tersenyum tulus kepada siapapun. Tidak seperti aku yang tersenyum paksa, penuh dengan topeng. Dan dialah yang pertama kali menyapaku.

“Hai, sedang melamun ya?” sapanya dan ketika itu aku memang berjalan sambil melamun.

Aku terus berjalan tanpa menghiraukan sapaannya. Mungkin dia jengkel kali denganku. Makanya dia mendekatkan mulutnya ke telingaku dan berkata kuat sekali, “Haloooooo!” sontak saja aku terkejut.

Aku kira ada apa gerangan, ternyata seorang perempuan di sampingku dengan pipi yang menggembung, menunjukkan kalau dia sedang jengkel. Tapi, karena aku tidak kenal dengan perempuan itu, aku tidak menghiraukannya. Aku terus berjalan, tanpa mengucap sapaan ramah dari mulutku.

Dan dengan cepat perempuan itu menarik bajuku, menahanku agar tidak berjalan meninggalkan dia.

“Kamu, sudah tidak mendengarku, mau meninggalkan aku pula. Kamu sadar nggak sih kalau aku ingin kenal kamu?”

Aku bingung, aku tidak tahu harus mulai dari mana. Secara aku tidak mengenal dia, dan aku memang tidak suka bertemu dengan orang baru. Aku lebih memilih menghindari orang baru. Mungkin itulah akibatnya, kenapa sampai sekarang aku tidak punya teman.

“Kamu dengar nggak sih?” katanya sambil mengembungkan pipinya. Kini matanya semakin sipit menatap diriku.

“Iya, aku dengar.”

“Jadi, hanya itu saja? Tanggapanmu datar sekali ya!” katanya dengan nada yang agak dipertinggi.

Jadi apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus berkenalan dengannya. Mengatakan kalau namaku Dana dia mengatakan nama dia, setelah itu kami berpisah. Aku tidak ingin merasakan kesepian ini untuk kedua kalinya di hari ini.

“Oh, sepertinya kamu kebingungan. Perkenalkan, namaku Dwi. Ya, aku anak kedua dari dua bersaudara. Aku punya kakak, tapi dia galak. Sebaiknya kamu tidak usah cari masalah dengan kakakku. Oh ya, kakakku juga perempuan. Jadi, hanya ayahku yang pria di keluarga kami,” katanya panjang lebar dengan penuh semangat. Rasanya dia bersemangat sekali dengan orang baru, sambil membicarakan sedikit tentang keluarganya.

“Oh…,” kataku datar. Dan itu sukses menambah kekesalan dirinya. Dia langsung mencubit pipiku.

“Hey, serang aku tanya siapa namamu? Kalau ada orang yang memperkenalkan namanya, jangan diabaikan!” katanya sambil mencubit pipiku.

Aku hanya pasrah saja dengan keadaan ini. Aku tidak bisa menghindari dari cubitan pipi. Sejujurnya, aku tidak menyangka kalau dia akan mencubit pipiku. Baru kali ini ada orang yang mencubit pipiku, karena kesal pula lagi.

“Baiklah-baiklah! Namaku Dana, cukup sekian perkenalan dariku,” katanya setelah Dwi melepaskan cubitannya. Rasanya, pipiku ini panas dingin.

“Oh … Dana. Salam kenal, mulai hari ini kita bersahabat.”

Seenaknya saja dia berkata demikian. Seharusnya berteman dahulu baru bisa dilanjutkan dengan sahabat. Namun dia langsung mengatakan kalau akan bersahabat. Hal tersebutlah yang membingungkan darinya. Aku yakin, setelah pertemuan ini, dia akan melupakanku.

Dan rasa kesepian ini dirasakan untuk yang kedua kalinya hari ini. Hanya dengan pertemuan singkat darinya, aku merasakan nyaman di dekatnya. Satu detik itu bagiku selama satu hari. Namun, perpisahan harus terjadi. Dwi seenaknya saja meninggalkan aku.

“Nanti kita berjumpa lagi ya!” katanya berlari pelan sambil meninggalkan aku. Aku tidak mengejarnya, karena rasa ini begitu sakit, aku tidak sanggup untuk melangkahkan kakiku.

***

Dan mungkin, hari ini ditakdirkan untuk kami bertemu kembali. Tiga hari setelah pertemuan yang pertama, dia menunjukkan dirinya secara tidak sengaja. Hari ini sedang hujan lebar, dan dia sedang menangis di hadapanku. Walaupun jarak kami lebih dari sepuluh meter, namun aku merasakan kehadirannya, sekaligus air matanya.

Entah siapa yang mendorongku, aku terus melangkahkan kaku menuju ke arahnya. Rasanya, ada seseorang yang mendorong badanku. Ingin ku berbalik meninggalkan dirinya, namun dorongan di belakangku begitu keras.

Aku berjalan, berjalan, dan berjalan menuju ke arahnya. Hujan yang lebat ini sedikirnya mengenai diriku. Aku memang menggunakan payung hari ini, aku memang membawa payung setiap hari untuk jaga-jaga. Namun, terkadang payung itu tidak efektif melindungi tubuh seutuhnya dari hujan. Apalagi ketika hujan lebat.

Dan perempuan itu, dia hanya mematung, kepalanya menghadap ke atas. Walaupun samar-samar namun aku melihat air matanya menetes. Dia membiarkan dirinya basah oleh hujan. Mungkin, itu untuk menyamarkan air matanya.

Atau mungkin hari ini dia terlalu bersedih, makanya dia demikian. Perempuan yang begitu ceria, bisa juga bersedih.

Aku mendekatinya dan secara refleks membagikan payungku. Hal ini agar dia tidak terkena hujan lagi. Dia menyadari keadaanku, dia menatapku begitu dalam. Aku tidak tahan dengan tatapan matanya, tatapan kesedihan. Hingga akhirnya dia ingin memelukku, namun secara refleks aku menghindar. Aku tidak pernah dipeluk orang, sehingga aku menghindar.

“Hiks, dasar, kamu jahat juga ya!” katanya. Aku tidak yakin, apakah dia berkata kepada diriku atau kepada orang lain.

“Ayo, sekarang hujan. Sebaiknya kita cari tempat berteduh,” kataku lembut sekali kepadanya seolah kami sudah sangat akrab.

“Tidak usah! Biarkan aku membasahi diriku. Aku ingin meluapkan kesedihanku di tengah hujan ini. Biarkan kesedihanku dihapus oleh tetesan air hujan.”

“Jangan berkata begitu. Kesedihanmu tidak akan dihapus hujan. Mungkin aku bisa menghapus kesedihanmu,” sejak kapan aku bisa berkata demikian ya? Aku tidak tahu, kata-kata itu refleks keluar dari mulutku.

“Seorang penyendiri sepertimu, kamu tidak mungkin bisa menghapus kesedihanmu. Ini tidak akan dipahami oleh penyendiri.”

Memang benar apa yang dia katakan. Aku ini penyendiri, aku tidak bisa bersosialisasi dengan orang lain. Hal yang bisa aku lakukan hanyalah menggunakan topeng dan pada akhirnya merasakan kesepian.

Namun, kali ini aku akan berusaha untuk berteman dengannya. Dorongan hatiku begitu kuat, tidak dapat ditahan lagi. Rasanya, kali ini aku lebih berbuat sesuai perasaanku, perasaan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah kurasakan.

“Tidak apa-apa, aku akan menghapus kesedihanmu.”

Mungkin dia akhirnya luluh juga dengan kata lembut pertamaku. Akhirnya dia mau mendekat kepadaku sambil berkata, “Baiklah, bawa aku ke tempat hangat dan aku akan bercerita. Tapi jangan bawa aku ke hotel!”

“Huh?” aku hanya berkata demikian. Aku tidak mengerti dengan perkataannya yang terakhir. Hotel? Kenapa pula aku harus repot-repot dan mengeluarkan uang banyak hanya untuk mendengarkan pembicaraan dia, ke hotel lagi. Lebih baik ke warung murah dengan menyediakan jahe hangat, itu sudah cukup. Dan aku ingin bayarnya bukan aku, tapi masing-masing.

Dan akhirnya, aku menemukan warung sederhana dengan menyediakan jahe hangat. Aku langsung memesan dua, karena aku juga kedinginan. Aku lemah dengan cuaca dingin.

Perempuan itu pun bercerita mengenai kesedihannya. Aku tidak menyangka, di balik senyuman tulusnya, ada kesedihan yang menerpa dirinya. Kadang dia berhasil melupakan kesedihan itu, namun kadang juga tidak berhasil. Ketika dia tidak berhasil melupakan kesedihan itu, dia lebih memilih bermandikan air hujan sambil menangis. Kalau diperhatikan, kesedihan itu datang ketika hujan tiba.

Dan pada hari itu, di warung itu, aku berhasil mengusir kesedihannya. Aku tidak menyangka kalau aku berhasil mengusir kesedihannya. Mungkin, karena aku selama ini menggunakan topeng, membuat aku memahami dirinya. Kurang lebih, aku sama dengannya.

Dan akhirnya, kami semakin akrab, berbagi rasa sepi maupun kesedihan. Aku memang tidak bisa menghilangkan rasa sepi ini seutuhnya. Setiap aku berpisah dengan dia, rasa ini datang begitu saja. Namun, tidak sesakit sebelumnya, karena aku yakin, keesokan harinya atau dalam waktu dekat, aku akan bertemu dengan dia.

Sedangkan Dwi juga demikian. Dia memang tidak bisa menghilangkan kesedihan itu seutuhnya. Namun, dia menemukan tempat dimana dia mampu berbagi kesedihan itu. Dengan demikian, kesedihan itu tidak lagi sakit seperti sebelumnya.

Mungkin ini dinamakan takdir. Dua orang insan yang berbagi rasa sakit satu sama lain. Saling melengkapi satu sama lain. Dan saling mendorong satu sama lain.

Ketika bersama orang lain, Dana dan Dwi akan memakai topeng yang sempurna yang tidak tertembus oleh siapapun. Namun, ketika mereka berdua bertemu, mereka akan membuang topeng tersebut jauh-jauh.

Dan pada akhirnya, baik Dana maupun Dwi berpikir, tidak mungkin ada cinta bagi mereka. Orang lain mungkin berpikir kalau mereka adalah pasangan serasi. Namun, keduanya menganggap kalau kedekatan itu hanya sebatas sahabat saja. Tidak mungkin bisa berkembang ke masalah romantis.

Mungkin mereka tidak menyadarinya, karena mereka masih bersama. Mungkin mereka menyadarinya ketika mereka berpisah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here