Pendidikan Anak Bukanlah Awal Pada Serpihan Kaca

Anak yang dilahirkan di dunia ini awalnya adalah suci, tidak ada sedikitpun dosa di dalam dirinya. Yang dia tahu adalah kejujuran, senyuman, dan tangisan. Dia menangis saat dia lagi sedih, dan dia tersenyum saat bahagia. Dia berkata jujur kepada siapapun. Walaupun pada saat balita dia tidak bisa berbicara, tetapi dia berusaha untuk jujur. Sudah banyak contoh bayi yang terlihat jujur.

“Anakku sudah berumur empat tahun, dia sudah tahu apa itu uang. Dia meminta beberapa uang untuk kebutuhan sehari-harinya. Terkadang dia meminta melebihi batas yang sudah ditentukan. Mungkin karena dia ingin. Ketika aku selalu memberi uang lebih, namun dia selalu mengembalikannya. Dia mengatakan yang sejujurnya dan secara terang-terangan.”

Bayi memang sangat suci. Maka dari itu, jangan rusak kesuciannya. Ada beberapa alasan yang mendukung bayi itu suci.

Serpihan Kaca Untuk Awal Pendidikan Anak

1. Ketika di Dalam Kandungan, Dia Tidak Mengetahui Apa-Apa
Bagaimana keadaan bayi saat di dalam kandungan? Siapa yang bisa menjamin kalau bayi itu bergerak-gerak, saat dia menendang perut ibunya? Tidak ada yang bisa menjamin kalau bayi di dalam kandungan beraktivitas atau tidak. Tapi yang pasti dia hidup.

Bukan, bukan seperti ini maksud tulisan ini. Kenapa bayi berada di dalam kandungan, dan di dalam kandungan itu tertutup semua. Bahkan, suara tidak bisa masuk ke dalam kandungan. Kenapa seperti itu?

Itu seperti berada di dalam karantina, tidak boleh ada mengganggu dari pihak luar. Memangnya kenapa harus demikian? Kenapa tidak seperti telur saja, dengan cangkang yang sangat tipis sehingga suara dari luar bisa keluar? Kenapa harus di dalam rahim dengan tebal rahim yang mampu menghambat suara?

Hal ini untuk menjaga kesucian si bayi. Supaya bayi tidak tahu apapun di dunia luar. Agar bayi hanya tahu akan kebenaran saja. Karena selama di kandungan, teman dia hanyalah malaikat.

Dan dia begitu sampai berumur enam tahun.

2. Mata Hatinya Masih Terbuka
Ada yang berkata kalau kita berbohong, maka hati kita akan memberontak. Memang itu adalah teori yang aneh. Memang ada mata hati? Bukankah pusat kontrol manusia itu ada di otak? Terus hati ada di mata? Kenapa selalu dikaitkan hati dengan dada?

Tapi, ada seseorang yang berbohong, rasanya dada ini begitu memberontak. Dada itu seakan berkata kalau dia itu salah.

Dan memang keadaan demikian. Hati adalah salah satu anugerah Yang Maha Kuasa. Mungkin sekarang hati tidak dapat dibuktikan. Mungkin karena keterbatasan manusia. Tapi bisa jadi beberapa tahun kemudian, hati bisa dibuktikan.

Ketika seseorang berusaha berbuat salah, maka hati itu akan memberontak. Bagi siapapun yang sudah terbiasa melakukan kesalahan, mungkin dia tidak pernah merasakan suara hatinya. Tapi … bagi yang pertama kali melakukan kesalahan, dia merasakan hati dia memberontak.

Atau Anda sendiri, mungkin Anda sekarang sudah remaja atau dewasa. Saya tidak tahu sudah berapa kali kebohongan yang Anda lontarkan. Tapi coba ingat ketika pertama kali Anda berbohong? Apakah ada getaran di dada Anda? Dada Anda seolah mengatakan kalau itu salah.

Jika pada anak-anak, bisa dilihat ekspresinya. Ekspresi yang menunjukkan ketidaksukaannya. Dan juga, wajah ketakutan pada anak-anak begitu terlihat. Dia takut, karena dia berbuat salah. Hatinya masih menuntunnya untuk kebaikan.

3. Anak Senang dengan Kebaikan, dan Akan Menangis dengan Keburukan
Akhir-akhir ini sering terlintas di internet bahwa para teroris melatih anak-anak untuk melakukan keburukan. Seperti bom bunuh diri atau berlatih menembak. Anda bisa lihat di situs you tube, banyak yang beredar (mungkin sekarang sudah dihapus).

Jika Anda menemukan video tersebut, perhatikan ekspresi anak-anak. Apakah mereka senang atau tidak. Meskipun mereka kelihatan ketakutan, tapi mereka menunjukkan ketidaksenangannya. Dia seolah ingin memberontak. Hal itu memang terjadi secara alamiah. Karena anak-anak tidak suka dengan keburukan.

Dan perhatikan anak-anak yang menjalankan ibadah. Bagaimana ekspresinya? Meskipun terkadang anak-anak biang recok saat beribadah, tapi ekspresi mereka menunjukkan kesenangan. Karena secara alamiah, mereka akan senang jika melakukan kebaikan.

4. Anak Akan Melakukan Apapun Demi Kebaikan
Pernah melihat anak-anak bekerja keras demi orang tuanya? Atau anak-anak bekerja keras demi sesuatu yang aneh, misal membersihkan sampah? Anak-anak melakukan demikian, karena secara alami akan melakukan kebaikan.

Sebenarnya tanpa diajari pun, anak-anak tahu tentang kebaikan. Karena selama di dalam kandungan, dia hanya diajarkan untuk kebaikan saja. Dia tidak mengerti tentang kejahatan. Jadi kapan anak mengerti tentang kejahatan? Saat manusia mengajari tentang kejahatan, disitulah anak mengerti tentang kejahatan.

Dia akan senang melakukan kebaikan. Apapun itu, terkadang hanya membuang sampah di tong sampah saja, dia sudah merasa senang. Maka dari itu, terkadang tingkahnya begitu menyebalkan. Dia akan rela berjalan beberapa meter hanya untuk membuang sampah di tong sampah. Inilah peran orang dewasa menghancurkan kebaikan si anak. Orang dewasa mulai menghasut si anak (secara langsung atau tidak langsung), untuk membuang sampah saja di jalanan, karena lebih praktis. Alhasil, si anak mulai mengikuti tingkah orang dewasa.

5. Anak Tidak Bisa Membenci
Pernahkah melihat kejadian, dua anak yang bertengkar hebat. Sulit untuk dilerai. Namun, keesokan harinya mereka berbaikan, seolah-olah di dalam hati mereka tidak ada benci dan denda.

Itulah yang menjadi bukti kalau anak tidak bisa membenci. Bahkan ada kejadian yang lebih parah lagi.

Orang tuanya begitu kejam. Dia menyiksa anaknya. Namun, si anak tidak ada rasa dendam sedikitpun kepada orang tuanya. Seberapa keras dia berusaha membenci orang tuanya, tapi tetap ada cinta di dalam benaknya.

Anak memang tidak bisa membenci. Hatinya masih terlihat suci, belum ada noda.

Keseharian Anak adalah Bermain

Keseharian Anak adalah Bermain

Anak hanya ingin bermain-main. Terkadang dia akan bermain satu harian sampai dia merasa lelah. Entah dari mana tenaga yang dia dapatkan. Padahal tubuhnya begitu kecil dan lemah. Namun ketika bermain, dia begitu bersemangat. Staminanya memang tidak ada habisnya.

Mungkin begitu juga dengan Anda. Ketika Anda masih kecil, Anda akan senang berlari ke manapun. Mengikuti apa yang dikatakan hari Anda. Tapi setelah besar, entah kenapa Anda semakin menjauh dari hati Anda. Ini merupakan fenomena alamiah manusia.

Menurut hemat saya, alasan kenapa anak-anak begitu senang bermain, staminanya tidak habis-habis, ada tiga alasan. Yaitu:

1. Anak-Anak mengikuti Kata Hati
Dalam prinsip dasar, adakah hati yang lelah? Tidak ada. Hati tidak pernah lelah, tidak ada kata lelah dalam hati. Dan itulah yang terjadi pada anak-anak. Dia tidak ada kata lelah.

Memang anak bisa sekali-kali merasakan lelah. Tapi itu hanya sebentar saja. Setelah itu, dia akan semangat lagi. Kenapa? Hati dia berkata, “Tidak ada kata lelah.”

Bukan hanya itu saja, hati adalah sumber kekuatan dalam manusia. Oh ya, ini dibahas pada poin kedua.

2. Hati Sumber Kekuatan Tak Terbatas
Pernahkah Anda melihat bagaimana manusia mampu melakukan apapun demi orang yang cintai? Pergi ke rumah mertua, membawa bunga, membawa cincin lagi, padahal dia tahu kalau dia akan ditolak mertua. Kenapa dia bisa berbuat demikian? Apakah logikanya sudah hilang? Tidak! Itu tidak benar. Hati dia berkata untuk berbuat.

Bukan hanya itu saja. Sudah banyak membuktikan hati mampu mengalahkan segalanya. Pernah mendengar cerita manusia yang rela mengarungi samudera demi melihat kekasihnya? Beberapa cerita dongeng memang berkata demikian. Tapi itu sering terjadi di dunia nyata. Hal ini semua adalah hati.

Ingat! Anak adalah orang yang dekat dengan hatinya. Dia masih mampu mendengar kata hati. Hati dia selalu berkata, “Tidak ada kata untuk lelah,” maka dari itu anak-anak tidak pernah lelah. Hehe, saya tidak bisa memberikan bukti ilmiah mengenai teori ini. Tapi … ini pernah kita rasakan bukan? Saat masih anak-anak.

Memang ingatan pada saat anak-anak begitu buruk. Tapi Anda pastinya pernah mengingat, bagaimana Anda berinteraksi dengan hati Anda.

3. Sifat Alamiah Manusia adalah bermain
Inilah sifat alamiah manusia, bermain. Baik untuk orang dewasa maupun dengan anak-anak. Bermain adalah sifat alamiah manusia.

Mungkin untuk anak-anak, bermain ke lapangan bersama teman-temannya. Atau bermain dengan mainan kesukaannya. Remaja bermain dengan kendaraan atau dengan teman sekelompoknya, atau bermain game. Orang dewasa bermain dengan uang.

Sifat alamiah manusia adalah bermain. Dan itu tidak bisa tergantikan. Mungkin Anda tidak menyadarinya, tapi Anda sekarang sedang bermain. Mungkin, ketika Anda membaca artikel saya, Anda sedang bermain, bermain membaca kalimat, hehe.

Namun bentuk permainan antara anak-anak, remaja, dan dewasa ketiganya berbeda.

Pendidikan Untuk Anak-Anak

pendidikan untuk anak-anak

Sebelumnya sudah saya jelaskan mengenai sifat alamiah anak-anak. Sifat alamiah anak-anak adalah bermain dan mengerjakan kebaikan. Maka dari itu, sebaiknya memberikan pengajaran yang menggabungkan bermain dan kebaikan. Memang itu sulit, tapi patut dicoba.

Pertama adalah pemilihan model pembelajaran yang tepat untuk anak-anak. Menurut hemat saya, model “ceramah” adalah model yang terburuk untuk anak-anak. Karena anak-anak hanya diam saja, mendengarkan begitu saja, dan tidak bisa mengeluarkan pendapatnya sendiri. Apa yang terjadi? Ketiak dia dewasa nantinya, dia hanya akan mendengar, melakukan apapun yang disuruh, tanpa mengikuti kata hatinya. Itulah yang terjadi pada kita.

1. Problem Based Learning (PBL)
Model ini mengharuskan memberikan pertanyaan terlebih dahulu, baru menjelaskan pelajaran, setelah itu melakukan diskusi kelompok. Secara teori memang terlihat sederhana. Kasih pertanyaan, jelaskan, diskusi. Pelajaran berakhir. Kalau untuk anak kuliahan, memang mudah. Tapi bagaimana dengan anak-anak?

Saat memberi pertanyaan, seharusnya berilah pertanyaan tentang kebaikan. Karena anak-anak sangat suka dengan kebaikan. Hal ini akan mendorong keinginannya untuk kebaikan. Ada yang menyarankan memberi pertanyaan, harus sesuai dengan pelajaran yang akan dilakukan. Memang bisa, tapi alangkah baiknya memberikan pertanyaan, yang tidak melenceng jauh dari pelajaran tapi mengandung kebaikan. Susah? Memang susah? Namanya mengajari anak-anak.

Pada saat diskusi, sebaiknya lakukan diskusi sambil bermain. Ya … kelemahan dari hal ini, anak-anak akan bermain-main terus tanpa belajar. Inilah peran pendidik untuk membimbingnya. Walaupun begitu susah, sebaiknya lakukan dengan senang hati.

2. Teams Games Tournaments (TGT)
Model pembelajaran ini memang sangat sederhana. Hanya berikan permainan mengenai pembelajaran, permainan tersebut dimainkan bersama dengan kelompok. Berikan laporan hasil permainan, diskusikan, dan selesai. Sederhana sekali. Bagi anak kuliahan bisa sih, tapi tidak efektif juga. Karena ujung-ujungnya, saat permainan, ada dua kemungkinan. Bermain serius tanpa belajar atau satu orang serius belajar, selebihnya bermain tanpa belajar.

Untuk anak-anak? Memang susah banget. Saya saja memikirkannya sudah puyeng, jenis permainan apa yang sesuai dengan anak-anak dan itu menambah pemahamannya.

Tapi memang harus seperti itu. Bermain adalah sifat alamiah manusia, manusia akan senang untuk bermain. Dan tentu saja, ingatan manusia tentang bermain lebih kuat daripada ingatan lainnya. Hal itu terjadi dengan Anda. Saya yakin, Anda akan lebih ingat tentang permainan game yang enam tahun Anda mainkan, daripada pelajaran yang Anda pelajari enam tahun lalu.

Susah? Jelas iya.

3. Discovery Learning
Model ini juga sederhana banget. Kasih masalah, suruh siswa mencari masalah. Pembelajaran selesai tapi keefektifan model ini sangat kecil. Bahkan untuk anak kuliahan, model discovery learning tidak efektif.

Tapi jika kita mampu memanfaatkan model ini, memberikan masalah yang sesuai dengan pembelajaran, membiarkan anak-anak mencari pemecahan masalahnya sendiri. Maka itu akan sangat efektif.

Anak Bukan Robot

anak bukan robot

Kita semua tahu, anak bukan robot. Tapi … secara perlakuan, tanpa sadar kita menganggap anak adalah robot. Sebenarnya apa sih robot itu? Robot adalah sebuah makhluk yang akan melakukan apapun yang diperintah tuannya dengan hasil yang sangat sempurna. Tidak ada kata “salah” pada robot.

1. Ketika Anak Salah, Anak Akan Dimarahi Habis-Habisan
Ada satu hal yang membuat saya tergerak untuk menulis ini. Masih banyak di antara para orang tua maupun pendidik, ketika anak melakukan kesalahan, dia kana memarahinya habis-habisan. Bahkan sampai mencemooh anak tersebut. Salah? Sudah jelas!

Anak itu suci, dia masih belum tahu apa itu salah. Bagi dia, salah itu adalah abu-abu. Senakal apapun anak tersebut, bagi dia jahat itu adalah abu-abu.

Sebaiknya jangan marahi dia. Boleh dimarahi, tapi dengan lemah lembut. Kelembutan memiliki jutaan keefektifitas daripada kekasaran. Setelah itu, berilah dia pengarahan, bahasa lainnya nasihat. Namun di sini salah juga. Kita biasanya hanya memberikan nasihat saja, hanya sebuah kata indah. Bagi orang dewasa memang cukup efektif. Bagi anak-anak tidak! Apalagi bagi yang remaja. Sebaiknya kasih tahu penyebab kenapa itu salah.

Misalnya, si anak mencuri. Dia dengan sengaja mencuri photo mantan Anda, terus Anda marah? Marahi dengan lembut. Setelah itu nasihati, dan kasih tahu apa dampak yang akan dia terima kalau mencuri. Kalau bisa, kembalikan itu kepada dirinya. Bingung? Katakan, “Nak, seandainya bapak mencuri baju kamu, sehingga kamu tidak pakai baju ke sekolah, mau?” si anak akan otomatis mengatakan “tidak”. Lalu, “Maka dari itu, mencuri itu tidak baik. Lihat, kamu saja tidak suak dicuri.”

2. Pekerjaan Anak Bukan Belajar Tapi Bermain
Banyak sekali pendidik yang mengharuskan anak didiknya kuat pada pelajaran. Bahkan ada yang sampai rela memotong waktu bermain agar si anak mengerti. Salah? Memang salah. Apa dampaknya? Hal inilah yang terjadi pada kita. Kita merasa masih kurang bermain, sehingga melanjutkan permainan hingga dewasa. Kita tidak bisa membagi waktu antara bermain dan hal yang penting, karena kita merasa kurang bermain. Alhasil, kita lebih banyak bermain daripada serius.

Boleh melakukan pembelajaran, tapi … sebaiknya lakukan sambil bermain. Di atas sudah saya berikan contoh model pembelajaran yang baik diterapkan. Walaupun memang susah banget. Lebih enak menggunakan model “ceramah” dan “tanya jawab”. Tapi itu sangat tidak efektif. Bahkan untuk anak kuliah juga model ini tidak efektif.

Anak bukan robot. Anak jangan dipaksakan mendapatkan nilai tertinggi.

Serpihan Kaca Pendidikan Anak Untuk Kata Terakhir

Jika berbicara tentang anak dan pendidikan, memang selalu ditemukan kekurangan dan kelebihan. Dan dampak yang dihasilkan juga sangat berdampak hingga dia dewasa nantinya.

Banyak kejadian, seseorang saat dewasa sering melakukan kekerasan karena saat anak-anak dia juga diajarkan melakukan kekerasan. Ada lagi yang sampai dewasa dia hanya bermain saja, karena saat anak-anak waktu dia bermain tidak ada.

Jika anak-anak tidak memiliki waktu bermain, dia akan terus bermain hingga dewasa. maka fenomena sekarang ini, banyak kita lihat, sewaktu anak-anak dia berprestasi. Tapi ketika dewasa, dia malah hancur.

Sebagai pendidik seharusnya kita memahami hal tersebut. Program pendidikan memang wajib dijalankan. Tapi … sebaiknya jangan lupa keinganan anak untuk bermain. Alangkah baiknya menggabungkan pelajaran dan permainan. Istilah kerennya, “Belajar sambil bermain,” di teori memang mudah. Tapi di praktik sangat susah.

Anak adalah Masa Depan. Salah Mendidik Anak, Maka Masa Depan Akan Suram

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here