Benarkah Posisi Duduk Menentukan Prestasi?

Para Miliarder Rata-Rata Mengetahui Memiliki Lingkungan Pekerjaan Sederhana

Sudah menjadi anggapan yang umum akhir-akhir ini, posisi duduk menentukan prestasi siswa. Jika posisi duduknya di depan, maka cemerlanglah prestasinya. Tapi, jika posisi duduk di belakang, maka itu identik dengan siswa yang malas dan memiliki prestasi rendah. Ini merupakan anggapan yang umum dan anehnya sudah dipercaya ribuan orang tua ataupun guru, bahkan bisa dibilang ini merupakan syarat mutlak. Tapi, benarkah posisi duduk menentukan prestasi?

Memang benar, jika dilihat secara sekilas, para peraih prestasi terbaik adalah siswa yang duduknya di depan, mungkin tempat duduk favoritnya adalah di depan. Selain itu, siswa tersebut dekat dengan guru dan aktif dalam bertanya maupun menjawab pertanyaan. Dan hal inilah yang selalu dilihat orang tua siswa dan guru. Namun, banyak juga siswa yang posisi duduk di belakang, tapi memiliki prestasi yang cemerlang. Hal ini terlihat kabur bagi orang tua ataupun guru, bahkan tidak dilihat. Jika ada yang melihat, banyak yang menganggap itu merupakan sebuah kebetulan.

Bahkan, dalam penelitian ilmiah yang diteliti oleh Muh, Mansyur Thalib pernah membahas mengenai posisi duduk menentukan prestasi terhadap 60 mahasiswa semester III Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP UNTAD. Dan hasil yang didapat cukup mengejutkan. Skor hasil belajar secara statistik yang duduk di bangku depan memiliki nilai 26.467, sedangkan skor hasil belajar yang dudu di bangku belakang memiliki nilai 22.500.  Memang perbedaannya cukup jauh, antara mahasiswa duduk di depan, maupun mahasiswa duduk di belakang. Namun, jika dilirik berdasarkan perbedaan jumlah skor statistik lebih mendalam lagi, perbedaannya tidak terpaut jauh. Hanya terpaut 3.967 saja. Dengan perbedaan tersebut, bisa dikatakan kecil.

Permasalahannya, kenapa banyak menganggap siswa duduk di depan maka dia memiliki prestasi yang cemerlang? Banyak alasan untuk menjawab permasalahan tersebut. Namun, mari berfokus pada gaya belajar siswa.

Setidaknya, gaya belajar siswa ada tiga macam, yaitu: visual learner, listening learner, dan kinestetik learner. Untuk gaya belajar visual maupun listening, memang mengharuskan duduk di depan, atau tempat duduk yang bisa dijangkau oleh mata dan pendengaran yang jelas. Bagi mereka, melihat maupun mendengar merupakan hal yang baik untuk belajar. Mereka mudah sekali terganggu konsentrasinya jika ada sedikit gangguan. Namun, bagi gaya belajar kinestetik, duduk di depan bukan persyaratan mutlak baginya untuk memahami pelajaran. Karena baginya, belajar sambil menggerakkan tubuh merupakan yang terbaik. Bahkan, mereka sering sekali duduk di bangku belakang. Mereka tidak mudah terganggu oleh suara yang berisik.

Sebenarnya, bagi gaya belajar visual maupun listening, juga bisa konsentrasi di bangku belakang, asal suara guru mampu menjangkau mereka. Namun, karena duduk di belakang suara guru sulit terjangkau, dan lagi banyak sekali penggangu di kiri dan kanan, sehingga membuat mereka sulit berkonsentrasi. Ini khusus bagi kelas yang ribut, bagaimana dengan kelas yang tertib dan diam, tentu saja ini tidak berpengaruh. Mau bangkunya di depan atau di belakang, suara guru tetap terjangkau dan jelas.

Namun, ada beberapa faktor lagi yang menentukan prestasi siswa, yaitu tingkat keaktifan siswa tersebut. Bagi siswa yang aktif, prestasinya pasti akan menjanjikan. Sayang, terkadang para guru sulit membedakan antara siswa yang aktif atau siswa cari muka.

Duduk di depan memberikan kelebihan tersendiri, karena jarak pandang guru tentunya lebih mengutamakan di depan. Ketika guru memberikan sebuah pertanyaan, maka mata yang pertama dia tuju adalah yang duduk di depan. Jika siswa duduk di depan mengacungkan tangannya, maka otomatis guru memberikan dia kesempatan. Ini berlaku bagi siswa yang aktif maupun yang cari muka.

Siswa telah mengacungkan tangannya, dan guru memberikan dia kesempatan. Baik jawaban yang dia berikan benar maupun salah itu tidak berpengaruh, ketika siswa telah mengacungkan tangan dan memberikan jawaban, maka telah memberikan poin baginya.

Namun, banyak dari kita yang melewatkan para siswa yang malu, tidak berani berbicara, namun memiliki pengetahuan yang banyak. Dan biasanya, mereka duduk di bangku belakang maupun di tengah. Dia tidak aktif sama sekali, bahkan terkadang dia menjadi biang keributan. Namun, kepintaran dan pengetahuan yang dia miliki di atas rata-rata. Dan mereka inilah kebanyakan menjadi orang yang berhasil ketika dewasa nanti. Bisa kita lihat fenomena sekarang ini, yang mana semasa sekolahnya adalah siswa yang biasa saja, bahkan menjadi biang keributan, namun ketika dewasa, dia telah menjadi orang yang sukses, dan siswa yang berprestasi, aktif saat di kelas, namun pada dewasa, dia malah biasa-biasa saja. Dan salah satu tugas guru adalah menggali siswa yang tidak ingin berbicara namun memiliki pengetahuan yang tinggi. Namun sayang, kebanyakan ini diabaikan, hal ini karena banyaknya kewajiban guru yang membuat mereka pusing tujuh keliling.

Kesimpulannya, apakah posisi duduk menentukan prestasi siswa? Jika dilihat secara sekilas, memang benar, posisi duduk menentukan prestasi. Namun, jika dilihat lebih dalam lagi, hal tersebut tidak benar. Tidak benar posisi duduk menentukan prestasi. Jika ada contohnya di lapangan, itu merupakan kebetulan saja.

Dan memang benar, kebanyakan siswa lebih konsentrasi belajar jika dia dudu di posisi depan, karena itu menjangkau penglihatan dan pendengarannya kepada guru. Dan juga, duduk di posisi depan sangat jauh dari gangguan teman yang ribut. Jika duduk di belakang, tentu saja banyak gangguan di sana. Namun, itu berlaku bagi kelas yang ribut, kelas yang tidak bisa didiamkan dengan cara normal. Tapi bagi kelas yang tertib, itu tidak berlaku. Memang benar, kenyataan di lapangan, kelas tersebut banyak sekali tergolong kelas ribut. Sangat sedikit dilihat ada kelas yang tertib.

Jangan terpaku dari tempat duduk siswa yang katanya menentukan prestasi. Itu merupakan mitos. Tapi terpakulah dengan semangat belajar siswa. Bisa jadi, siswa yang duduk di depan memiliki semangat belajar yang kecil, namun siswa yang duduk di belakang memiliki semangat belajar yang tinggi. Hal ini tergantung dari individu siswa masing-masing.

Memang, tidak bisa dipungkiri. Rata-rata yang paling dilihat di lapangan, dan dipercaya masyarakat luas, siswa yang duduk di depan memiliki prestasi yang mumpuni. Hal tersebut memang benar, namun itu bukan merupakan acuan ataupun standar yang mutlak harus dipegang. Itu hanya gambaran umum saja. Maka, jangan terlalu terpaku dengan posisi duduk yang katanya menentukan prestasi. Masih banyak faktor yang lebih penting dalam penentuan prestasi ketimbang memperhatikan posisi duduk.

2 COMMENTS

  1. Sometimes I don’t like the line seat at Indonesian School. How if Indonesian school make seat position to be circle. The childern will happy and positive thinking:”

  2. Iya bener. Sebenarnya yang berpengaruh lebih banyak dalmam peningkatan prestasi siswa adalah learning style dan self-motivation. Kalau seating arrangement bukan masalah duduk di depan atau di belakan, tapi lebih kepada pengaturan kursi yang bervariasi dalam kelas (letter U atau circle). Kalau gaya konvensional kayak disekolah biasa itu jadi susah ngontrol siswanya kan? BTW, nice share.. Salam kenal ya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here