Perempuan Penunggu Bangku Horor

Perempuan Penunggu Bangku Horor

Aku memasuki kelas baru. Aku baru saja pindah beberapa hari yang lalu. Karena ayah pindah kerja, terpaksa aku juga ikut.

Sebenarnya aku bisa memilih tinggal tidak mengikuti ayah. Tapi rasanya berat sekali meninggalkan ayah sendirian. Ibu sudah tiada semenjak aku balita. Sekarang tinggal kami berdua di rumah, ayah dan aku. Aku sebenarnya tidak keberatan kalau ayah menikah lagi, tapi ayah masih mencintai ibu. Sepanjang malam, ayah selalu berdoa untuk ibu.

Awalnya kami tinggal di kota besar. Namun, ayah pindah jadinya pergi ke kota kecil. Masih sebatas kota sih.

Aku memasuki sekolah baru pada kelas dua di semester dua. Memang terlihat tanggung. Hanya satu setengah tahun lagi, aku akan pergi meninggalkan ayah, merantau. Tapi, aku ingin waktu bersama aku dan ayah tidak terbuang percuma.

“Anu … perkenalkan namaku Budi,” kataku datar. Entah kenapa suasana di dalam kelas begitu kelam. Tidak ada terlihat aktivitas ceria. Semua mengeluarkan aura gelap, seakan-akan mereka akan menerima kematian.

Aku berusaha tersenyum tapi tidak ada yang berani membalas senyumanku. Guru yang mengantarkan aku ke kelas, di luar kelas dia bisa tersenyum kepadaku. Tapi di dalam kelas dia tidak tersenyum. Pandangannya terlihat ketakutan, sesekali aku melihat tangannya gemetaran.

“Budi murid baru. Semoga saja dia bisa akrab dengan kita ya. Oh ya, ketua kelas, tolong sampaikan peraturan kelas kita nantinya. Jangan sampai ada korban lagi,” korban? Apa maksudnya dengan kata korban? Aku tidak mengerti. Apakah di sekolah ini ada kejadian mengerikan?

“Baik pak,” oh ternyata ketua kelasnya cewek. Haha, agak lucu aja ada ketua kelas cewek.

Tanpa di suruh, aku langsung mencari tempat duduk. Agak aneh memang, entah kenapa aku serasa di suruh guru duduk di bangku pojok kanan. Tapi guru tidak mengatakannya. Aku malah seperti terpanggil untuk duduk di sana.

Ketika aku akan duduk di bangku ini, dengan cepat pak guru menahan bahuku. Begitu juga teman sekelasku, mereka menghalangi jalanku. Dan di sanalah aku menyadarkan diri. Sekilas, aku melihat perempuan lengkap dengan seragamnya tersenyum kepadaku. Tapi … kakinya tidak menyentuh tanah.

“Apa yang kamu lakukan? Aku tidak menyuruhmu duduk di sini!”

“Tapi, aku mendengar bapak menyuruhku duduk di sini,” kataku datar dan seketika itu, suasana semakin mencekam.

***

Bel istirahat berbunyi, aku langsung didatangi ketua kelas.

“Budi, ada yang ingin kubicarakan. Tentang peraturan sekolah ini!” kata ketua kelas agak meninggikan suaranya. Aku mengangguk setuju. Ketua kelas mengajakku ke atap sekolah.

“Dengar Budi, jangan pernah duduk di bangku pojok kanan, jangan pernah menyebut nama Dewi, dan jangan pernah bertanya kenapa itu dilarang,” kata ketua kelas tegas kepadaku. Aku berusaha mencari informasi, tapi ketua kelas mengunci mulutnya rapat-rapat. Aku hanya bisa mengangguk saja.

Sekilas, aku melihat perempuan berjalan ke sebuah gedung di atap sekolah. Aku bertanya kepada ketua kelas mengenai perempuan itu. Reaksi ketua kelas begitu kaget, dia langsung mengambil kayu yang tergeletak di sana dan memukul keras kepalaku. Seketika itu aku langsung pingsan.

***

Aku membuka mataku. Ternyata sudah gelap hari dan juga aku berada di kelas. Aku duduk di bangku pojok kanan. Rasanya, kepalaku ini masih berat.

“Hei, sudah sadar?” seorang perempuan menyapaku. Dia duduk di bangkuku.

“Iya aku sudah sadar.”

“Perkenalkan, namaku Dewi,” perempuan itu berkata ramah sekali.

“Oh ya, aku Budi.”

“Jadi, kamu adalah perempuan yang aku lihat bukan? Perempuan yang melayang itu? apa yang terjadi?” kataku datar. Perkataanku seolah-olah aku tidak takut. Entah kenapa, tidak ada rasa ketakutan di diriku.

“Jadi kamu ingin tahu ya? Baiklah, akan aku ceritakan,” Dewi bercerita panjang lebar mengenai kehidupannya. Dia akhirnya dibunuh seseorang dan arwahnya tidak tenang. Setiap tahun ada saja siswa kelas ini yang mati secara misterius, hal itu karena ulahnya.

“Jadi, kamu ingin membuatku mati secara misterius?” tanyaku datar?

“Hahaha, nggak mungkin aku melakukan itu padamu. Kamu ini adalah orang aneh dari semua orang yang kutemui. Baru kali ini kamu datar melihatku, seolah-olah kamu menganggap aku teman. Padahal aku ini hantu.”

“Ya … takut pun tidak ada gunanya.”

“Jadi, maukah kamu membantuku agar aku tidak menjadi arwah penasaran lagi?” aku mengangguk setuju. “Sangat mudah, tukar arwahmu dengan arwahku. Biarkan aku memakan arwahmu.”

“Hahaha, jangan bercanda. Jika kamu melakukan itu, selamanya kamu tidak akan tenang.”

“Huh … nggak asyik. Kamu benar sekali. Jadi, maukah kamu bekerja sama denganku? Aku mohon, aku sudah lama terjebak di dunia ini.”

“Baiklah, aku akan membantumu,” kataku tersenyum kepadanya.

***

Aku membuka mataku. Aku tetap berada di dalam kelas, tidur di bangku pojok dan matahari sudah terbit. Satu per satu teman sekelas menunjukkan diri. Begitu juga dengan pak guru, dia menunjukkan diri secara misterius. Mereka semua memegang senjata tajam.

Mereka menyerangku secara tiba-tiba, seolah ingin membunuhku. Woi, apa yang terjadi? Aku langsung meloncat dari kelas ke lapangan melalui jendela yang terbuka. Hanya itu cara tercepat menyelamatkan diri.

Sebenarnya apa yang terjadi?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here