3 Tipe Gaya Belajar pada Anak, Sebaiknya Ketahui Lebih Dalam

Tipe Gaya Belajar

Sudah menjadi rahasia umum bahwa cara belajar manusia berbeda-beda. Mungkin ada yang belajar harus keadaan tenang, ada yang harus bersisik, atau bahkan harus mendengarkan musik. Ada yang suka belajar sambil menghafal, dan ada juga yang tidak suka menghafal tapi lebih memilih memahami. Ada juga yang tidak suka bergerak bebas, lebih senang belajar dengan duduk saja sambil mendengarkan penjelasan guru, tapi ada juga yang lebih suka belajar sambil bergerak. Setidaknya, ada 3 tipe gaya belajar pada anak.

Mengapa perlu untuk diketahui? Jawabannya simple yaitu untuk memudahkan Anda memahami tipe gaya belajar pada anak. Buat apa? Agar Anda tahu bagaimana cara menyikapi anak untuk belajar. Mungkin cara belajar Anda berbeda dengan gaya belajar anak. Banyak kasus contohnya, gaya belajar orang tua/guru berbeda dengan anak. Apakah si anak harus dipaksakan? Jawabannya sangat tidak boleh. Karena itu akan terganggu terhadap minta belajar si anak.

Dengan mengetahui gaya belajar, tentunya Anda semakin mudah untuk mendorong anak belajar semakin berkembang. Mudahnya untuk menyuruhnya belajar. Kita ketahui, kebanyakan anak anti yang namanya belajar. Dan mudah untuk memberikan motivasi bahwa pentingnya belajar.

3 Tipe Gaya Belajar Anak

Sebenarnya, dari awal si anak sudah menunjukkan tanda-tanda bagaimana cara dia belajar. Mulai dari balita sudah dia tunjukkan. Perhatikan, setiap balita pasti berbeda-beda dalam menyerap bahasa. Ada yang langsung bicara alias cerewet, ada yang bergerak-gerak memperhatikan sekitar, ada yang mengamati setiap perkataan. Tanpa mempersingkat kata, berikut 3 tipe gaya belajar pada anak.

1. Gaya Belajar Visual (Visual Learner)

Gaya Belajar Visual (Visual Learner)

Visual yang berarti penglihatan. Artinya, si anak lebih suka belajar dengan apa yang dia lihat. Belajar dengan memberikan tabel, grafik, gambar ilustrasi, ataupun melihat penjelasan guru merupakan gaya belajar yang tepat untuk dia. Anak yang gaya belajar seperti ini, menyukai duduk di depan jika berada di dalam kelas. Dan anak yang suka gaya belajar ini, sedikit tidak suka dengan keributan.

Si anak akan lebih mudah menyerap ilmu pengetahuan bila diberikan gambar ilustrasi, tabel, grafik, video, dan lain-lain. Dia akan senang dengan demikian. Dan si anak sedikit tidak suka dengan praktikum, walaupun sedikit tidak suka, namun dai juga memiliki minat yang besar terhadap praktikum. Karena dia akan melihat fenomena ilmu pengetahuan di sana.

Ciri-ciri umum dari gaya belajar visual biasanya bicara dia agak cepat, mementingkan penampilan dalam berpakaian, mudah mengingat apa yang dia liat, pembaca yang tekun, dan seringkali mengetahui apa yang hendak dia katakan, namun sulit untuk mengungkapkannya. Dengan demikian, si anak lebih suka yang namanya demonstrasi dan cenderung membaca buku. Namun, buku yang dia baca lebih cenderung lebih banyak ilustrasi gambar, atau gambar di dalamnya.

2. Gaya Belajar Auditori (Auditory Learner)

Gaya Belajar Auditori (Auditory Learner)

Gaya belajar auditori lebih menekankan kepada apa yang dia dengar. Si anak lebih suka mendengarkan apa yang dijelaskan orang lain, hal itu lebih memudahkan dia dalam memahami pelajaran. Anak dengan gaya belajar auditori juga lebih memilih duduk di depan, karena itu lebih memudahkannya dalam memahami pembelajaran. Selain itu, dia tidak suka dengan keributan, karena selain mengganggu konsentrasinya, hal itu membuat dia lambat menyerap sesuatu. Biasanya, sedikit saja ada gangguan, maka dia akan kewalahan. Anak dengan tipe belajar auditori juga senang dengan keadaan yang tenang, seperti perpustakaan.

Maka dari itu, si anak lebih suka mendengarkan daripada membaca. Suka sih membaca, tapi lebih memilih mendengarkan daripada membaca. Si anak juga suka melihat video pembelajaran, atau video animasi pembelajar, bahkan praktikum, namun dia lebih fokus dengan apa yang dia dengar dalam video atau praktikum daripada apa yang dia lihat.

Ciri-ciri umum gaya belajar auditori yakni: penampilan rapi, mudah terganggu dengan keributan, sering menggerakkan bibir ketika membaca, dan lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya. Dengan demikian, si anak akan lebih fokus kepada apa yang dia dengar, hal itu lebih mudah baginya dalam menyerap setiap ilmu. Maka jangan heran, anak dengan gaya belajar ini terkadang mampu mengingat apa yang dikatakan guru.

3. Gaya Belajar Kinestetik (Kinesthetic Learner)

Gaya Belajar Kinestetik (Kinesthetic Learner)

Terkadang, banyak dari kita sering salah paham anak dengan gaya belajar kinestetik. Kenapa? Karena anak dengan gaya belajar kinestetik tidak suka yang namanya diam. Dia tidak tahan diam, satu menit saja. Dia lebih suka menggerakkan tubuhnya daripada diam. Baginya, diam itu sangat melelahkan. Maka tak heran, anak dengan gaya belajar kinestetik, selalu menjadi biang keributan di dalam kelas. Terkadang banyak guru yang habis kesabarannya, sehingga guru memarahi anak tersebut. Namun, makin dimarahi, si anak semakin tertantang untuk melawannya.

Gaya belajar kinestetik lebih suka dengan gaya belajar dengan menggerakkan tubuhnya, seperti olahraga ataupun melakukan praktikum. Baginya, bergerak lebih memudahkan dia dalam memahami pelajaran. Dan terkadang, dalam memahami pelajaran, dia sering menggerak-gerakkan tubuhnya, membayangkan apa yang dia pelajari dan mengaplikasikannya dalam bentuk gerakan. Gaya belajar ini akan semangat bila yang namanya olahraga dan praktikum. Pada saat praktikum pun, dia yang paling banyak bergerak.

Ciri-ciri dari gaya belajar kinestetik yakni: belajar melalui praktik, menghafal dengan cara berjalan, menggunakan jari telunjuk ketika membaca, menyukai buku-buku dan sering menggerakkan tubuh sambil membaca. Dengan demikian, si anak lebih suka dengan pembelajaran yang menyuruhnya untuk menggerakkan tubuhnya. Dengan demikian, dia akan semakin tertantang untuk belajar.

Penutup

Gaya belajar anak memang berbeda-beda. Setidaknya ada 3 perbedaan dasar, yaitu visual (belajar dengan cara melihat), auditori (belajar dengan cara mendengarkan), dan kinestetik (belajar dengan cara menggerakkan tubuhnya). Gaya belajar satu sama lain memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Dan perlu untuk diketahui, gaya belajar tersebut cenderung mengikuti hobi si anak. Misal, si anak hobi dengan permainan bola kaki, maka kemungkinan gaya belajar yang cocok untuknya kinestetik. Si anak hobi dengan bermain catur, kemungkinan gaya belajar yang cocok adalah visual. Si anak hobi dengan mendengarkan musik dan menyanyikannya, kemungkinan gaya belajar yang cocok adalah auditori.

Jangan memaksakan gaya belajar Anda kepada anak, karena hal itu sangat tidak baik. Jika gaya belajar Anda sama dengan gaya belajar si anak, tentu saja memberikan dampak positif. Anda mampu memberikan nasihat-nasihat positif untuk mengembangkan kemampuan anak. Namun, jika berbeda bagaimana? Sebaiknya Anda harus mengalah, dan tentu saja, Anda harus tahu gaya belajar si anak agar mampu memberikan nasihat-nasihat positif yang nantinya diterima anak.

Belajar adalah kegiatan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Belajar adalah yang dilakukan seorang anak dalam menangkan informasi dengan cara mengingat, berfikir, ataupun memecahkan persoalan.

Demikian 3 tipe gaya belajar pada anak. Belajar adalah proses mendewasakan pikiran anak. Semakin banyak belajar, maka semakin dewasalah pikirannya.

5 COMMENTS

  1. 3 ini yang umum trus ada 1 lagi, (kalau ga salah) digital yang merupakan gabungan ketiganya

  2. Masing2 anak beda gaya belajarnya ya. Anakku 3 & semua mewakili gaya belajar di atas.

  3. Tipe anak sekarang sepertinya lebih ke visual ya. Tapi beda-beda juga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here