Apa yang Harus Dilakukan Ketika Mendapat Banyak Revisi Skripsi?

Ceritanya nih skripsi sudah rampung. Sudah bermimpi tuh akan melaksanakan wisuda. Yang mana kita memakai baju toga. Namun, ketika akan mendapatkan persetujuan dari dosen pembimbing, eh, banyak banget revisi yang diberikan. Stress? Sedikit sih. Tiba-tiba bayangan akan wisuda menjadi kabur.

“Aduh, bagaimana ini? Revisi banyak banget lagi!”

Kira-kira itulah yang ada dalam pikiran kita. Hehe, saya juga merasakan hal tersebut kok. Setiap halaman selalu saja ada revisi, ada saja yang salah di mata dosen pembimbing. Belum lagi tulisan dosen yang abstrak banget, sehingga menyulitkan.

Ok, kita sama. Maka ketika mendapatkan banyak revisi, sebaiknya lakukan hal berikut:

1. Jangan langsung perbaiki

Pertama tuh, endapkan dulu skripsi yang penuh revisi. Jangan biarkan pikiran ke masalah revisi. Hilangkan dulu pikiran. Kalau bisa tenangkan dulu pikiran, entah itu berlibur, main game, atau curhat.

Berapa hari? Ya, jangan lebih dari tiga hari deh. Soalnya kalau lebih dari tiga hari, yang ada tuh lupa kalau ada skripsi yang akan diperbaiki. Biasanya nih, ketika mendapat banyak banget revisi, bakal diendapkan skripsi tuh. Senang-senang, eh, keterusan senang-senang dan akhirnya dilupakan, jangan seperti ini ya!

Atau ada juga yang ketika mendapat banyak banget revisi, malamnya langsung dikerjakan. Bagus sih tapi … tidak baik untuk pikiran kita. Pikiran sudah stress dipaksa stress lagi? Kalau ini sih namanya cari masalah. Memang sih, kerjaan skripsi cepat selesai, namun pikiran nih yang menjadi masalah, pikiran terlalu lelah.

2. Perhatian setiap revisi yang diberikan

Nah, setelah pikiran tenang, maka coba deh buka lagi skripsi yang banyak banget revisi. Baca satu per satu dari kalimat Anda dan kalimat revisi. Sedikitnya, Anda mulai paham mengapa diberikan skripsi.

Entah itu mungkin kalimat Anda yang salah, kurang tanda baca, typo, dan lain-lain. Sedikit demi sedikit Anda mulai melihat kesalahan Anda.

“Wajar skripsi saya banyak revisi.”

Hehe, itu juga yang ada dalam pikiran saya ketika melihat skripsi saya dulu. Awalnya sih saya kesal gitu sama dosen karena banyak memberikan revisi. Namun setelah pikiran tenang dan membacanya secara perlahan. Langsung deh menyadari, ternyata banyak banget kesalahan yang saya lakukan. Saya pikir skripsi saya sudah sempurna, ternyata belum.

3. Ternyata yang direvisi sedikit

Sebagian mahasiswa tingkat akhir yang pikirannya tenang dan sudah menyadari kesalahan yang dia buat dalam penulisan, akhirnya menyadari ternyata yang direvisi sedikit. Walaupun setiap halaman ada revisi, ternyata itu hanya revisi kecil.

Setelah diperbaiki sedikit demi sedikit, ternyata sedikit amat. Tidak sampai berhari-hari mengerjakanya, hanya satu hari saja atau mungkin belum sampai satu hari telah selesai.

“Ah, ternyata tidak banyak yang direvisi. Apa karena waktu itu saya sudah stress duluan ya?”

Ya, itu sih wajar. Ketika si dosen mengatakan “ini salah!” tiba-tiba pikiran menjadi stress. Satu kata yang ditulis pada lembar skripsi, dalam pikiran sudah berbunyi, “Gawat, bakal banyak nih revisi.”

Itu adalah pikiran yang muncul dari stress ringan, hehe.

4. Setelah direvisi jangan langsung puas. Perhatikan kembali!

Menunda pekerjaan

Ini nih penyakit dari mahasiswa tingkat akhir. Setelah revisi diperbaiki langsung deh, ingin cepat-cepat bertemu dengan dosen pembimbing agar dapat persetujuan darinya. Namun sebaiknya jangan buru-buru melakukannya. Perhatikan kembali tuh skripsi, jangan-jangan ada lagi kesalahan yang belum dilihat dosen pembimbing.

Kalau Anda buru-buru memberikannya, tiba-tiba, ternyata ada kesalahan yang sama, namun sebelumnya belum disadari dosen pembimbing. Mulai lagi deh memberikan revisi. Kali ini lebih sadis, lebih banyak dari yang kemarin.

“Ah … kenapa saya tidak menyadarinya!”

Itulah yang muncul di pikiran kita ketika mendapat revisi yang demikian. Ingin rasanya memperbaiki kembali itu skripsi namun sudah terlambat. Coretan revisi sudah mengotori skripsi.

Jadi, setelah revisi jangan langsung puas. Baca lagi, kira-kira ada yang salah lagi.

5. Kalau tetap diberikan revisi yang sama?

Maksudnya seperti ini, di BAB satu pada paragraf pertama sebelumnya diberikan revisi. Sudah diperbaiki, sudah baguslah nih ceritanya. Eh, tiba-tiba di bagian tersebut direvisi juga. Setelah diperbaiki lagi, masih aja salah. Hingga akhirnya pikiran stress karena pada bagian tersebut mulu yang direvisi.

Hehe, ada sih yang seperti ini. Saya juga pernah mengalaminya, rasanya ingin sekali dibuang tuh skripsi ke laut, jangan pernah dipikirkan lagi! Namun ya, kalau tidak diperbaiki tuh skripsi kapan wisuda?

“Sabar….”

Hehe, itulah kata yang selalu ditanam dalam hati saya. Ya mau bagaimana lagi? Sabar dan tetap memberikan yang terbaik. Direvisi, revisi lagi. Begitulah seterusnya sampai si dosen benar-benar puas.

Pernah nih, karena saya kesalnya karena bagian itu-itu saja yang direvisi, saya tidak merevisinya. Saya memberikan hasil yang sama seperti sebelumnya. Eh, tiba-tiba si dosen tidak merevisinya lagi. What?

Penutup

Menulis skripsi tuh penuh dengan asam manis, tapi bukan asam manis kehidupan ya. Hanya asam manis di bangku perkuliahan mendekati wisuda. Emang sih, ada orang yang lancar jaya menulis skripsi, ada yang terhambat.

Jangan pernah malas menulis skripsi, kalau Anda malas, kapan wisudanya? Hahaha.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here