Aplikasi Tik Tok dan Perkembangan Pendidikan

Anak-anak maupun remaja mengikuti perkembangan zaman. Dikala zaman berubah, maka pola pikir berubah. Mereka akan terus mencari apa yang bagus untuk zaman dan menyenangkan untuknya. Kebanyakan mereka menganggap apa yang di senangi, itulah yang dia pelajari (Soshani, A dan Slone, M., 2017).

Perkembagan aplikasi Tik Tok memang berkembang pesat di akhir-akhir ini. Perkembangan aplikasi tersebut tidak terbendung. Bagi orang dewasa mungkin aplikasi tersebut dianggap aplikasi yang tidak berguna. Namun, pemikiran orang dewasa dan anak/remaja tentu berbeda. Bagi anak-anak maupun remaja menyukai aplikasi tersebut.

Melakukan gerakan sambil mengikuti lagu. Kadang melakukan kreatifitas. Ada juga aplikasi Tik Tok tersebut sebagai berekspresi diri. Tidak jarang, banyak bakat muda muncul lewat aplikasi tersebut.

Selama ini orang dewasa seolah tutup mata dengan perkembangan aplikasi ini. Orang dewasa hanya mencemoohkan mereka yang menggunakan Tik Tok. Iya sih, kelakuan orang saat main Tik Tok itu lucu banget.

Akhir-akhir ini mulai diperbincangkan karena dampaknya sudah terlihat mengkhawatirkan. Hingga akhirnya pemerintah turun tangan.

Sayangnya kebanyakan anak-anak maupun remaja masih belum matang. Mereka belum mengetahui apa yang berguna bagi mereka atau tidak. Mereka belum mengetahui informasi bagaimana yang bermanfaat atau tidak. Mereka belum mengetahui akan berdampak buruk atau tidak. Mereka memikirkan hanyalah kesenangan dalam berkespresi diri (wsj.com).

Karena itulah para anak-anak membutuhkan orang dewasa membimbing mereka. Iya, kebanyakan para remaja sekarang beranggapan, “Aku sudah besar, aku tahu mana yang terbaik untukku.” Percayalah itu hanya perkataan lewat keegoisan mereka. Dalam mendidik remaja memang tidak boleh keras.

Dalam perkembangan pendidikan, tentu aplikasi yang terkenal begitu terasa. Para anak-anak lebih mudah memahami apa yang dia senangi daripada apa yang dia pelajari.

Sedikitnya, apa yang mereka lihat itulah yang dianggap pembenaran. Sangat disayangkan, banyak banget konten yang tidak baik dalam aplikasi tersebut. Bisa kita lihat, banyak banget para anak-anak atau remaja yang membuka auratnya. Itulah yang ditonton, itulah yang dikonsumsi, itulah yang dipelajari, dan yang paling ditakutkan itulah yang menjadi pembenaran.

Sehingga pola pikir mengenai anak-anak dan remaja zaman sekarang ini mulai terjadi pergeseran. Salah satunya adalah pandangan mengenai aurat. Mereka sudah terbiasa melihat orang yang terbuka auratnya.

Banyak lagi dampak negatif yang ada dalam aplikasi ini yang selama ini orang dewasa tutup mata. Contoh di atas hanyalah salah satu dampak saja.

Memang tidak dipungkiri sih, banyak juga dampak positif dari aplikasi Tik Tok. Salah satunya adalah meningkatkan kreatifitas. Kalau diperhatikan ilmuwan terkenal, mereka menjadi hebat dimulai dari kekonyolan mereka dimasa kecil.

Di dunia pendidikan mulai terasa. Kebanyakan anak dan remaja zaman sekarang mungkin membicarakan mengenai aplikasi Tik Tok ini. Merencanakan konten apa yang bagus, membicarakan artis Tik Tok terkenal. Atau mungkin mengkritik artis Tik Tok.

Pendidikan yang seharusnya menitikberatkan pemahaman pembelajaran. Sang anak mulai bergeser. Belajar itu nomor dua, Tik Tok nomor satu. Dan ingat, ini bukan fenomena zaman sekarang saja.

Siswa akan terus membicarakan apa yang mereka sukai. Mereka sering membicarakan hal tersebut pada saat pembelajaran. Itu memang tidak baik, namun para siswa terus melakukannya bahkan tanpa menyadarinya. Itu telah terjadi di setiap zaman (Boyd, MP., 2016).

Zaman dulu ada pertukaran binder, game tamagochi, permainan playstation, dll. Ayolah, orang dewasa sebaiknya jangan tutup mata, karena mereka juga sering membicarakan hal yang tidak penting. Kebetulan saja aplikasi Tik Tok berkembang zaman ini, sehingga para anak dan remaja sering membicarakannya.

Melihat fenomena zaman sekarang ini, orang dewasa sebaiknya mulai berubah. Jangan hanya mencemoohkan mereka yang bermain aplikasi Tik Tok. Jangan langsung melarang mereka bermain aplikasi tersebut dengan perkataan kasar. Namun bimbinglah mereka dengan perkataan lembut tapi meyakinkan.

Sekali lagi, peran orang tua, masyarakat, pemerintah, dan pendidik sangat perlu dalam hal ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here