Apakah ada Dampak Negatif dari Belajar Kelompok?

Perpustakaan

Belajar kelompok adalah cara belajar yang dilakukan beberapa siswa dalam satu kelompok. Misalnya 4 atau 5 orang dalam satu kelompok. Setiap kelompok siswa mendiskusikan setiap masalah yang diberikan guru. Atau belajar bersama agar semakin paham akan pembelajaran yang diberikan.

Memang dengan belajar kelompok, diharapkan para siswa semakin mengerti dengan mata pelajaran yang diajarkan. Mengingat, belajar bersama teman itu jauh lebih efektif daripada belajar bersama guru. Entah kenapa gitu, kalau teman yang mengajari, rasanya gampang banget dimengerti. Kalau mendengarkan penjelasan guru, sedikit sulit dimengerti. Itu adalah pandangan sebagian besar siswa. Sehingga dengan belajar kelompok diharapkan siswa semakin lebih paham.

Selain itu, dengan belajar kelompok, kemampuan komunikasi dan kerja sama semakin terlatih. Yang mana kemampuan komunikasi dan kerja sama itu sangat diperlukan di dunia dewasa. Tanpa komunikasi dan kerja sama, rasanya sulit sekali bersaing di dunia dewasa.

Namun, jika dilihat kenyataan, apakah benar efektif belajar kelompok tersebut? Apakah semua siswa dalam satu kelompok mau belajar dan saling menjelaskan satu sama lain. Ataukah, kerja kelompok adalah tempat yang pas bagi siswa untuk bicara panjang lebar, tanpa membicarakan pelajaran.

Dampak Negatif dari Belajar Kelompok

Ini adalah hasil pengamatan saya terhadap siswa saya ketika dilakukan belajar kelompok. Ada beberapa dampak negatif dari belajar kelompok tersebut, yakni:

1. Satu Siswa Belajar Selebihnya Bermain

Misalkan nih, dalam satu kelompok tediri 4 siswa yang mana di kelompok tersebut, sudah ada siswa yang pintar, siswa yang kurang memahami pelajaran, siswa yang aktif, dan siswa yang ahli dalam mencatat. Diharapkan dalam satu kelompok tersebut, masing-masing siswa menunjukkan kelebihan masing-masing, sehingga pemebelajaran menjadi efektif.

Namun kenyataannya tidak demikian. Kenyatannya, hanya siswa yang pintar saja yang belajar. Bukan hanya belajar, dia yang menyelesaikan masalah, menulis, bahkan mempresentasikan di depan kelas. Sedangkan ketiga temannya hanya bermain saja, tanpa memikirkan pelajaran yang dilakukan.

Alhasil, yang mengerti hanya satu orang. Ketiga teman yang tidak ikut belajar mungkin hanya sebagian yang mengerti atau tidak paham sama sekali. Yang penting bagi mereka adalah pekerjaan mereka kelar. Guru melihat kelompok mereka bagus, itu sudah lebih dari cukup.

Ditambah sang guru lumayan malas melihat para siswa. Guru hanya diam di meja depan, atau sekali-kali berjalan-jalan. Nah ini lagi masalahnya. Kalau si guru sekali-kali berjalan-jalan, ketika si guru berjalan, ketiga teman tadi pura-pura belajar. Tapi ketika si guru kembali ke bangku, mereka bermain.

Dan lagi banyak anggapan siswa, kalau nama yang tidak dicantumkan dalam kelompok adalah kejahatan. Walaupun si guru dengan tegas sebaiknya yang tidak ikut kerja kelompok namanya tidak usah ditulis, namun kebanyakan siswa yang kerja sendirian tidak berani melakukan hal tersebut. Hal ini mungkin … anggapan sebagian siswa tentang hal yang salah.

2. Pembelajaran tidak merata

Ini akibat dari belajar kelompok yang mana belajar hanya satu orang saja, selebihnya hanya bermain dan menerima hasil. Pembelajaran menjadi tidak merata. Bahkan lebih para jika dibandingkan dengan pembelajaran konvensional.

Jika pembelajaran konvensional, maka guru akan menerangkan pembelajaran. Dia akan melihat siswa mana yang memperhatikan dan mana yang tidak. Mungkin, ada beberapa guru yang tegas, dia akan menegur siswa yang tidak memperhatikan.

Bagi guru yang tidak tegas, hanya menerangkan tanpa memperhatikan siswa, memang pembelajaran tidak efektif, beribu-ribu tidak efektif. Namun, bagi guru yang tegas, memperhatikan siswa, bahkan bertindak tegas bagi yang tidak memperhatikan, siswa terpaksa memperhatikan. Walaupun dia tidak mengerti, sebaiknya ada satu atau dua hal yang dia mengerti.

Namun, apa jadinya jika belajar kelompok, yang hanya satu siswa belajar. Siswa yang lain tidak akan belajar sama sekali. Mereka akan sangat senang dalam belajar kelompok, karena mereka memang tidak akan belajar.

Jadinya, pembelajaran menjadi tidak merata. Ada yang mengerti banget dan ada yang tidak mengerti sama sekali. Ketimpangan antara siswa yang mengerti dan tidak mengerti sama sekali terlalu jauh.

3. Nilai Tinggi Tapi Pemahaman Rendah

Nah, salah satu dari kelemahan dari kerja kelompok ini adalah penilaian berdasarkan kelompok. Ada sih penilaian berdasarkan pribadi namun penilaian ini rendah. Kalau dipresentasikan, 70% penilaian kelompok dan 30% penilaian pribadi. Artinya, lebih besar penilaian kelompok.

Kalau siswa dalam satu kelompok saling bekerja sama, menutupi setiap kekurangan yang ada, saling memberikan masukan, hal ini justru memberikan dampak yang sangat positif. Tentu pembelajaran berjalan dengan baik.

Namun, kenyataannya tidak demikian. Hanya satu siswa yang bekerja selebihnya bermain. Dan ketika presentasi kelompok, yang bicara adalah siswa yang bekerja. Ketika hasil dari presentasi kelompok baik, maka nilai yang diberikan baik.

Artinya apa? Siswa yang bekerja mendapatkan nilai baik. Dan … siswa yang tidak bekerja juga mendapat nilai baik. Istilahnya, siswa yang tidak bekerja kena cipratan parfum.

Akhirnya mulailah muncul. Nilai siswa di raport begitu tinggi. Namun, kalau diuji pemahaman mereka, pemahaman mereka kebanyakan rendah atau mungkin tidak mengerti sama sekali.

4. Kerja kelompok membuat siswa senang

Iya, siswa senang dalam kerja kelompok karena mereka tidak perlu memikirkan pelajaran. Cukup dengan berikan tugas kerja kelompok kepada siswa yang pintar. Setelah itu beres. Para siswa tinggal menunggu hasil. Tentu saja nilai yang didapat sangat baik.

Kalau diperhatikan ada juga sih siswa yang tidak senang kalau kerja kelompok. Mereka adalah golongan teraniaya, yang diharuskan mengerjakan seluruh pekerjaan. Namun, mereka seolah tidak terlihat.

Penutup

Kerja kelompok memang memberikan pengaruh yang positif namun harus diingat juga memberikan pengaruh yang negatif. Jika guru yang menerapkan belajar kelompok, sebaiknya lihat kondisi siswa dan pelajaran yang akan digunakan.

Jika siswa di kelas memiliki tingkat kepintaran yang relatif sama, terus, mereka mau bekerja sama satu sama lain dan berkomunikasi, rasanya boleh-boleh saja dilakukan kerja kelompok. Tapi, kalau siswa memang tidak suka belajar, wah … sepertinya belajar kelompok akan memperparah keadaan.

Belajar kelompok memberikan dampak positif dan negatif, sebagai seorang guru sebaiknya peka terhadap kondisis siswa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here