Tidak Berprestasi Bukan Berarti dia Kurang atau Masa Depan Suram

Sekarang ini banyak sekali orang melihat kecerdasan seseorang berdasarkan nilai dan prestasi. Seolah-olah itu adalah petunjuk utama mengetahui kecerdasan seseorang. Bisa kita lihat di lingkungan sehari-hari, orang-orang sering sekali bertanya mengenai nilai.

“Eh, nilai kamu berapa?”

“Eh, IP kamu berapa?”

“Eh, kamu dapat ranking berapa?”

Dan hal ini semakin tertanam di dalam diri kita semua bahwa nilai maupun prestasi merupakan tolak ukur. Orang yang memiliki nilai dan prestasi tinggi amat dibanggakan. Mereka seperti contoh nyata orang yang akan sukses nantinya. Sedangkan orang yang nilai rendah, dipaksa untuk terus belajar karena dianggap dia mungkin akan gagal di masa depan.

Namun, apakah benar dengan sistem seperti itu? Apakah memang nilai menentukan masa depan? Apakah nilai menentukan kecerdasan IQ seseorang? Apalagi menentukan EQ?

Jawabannya tentu saja tidak. Nilai itu hanyalah acuan akan kemampuan belajarnya saja. Jika nilai dia baik berarti dia belajar dengan sangat baik. Iya, belajar dengan sangat baik, apakah itu dia belajar dengan sungguh-sungguh lalu mengingatnya seumur hidup atau belajar bersungguh-sungguh namun mengingatnya di saat ujian saja, tidak peduli. Yang penting dia mengetahui cara menjawab soal di waktu ujian maupun rajin mengerjakan tugas.

Jika diperhatikan, sebagian besar orang yang memiliki nilai tinggi bukanlah yang memiliki IQ maupun EQ yang bagus. Mereka memang rajin saja. Sehingga apa yang terjadi? Ketika di dunia pekerjaan membutuhkan EQ yang tinggi, mereka kewalahan menghadapinya.

Dan kembali ke pokok permasalahan, bagaimana dengan anak yang tidak memiliki nilai baik? Mungkin ada 2 faktor yang menyebabkan hal tersebut. Pertama anak tidak memiliki satupun minat dalam pelajaran dan yang kedua anak tersebut memiliki IQ tinggi namun dia malas

Anak tidak Mempunyai Minat

Sudah tidak dapat dipungkiri kalau sistem nilai berdasarkan kemampuan berhitung dan hafalan saja. Nilai seni budaya dan olahraga dianggap sebagai nilai kedua. Banyak sekali orang dewasa mengabaikan nilai tersebut.

Bagaimana jika memang minat anak di bidang seni misalnya. Dia memiliki minat akan seni melukis. Sedangkan di sekolah tidak ada pelajaran seni melukis, adapun hanya satu minggu saja. Dan hal ini menjadi dilema untuknya. Walaupun nilai kesenian dia tinggi, namun nilai tersebut tidak dianggap. Bahkan nilai tersebut seakan tidak ada artinya jika nilai berhitung dan hafalan dia rendah.

Begitu juga dengan nilai olahraga. Olahraga yang dia minati bukan semua olahraga. Misalnya dia memiliki minat olahraga dalam senam lantai. Apakah ada penilaian di sekolah mengenai senam lantai? Mungkin ada tapi apakah penilaian terhadap olahraga sering dianggap atau malah dinomorduakan?

Inilah yang menjadi dilema. Banyak anak yang memiliki minat dalam hal seni melukis, menggambar komik, membuat film, olahraga senam, olahraga lari, dll malah dinomorduakan dalam dunia pendidikan. Seolah-olah hal tersebut tidak ada di dunia pendidikan.

Namun hal tersebut berbeda di dunia nyata. Yang mana minat dalam seni melukis, menggambar komik, membuat film, olahraga senam, olahraga lari, dll begitu diperhatikan bahkan dinomorsatukan.

Tidak heran kita sering melihat orang yang sukses di dunia seni maupun olahraga memiliki nilai yang buruk ketika di sekolah.

Anak IQ Tinggi tapi Malas

Sudah bukan rahasia umum lagi, banyak sekali anak dengan nilai tinggi namun IQ yang dimiliki hanya normal saja. Tapi banyak banget anak yang nilai pas-pasan namun memiliki IQ tinggi. Mungkin di lingkungan temannya dia terkenal dengan orang sangat pintar. Namun kepintarannya tidak diketahui oleh orang dewasa. Orang dewasa hanya melihat kepintaran seseorang berdasarkan nilai.

Anak seperti ini tidak memiliki minat apapun terhadap nilai. Kadang dia hanya ingin mengerti satu topik saja setelah itu dia tidak ada minat. Misalnya dia mengerti tentang pelajaran Fisika, sudah mengerti saja. Bagaimana dia berusaha mendapatkan nilai dia tidak peduli. Kalahu ada teman yang bertanya mengenai pelajaran Fisika, dia mampu menjelaskannya dengan baik. Namun, untuk menjawab soal saat ujian dia malas mengerjakannya.

Anak yang seperti ini memang bukan tipe yang belajar untuk dilupakan. Namun tipe yang belajar untuk diingat seumur hidup.

Tapi ya … karena sikap malas dia itu membuat dia tidak diperhatikan. Mengerjakan tugas asal-asalan belum lagi mengerjakan ujian. Betul sih apa yang dia kerjakan namun terkadang guru/dosen tidak suka dengan pekerjaan asal-asalan.

Alhasil, dia pun sering mendapat nilai rendah dan dia pun tidak peduli dengan nilai.

Apakah ada Anak yang Nilai Tinggi Namun Memiliki IQ Tinggi dan Sukses?

Gelar Keilmuan Juga Sangat Berpengaruh

Jawabannya ada, ada kok anak yang mempunyai IQ tinggi, ketika di sekolah dia mendapat nilai dan prestasi yang baik. Dan di pekerjaan dia sukses. Ada kok, malah banyak. Walaupun tidak sebanyak anak yang biasa saja di sekolah namun memiliki kesuksesan di dunia pekerjaan.

Karena perlu diketahui, nilai tersebut bukan mencerminkan pengetahuan yang dia miliki. Bisa jadi dia belajar namun setelah pelajaran selesai dia melupakan pelajaran tersebut. Bisa jadi dia hanya paham akan teori saja, sedangkan praktik di lapangan dia tidak mengerti.

Misalnya dalam pelajaran ekonomi, di teori sih mengatakan harga yang murah serta kualitas barang terbaik menentukan sebuah pembelian. Dengan harga murah dan kualitas barang terbaik akan laku di pasaran.

Pada kenyataannya apakah benar demikian? Belum tentu. Bisa jadi ada harga yang terlalu murah namun kualitas barang tidak baik, justru itu yang laku di pasaran. Bisa kita lihat betapa tingginya minat masyarakat akan barang KW.

Bisa dibilang teori tidak sama dengan praktik, namun teori membuka pintu pengetahuan akan praktik. Kita melakukan praktik berdasarkan teori yang sudah kita pelajari. Nanti pada saat praktik, kita akan mendapatkan teori baru untuk melengkapi teori yang sudah kita ketahui.

Anak yang memiliki IQ tinggi, nilai bagus, serta sukses di lingkungan pekerjaan bukan hanya belajar teori saja. Namun dia langsung mempraktikkan teori yang telah dia pelajari.

Penutup

Jadi, apakah nilai menentukan IQ atau EQ tinggi? Apakah nilai akan menentukan masa depan anak? Jawabannya tujuh puluh persen tidak. Mungkin tiga puluh persen memang iya, namun sangat jarang terlihat anak yang selalu berprestasi di waktu sekolah, dewasanya sangat sukses. Justru kebanyakan adalah di waktu sekolah tidak begitu menonjol namun ketika di lingkungan pekerjaan dia sukses.

Perlu diingat, memang semakin banyak ilmu pengetahuan yang dimiliki akan menunjang kesuksesan. Belum tentu anak dengan nilai tinggi memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi. Bisa jadi dia hanya belajar untuk dilupakan. Dia hanya belajar ketika pelajaran itu diajarkan, ketika tidak diajarkan dia melupakannya.

Bisa jadi orang yang tidak memiliki prestasi tinggi, tidak begitu saja melupakan pelajaran yang dia peroleh. Dia pilah pelajaran tersebut, dia ingat seumur hidup, kadang dia praktikkan apa yang dia pelajari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here