Bulan Sabit Simbol Pertemanan dan Perpisahan Kita (Cerpen)

Di kegelapan malam, tepatnya pada pukul dua belas malam, aku keluar dari rumahku. Aku ingin melihat sesuatu, sesuatu yang sudah jarang kulihat.

Aku mengadahkan kepalaku ke atas. Sebuah pemandangan langit yang teramat terang. Di sana ada bulan sabit dengan senyumannya ditemani planet venus di dekatnya. Selain itu, bertaburan juga bintang yang indah. Walaupun ini tengah malam, namun langit tidak berwarna hitam, melainkan berwarna biru.

Di kegelapan malam tersebut, aku mengingat seseorang. Seseorang yang telah mengubah diriku, seseorang yang mengajariku diriku tentang arti kehidupan. Sekarang, dia berada di tempat yang jauh yang di sana. Besok, aku akan menemuinya.

Kira-kira satu tahun yang lalu. Aku pergi merantau ke ibukota. Kehidupan ibukota yang keras membuatku berperilaku keras juga. Aku juga mengikuti gaya consumeris mereka sehingga aku selalu kekurangan uang.

Aku meneguk sebotol alkohol di siang bolong. Pikiranku waktu itu sedang kalut. Aku baru saja di PHK. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Baru beberapa bulan aku kerja, tiba-tiba perusahaan tempat kerjaku bangkrut. Dan sialnya, aku tidak mempunyai tabungan. Uang yang tersisa adalah botol minuman alkohol ini.

“Wah-wah-wah ada cewek mabuk di siang bolong gini. Ada masalah ya?” tiba-tiba datang seorang cowok yang tidak dikenal menegurku. Tentu saja aku merasa terganggu.

Karena aku tahu kriteria cowok seperti itu. Dia akan berusaha sok akrab di depanku, setelah itu tedjadilah perbincangan yang hangat. Setelah selesai berbincang, kami pun pergi ke hotel dan terjadilah sesuatu di sana.

Selama ini aku menjaga diriku. Namun kali ini, kubiarkan cowok itu menyentuhku.

“Oh kamu sok akrab denganku. Kamu ingin menyentuhku ya?” kataku blak-blakan. Aku tidak suka basa-basi.

“Menyentuhmu? Seperti ini?” cowok itu menyentuh lembut tanganku. Mukanya kelihatan bego dan kebingungan. Apa sebenarnya yang dia pikirkan? Apakah dia bodoh atau pura-pura bodoh.

“Seperti ini!” tiba-tiba aku bergerak cepat. Aku ingin bibirku menyentuh bibirnya. Tapi cowok itu menghentikanku. Dia bahkan menutupi bibirku dengan tangannya. Walaupun aku mabuk, tapi hal tersebut cukup membuatku terkejut.

“Apa yang kamu lakukan? Kamu tidak pantas melakukan itu. Seharusnya kamu menjaga dirimu,” katanya memarahiku. Aku langsung berkata, “Berisik!” dengan keras sembari meneguk alkohol. Penolakannya cukup mengguncang hatiku.

Perlahan-lahan aku mengeluarkan air mata. Aku tidak tahu apa sebab aku menangis. Tapi air mata ini tidak berhenti. Cowok itu duduk di samping. Secara tidak sadar aku meminjam bahunya untuk menyandarkan kepalaku. Dia juga mengelus rambutku sehungga aku tenang.

Dan setelah kejadian itu, aku mulai mengenal dirinya. Hingga suatu hari, aku ditemui oleh seorang cewek.

“Hei dengar ya! Sebaiknya kamu jauhi Arman. Karena dia adalah tunanganku!” kata cewek itu begitu tegas namun aku tidak mempercayainya. Karena tidak ada cincin yang melingkar di tangannya.

Aku menanyakan di mana cincin tunangannya namun cewek itu mengelak. Dan ketika aku bertanya perihal cewek itu kepada Arman, dia lalu menceritakan semuanya. Bahwa dia, cewek adalah cinta yang gagal.

Seharusnya dia akan menikah dengan cewek itu, namun cewek itu menganggap Arman sebagai budak. Dia harus mengikuti perintah cewek itu. Dan pada akhirnya Arman memutuskan hubungan dengannya. Orang tua cewek itu marah dan memjebak Arman, sehingga Arman terlilit hutang yang sangat banyak. Karena itulah dia bekerja keras.

Jika dipikir-pikir kehidupannya jauh lebih berat daripadaku, namun dia selalu tersenyum. Selain itu, dia lebih berhemat, dia hanya memikirkan makanan yang memenuhi perutnya bukan nafsunya. Melihat hal tersebut aku jadi tersadar apa kesalahanku. Untuk yang kedua kalinya, aku menangis. Aku meminjam bahu Arman sebagai sandaranku. Dia kelihatannya bingung namun aku tidak peduli.

***

Hari mencari pekerjaan baru sungguh melelahkan, namun Arman selalu menyemangatiku. Dia juga memberikanku lowongan pekerjaan yang dia dapat di kantornya.

Aku dan dia semakin dekat, namun hanya sebatas pertemanan saja, tidak lebih. Aku yang mulai jatuh hati kepadanya, sepertinya Arman tidak demikian. Maka dari itu, aku memilih memendam perasaanku.

Terkadang, di saat bulan sabit, aku sering melihat Arman memandangi bulan. Matanya seolah-olah berkata kalau dia merindukan bulan sabit. Awalnya aku tidak menghiraukannya namun lama kelamaan aku penasaran.

“Kenapa sih kamu selalu melihat bulan sabit?” tanyaku kepadanya.

“Hmm … kenapa ya? Di saat aku melihat bulan sabit, seolah-olah aku melihat diriku.”

“Oh ya?”

“Kalau nggak percaya, nanti malam ayo kita melihat bulan sabit!” katanya dengan sedikit paksaan. Melihat matanya yang berbinar, membuatku tidak kuasa menolaknya.

Pada malam harinya, di saat malam yang cerah. Aku melihat bulan sabit, seakan dia tersenyum kepadaku. Planet venus yang menemani bulan juga menyapaku. Dan bintang-bintang terlihat bersorak kepadaku. Aku merasa disambut.

Aku begitu terkejut sekaligus senang, apa yang dilihat Arman kini benar-benar aku rasakan. Aku memalingkan wajahku menghadap wajahnya. Dia masih melihat bulan, senyuman di wajahnya tidak pernah lepas. Aku memandangi wajahnya dengan seksama. Gabungan debaran hatiku dan senyuman wajahku bersatu membentuk merahnya pipiku.

Dan beberapa bulan setelah kami dekat, aku mendapat panggilan. Aku dipindahkan, tempat kerjaku bukan lagi di tempat yang sama, melainkan tempat lain. Aku tidak menyetui hal tersebut. Aku berlari sekencang mungkin, menuju kantor Arman, dia waktu itu terkejut melihat kedatanganku sambil berlari. Dan dia mampu menenangkan hatiku. Akhirnya aku menerima keputusan tempat kerjaku.

***

Malam sudah semakin dingin, bisa-bisa aku masuk angin nih. Aku masuk ke dalam rumah. Waktu telah menunjukkan pukul 01.00 pagi. Besok aku harus berangkat pagi-pagi, untuk berjumpa dengan Arman. Bukan perjumpaan yang romantis, namun perjumpaan terakhir kalinya. Setelah perjumpaan itu, aku tidak akan menemuinya.

Pagi hari yang cerah, hari seakan memberi semangat untukku. Aku memilih pakaian terbaikku dan berdandan semaksimal mungkin. Aku ingin terlihat lebih cantik hari ini.

Aku memacu kendaraan menuju kota tempat Arman. Beruntung aku belum terlambat. Aku menatap janur kuning yang terpampang di sebuah gedung. Aku memasuki gedung tersebut.

Tanpa basa- basi, aku langsung pergi ke tempat pengantin. Aku menyalami pengantin cewek, ah … dia cantik sekali. Pastas Arman jatuh cinta dengan cewek ini.

Setelah itu aku menyalami pengantin cowok. Pengantin itu adalah Arman. Dia melangsungkan pernikahan pada hari ini. Dalam hati aku menjerit, namun aku tetap tersenyum.

“Selamat ya, atas pernikahanmu.”

“Terimakasih,” katanya dengan penuh senyuman. Wajahnya terlihat bahagia.

Aku mengingat beberapa bulan yang lalu.

“Hei, ada nggak cewek yang kamu suka?” tanyaku dengan jantung berdebar.

“Ada.”

“Siapa? Aku tidak melihat kamu pacaran.”

“Namanya Dina, aku telah jatuh cinta karena kelembutannya. Aku tidak pacaran karena cinta masa lalu mengingatkanku. Dua bulan lagi aku akan melamarnya.”

“Oh,” kataku datar sambil berusaha terlihat tersenyum.

“Kalau kamu menikah, jangan lupa undang aku ya! Aku pasti datang,” kataku penuh senyuman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here