Sepertinya Kakek Telah Menemukan Jodohku (Cerpen)

Cowok Itu Mampu menggetarkan Hatiku

Sebentar lagi bulan Syawal pun tiba, bulan yang merayakan kemenangan karena telah memenangkan nafsu selama sebulan penuh. Dimana bulan yang penuh dengan kenangan dan suka cita. Ya, aku juga mempunyai kenangan yang demikian, dan kenangan ini masih tersimpan di memoriku.

Pagi-pagi sekali aku harus bangun pagi. Jika biasanya aku susah sekali bangun, namun karena bulan Ramadhan yang telah melatihku, aku akhirnya bisa dengan mudahnya bangun pagi. Selain itu, tidak ada rasa ingin tidur kembali ketika sudah bangun tidur. Merupakan karunia yang luar biasa.

Mama sudah memasak untuk keluarganya. Papa juga telah bersiap di meja makan, dia menunggu masakan Mama yang selalu dipuji oleh Papa. Ketika aku turun dari kamar, Mama telah selesai masak. Kami pun duduk di meja bertiga, berdoa sambil berucap syukur. Setelah itu sarapan dengan lahap.

Selesai sarapan, aku bersiap diri. Aku memakai pakaian terbaik dan nyaman. Hari ini, keluargaku ingin pergi ke rumah kakek. Kakek pasti sudah rindu banget dengan cucu tercantiknya. Akhir-akhir ini kakek sering banget meneleponku. Aku heran juga sih, kakek sudah tua, tapi masih melek teknologi, kakek gaul.

Perjalanan yang melelahkan akan segera tiba. Kami semua telah masuk ke dalam mobil. Sebelum berangkat, kami berdoa dulu demi keselamatan. Awalnya, jalanan yang dilihat hanyalah gedung tinggi. Aku sudah bosan melihat gedung tinggi, dari kecil gedung terus yang dilihat, tidak ada yang lain. Dan pada akhirnya, setelah ratusan kilometer jaraknya dari perbatasan, barulah terlihat hamparan sawah yang menguning. Sawah teraebut akan segera dipanen. Beberapa petani tampak ceria melihat sawah yang menguning. Mereka juga sesekali mengusir burung yang mencoba memakan sedikit biji padi.

Pemandangan seperti ini sangatlah indah. Aku merindukan pemandangan ini teramat sangat. Aku … aku merasa seakan lebih betah bila tinggal di pedesaan dengan hamparan sawah daripada diperkotaan dengan gedung tinggi. Aku pernah menyampaikan maksudku kepada papa dan mama. Dan reaksi mereka bagaikan disambar petir.

Empat jam perjalanan, akhirnya sampai juga ke rumah nenek. Saudara papa yang lain telah datang duluan. Aku langsung mencium tangan kakek sembari berkata manja. Ya, aku sangat manja bila di hadapan kakekku. Mungkin karena dulu kakek sering merawatku, makanya aku manja.

Ketika asyik bermanja dengan kakek, pandanganku menatap sebuah pohon mangga yang sedang menumbuhkan buahnya. Sekilas aku kembali setahun yang lalu. Sebuah kenangan yang membawa kebahagiaan semua namun melahirkan penderitaan yang teramat dalam.

***

“Kek, aku mau main-main dulu ya, bosan di samping kakek terus,” seketika itu juga kakek menjadi beku. Kakek hanya mengangguk setuju. Aku yakin kalau dalam hatinya dia tidak setuju. Namun, sebenarnya aku pun bingung. Bagi cewek kota yang berada di desa, tentu saja menjalin pertemanan dengan anak desa itu susah banget. Seribu bayangan yang mengatakan anak desa itu “jahat” muncul ke kepalaku.

Aku akhirnya memutuskan untuk pergi ke pohon mangga di seberang rumah kakek. Karena pohon tersebut sedang berbuah matang, aku pun jadi tergoda. Aku mengarahkan kepalaku, memilih-milih yang lezat. Aku melihat satu buah mangga yang berwarna kuning. Selain warnanya yang menggoda, ukuran buah yang besar juga godaan dari mangga itu.

Namun, aku tidak pernah naik pohon sebelumnya. Akhirnya aku memaksakan diri. Aku mencoba menaiki pohon itu. Walaupun berusaha keras, aku berhasil menaiki tapi naas bagiku, dahan yang kupijak patah dan aku dengan mulus mendarat ke tanah.

“Hahaha,” aku mendengar suara cowok yang tertawa terbahak-bahak. Aku langsung bangun dan menghampiri cowok itu.

“Hey, kalau ada cewek jatuh, sebaiknya tolong dong.”

“Tolong? Yang benar? Nggak yakin aku.”

“Kamu ini cowok gentle nggak sih?”

“Kalau kamu menganggap aku cowok gentle, maaf aku tidak bisa jawab. Karena aku tidak tahu arti gentle.”

“Dasar orang desa, kampungan!” kataku dalam hati. Aku memandang matanya dengan tatapan yang sangat tajam. Namun dia biasa-biasa saja. Biasanya, ketika aku menatap cowok dengan tatapan tajam, cowok tersebut akan gugup dan minta maaf. Tapi cowok di hadapanku?

“Kenapa? Kamu pikir dengan tatapan itu aku akan nunduk? Hello, kamu bukan Superman yang mampu menembakkan sinar laser dari matanya.”

“Terserah!”

Percakapan kami berakhir.

***

Percakapan yang menyebalkan itu terngiang terus di dalam pikiranku. Aku tidak bisa menghilangkan suaranya dari kepalaku. Aku merasa tersiksa karenanya sekaligus membuatku senyum-senyum sendiri. Kakek aja sampai heran melihat perubahanku.

“Cuk, kamu nggak gila kan? Kamu masih normal kan?”

“Masih normallah kek. Aku masih cucumu loh.”

Hari berikutnya, secara tidak sengaja dia muncul di hadapanku lagi di tempat yang sama. Aku langsung memasang muka cemberut. Sial banget, kenapa harus ketemu dengan dia lagi.

Cowok itu mengajakku berbicara, namun aku diam seribu bahasa. Hanya dengan sekali coba, cowok itu langsung menyerah. Dia tidak berusaha agar aku bisa buka mulut?

Namun cowok itu langsung naik ke atas pohon dan mengambil beberapa buah mangga, setelah itu turun dari pohon, dia melempar satu buah mangga di hadapanku. Aku kaget dan berusaha menangkap lemparannya. Beruntung aku pernah jadi atlet kastil gadungan.

Aku akhirnya membuka mulut. Aku berucap, “Terimakasih.”

Stop basa basinya. Sebaiknya kita makan,” katanya dengan nada tegas dan singkat. Dan aku menuruti perkataannya karena aku juga suka diperlakukan demikian. Akhirnya kami pun mulai bercerita satu sama lain. Sedikit demi sedikit, kami pun menjadi akrab.

Dan keakraban itu menghasilkan cinta yang teramat dalam. Aku tidak bisa membendung hatiku untuk tidak mencintainya. Aku memutuskan untuk mengungkapkan perasaanku. Seumur hidup, baru kali ini aku berusaha untuk menembak cowok, biasanya cowok yang menembak aku.

Entah hari apa itu, aku menembaknya. Aku mengutarakan perasaanku. awalnya aku berpikir kalau cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, namun aku ditolak mentah-mentah.

“Aku tidak bisa menerima perasaan kamu. Pertama, aku tidak cinta kepadamu. Kedua, aku sudah menikah. Punya satu istri saja sudah bikin pusing, apalagi dua,” katanya sambil meninggalkanku dengan sangat cepat. Diriku seperti disambar petir dan beku beberapa saat.

Waktu itu aku baru tahu, kalau anak desa sudah biasa cepat menikah.

***

Sakit hatiku masih tersisa sampai sekarang. Namun, dengan sakit hati itu, aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Bahwa aku harus tegas terhadap perasaan seseorang. Kalau aku tidak suka dengan dia, maka aku harus tolak. Jika suka, aku terima. Biasanya, walaupun aku tidak suka, aku tetap menerimanya. Supaya ada yang antar jemputku.

Tapi … walaupun aku sudah tegas, belum berarti semua cowok menerima keadaan. Ada beberapa cowok yang tidak bisa menerima keadaan. Dan hal itu terjadi sekarang dan itu membuatku malu.

Tiga jam aku berada di rumah kakek, tiba-tiba seorang cowok berteriak, “Aku mencintaimu, maukah kamu menjadi pacarku? Walaupun kamu menolakku sejuta kali, aku akan mengutarakan perasaan cintaku sejuta satu kali.”

Kakek yang mendengar suara cowok itu langsung kaku, dia tidak bergerak sedikitpun untuk beberapa menit. Setalah itu dia bangkit, menemui cowok itu, mempersilakan cowok itu masuk ke rumah.

“Kenapa kamu mencintai cucu saya?”

“Apa harus dijawab kek? Aku juga tidak tahu alasannya kenapa aku mencintai cucu kakek,” kata cowok itu malu-malu. Hal itu membuat buku kudukku berdiriol seluruhnya.

Kakek terdiam, seperti dia sedang mengumpulkan tenaga dalam.

“Kalau kamu mencintai cucu saya, datanglah beberapa tahun lagi, mungkin lima tahun lagi. Ketika kamu datang, berarti kamu melamar cucuku. Kalau kamu pacaran dengan cucuku, aku sendiri yang turun tangan menghabisimu!” aku melihat bulu kuduk cowok itu berdiri. Jangankan bulu kuduk, buku kakinya saja sudah tegang.

Dan cowok itu memegang kata kakek. Dia tetap mencintaiku, tapo dia hanya mencintaiku secara diam. Dia diam-diam memperhatikan aku, walaupun aku sadar, aku tidak peduli. Aku pacaran beberapa kali, namun cowok itu tidak ada pergerakan. Dia benar-benar mencintaiku dengan diam.

Bahkan, aku tidak berteman dengan cowok itu. Waktu kuliah, aku tidak satu jurusan dengannya. Aku jurusan kedokteran, dia jurusan pendidikan. Baginya, guru adalah jalan hidupnya. Dia senang mengajar, dia senang melihat senang dan mendengarkan pelajaran. Dan dia juga senang mengatasi siswa nakal.

Sehabis kuliah, dia bekerja keras. Aku yang sudah terbiasa dengan kehadiran dia, walaupun kehadiran sembunyi-sembunyi, aku merasa kehilangan. Karena merasa kehilangan tersebut, aku terpaksa menemui dia. Dia awalnya terkejut dengan kedatanganku. Namun dia juga senang. Dan mulai dari itu, kami semakin akrab.

Dan akhirnya, hatiku luluh ketika dia melamarku.

2 COMMENTS

  1. ciee jadian.. selamat yaa. semoga langgeng

  2. Akhirnya ya bisa jadian juga, kan memang seperti itu, diam-diam mencintaimu. Begitukan ya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here