10 Tips Menulis Buku Non Fiksi Bagi Pemula

Menulis Buku Non Fiksi

Sejatinya, menulis buku non fiksi maupun buku fiksi itu sama. Itu secara garis besar saja. Jika diperhatikan lebih lanjut, ternyata menulis buku non-fiksi dengan fiksi memiliki perbedaan. Perbedaan tersebut cukup signifikan jika diperhatikan. Salah satunya adalah ketersediaan data. Coba perhatikan contoh buku fiksi, misalnya Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta dengan contoh non-fiksi pendek, misalnya essay ilmiah, buku pelajaran sekolah. Kedua jenis buku tersebut memiliki perbedaan yang signifikan, bukan?

Apakah sulit menulis buku non-fiksi? Pertanyaan tersebut memang terkadang terlintas di kepala kita. Jika ditanya ke beberapa penulis, mungkin ada yang menjawab sulit, namun ada juga yang menjawab tidak sulit.

Apakah buku non-fiksi bisa menjadi best seller? Jangan salah, banyak loh buku non-fiksi menjadi best seller. Contoh buku non fiksi best seller antara lain: Sabar dan Syukur Tanpa Tapi, penulis: Taufik Kaulia; 2 Menit Membaca Kepribadian dan Karakter Orang Lain, penulis: Asti Musman; Kupas Tuntas Soal UN/SBMPTN (selalu jadi best seller setiap tahun), dll.

Tips Menulis Buku Non Fiksi

Jadi, ada beberapa tips untuk menulis buku non-fiksi. Karena sejatinya, cara menulis buku fiksi dengan non-fiksi itu tidaklah sama.

1. Ada masalah ada solusi

Nah, kebanyakan pembaca mencari buku non fiksi itu karena ada masalah. Mereka ingin mencari solusi dari masalah tersebut. Atau ingin mencari ilmu pengetahuan baru terhadap masalah baru.

Dan hal tersebut sangat berbeda dengan pembaca buku fiksi. Mereka tidak mencari masalah, namun mereka mencari hiburan. Buku mana yang menurut mereka menginspirasi, menarik, menyentuh hati, dll.

Nah, karena target pembaca ingin mencari solusi dari sebuah masalah, atau mencari ilmu pengetahuan baru, maka sebaiknya mulailah menulis beberapa masalah dan ada solusinya. Usahakan solusi yang diberikan mudah dimengerti oleh para pembaca. Jika solusi yang diberikan terlalu rumit untuk pembaca, tentu mereka tidak akan menganggap buku tersebut bagus. Namun, jika solusi tersebut mudah dipraktekkan dan terbukti khasiatnya, maka buku non fiksi tersebut akan mudah menjadi best seller.

Perhatikan buku Kupas Tuntas Soal UN/SBMPTN. Di buku tersebut terlihat jelas sekali bukan mengenai ada masalah ada solusi.

2. Buatlah paragraf pembukaan yang memikat

kebiasaan buruk ketika bekerja

Sepertinya, setiap menulis karangan kita dituntut untuk membuat paragraf pembukaan yang memikat. Baik itu fiksi maupun non-fiksi. Jika menulis fiksi, memang membuat paragraf awal yang menarik itu adalah wajib. Karena paragraf awal yang menarik amat menentukan kualitas sebuah cerita.

Namun begitu juga dengan non-fiksi. Memang paragraf pembukaan yang menarik tidak akan menentukan kualitas dari tulisan. Karena penentu paling besar kualitas tulisan dari buku non fiksi adalah solusi yang diberikan serta penggunaan bahasa. Namun dengan paragraf pembukaan yang memikat akan mengundang pembaca untuk terus membaca dan memahami.

Ada yang berkata pembukaan yang menarik bagi tulisan non-fiksi itu tidak perlu. Eits, itu adalah tanggapan yang keliru. Coba perhatikan pada perlombaan karya ilmiah. Rata-rata panitia memilih untuk mengirimkan abstrak terlebih dahulu, hal tersebut untuk melihat apakah tulisan karya ilmiah menarik atau sesuai dengan kriteria. Bahkan, untuk menerbitkan jurnal internasional pun, para reviewer terkadang lebih memilih memeriksa abstrak terlebih dahulu.

Berarti, paragraf pembukaan yang memikat itu juga diperlukan bagi tulisan non-fiksi. Jadi, jangan anggap remeh pada pembukaan awal tersebut. Oh ya, usahakan membuat paragraf awal yang mampu memancing pembaca atau membuat si pembaca menjadi penasaran.

Oh ya, ada beberapa cara untuk membuat paragraf pertama yang memikat, yaitu:

  • Mempertegas masalah yang dihadapi.
  • Menjelaskan solusi yang akan berikan.
  • Memberitahu keuntungan yang didapat.
  • Membangkitkan rasa penasaran pembaca dengan pertanyaan atau pernyataan.

3. Jangan bertele-tele

Nah, ini dia salah satu kesulitan dalam menulis non-fiksi. Membuat kalimat yang tidak bertele-tele itu sulit banget Karena apa? Karena kebanyakan dari kita sudah terbiasa membuat kalimat bertele-tele.

Alasannya? Ketika guru atau dosen menugaskan kepada kita dulu membuat makalah, ayo … berarti kita berlomba-lomba membuat makalah dengan halaman terbanyak. Apakah kita sempat memeriksa kalimat satu per satu? Sayangnya tidak. Yang ada di pikiran, semakin banyak halaman berarti semakin baik.

Sehingga kita terbiasa membuat kalimat yang bertele-tele, bahkan berulang-ulang. Tentu saja itu tidak diinginkan pembaca. Jangankan pembaca, bagaimana kalau Anda menemukan buku yang bertele-tele, Anda juga tidak suka, bukan? Nah, jika demikian, usahakan jangan bertele-tele.

4. Arahkan pembaca

Nah, bisa dikatakan menulis buku non fiksi itu adalah menulis sebuah cerita. Kenapa? Karena kita harus bisa mengarahkan pembaca. Dari sebuah masalah, hingga ke solusi yang diberikan satu per satu.

Buat para pembaca berimajinasi, berimajinasi saintifik maksudnya hehe. Hal ini mampu meningkatkan kualitas dari tulisan. Bayangkan, Anda membaca buku non-fiksi dan buku itu mampu mengarahkan Anda. setiap BAB pada buku tersebut memberikan solusi baru yang membuat Anda semakin penasaran. Hal tersebut sangat menarik, bukan?

Nah sebisa mungkin buatlah tulisan yang demikian. Walaupun sulit, yaps itu sangat sulit. Karena menggabungkan imajinasi penulis dengan logika penulis. Namun, sulit itu belum berarti tidak bisa dilakukan.

5. Disusun dengan rapi dan sistematis

Rapi dan sistematis adalah dua hal yang berikatan kuat pada buku non fiksi. Dengan rapi dan sistematis, maka pembaca dapat terarah ke tujuan yang dimaksud dalam buku, dan juga terlihat lebih profesional.

Bayangkan deh kalau nemu buku non-fiksi yang tidak rapi sekaligus sistematis. Awalnya dia menjelaskan pengertian A, lalu menjelaskan kelemahan A, lalu menjelaskan tujuan A, lalu menjelaskan kesimpulan, lalu menjelaskan pustaka A, lalu menjelaskan kelebihan A. Wah … sudah kacau nih. Anda pun sebagai pembaca, jika menemukan tulisan yang tidak rapi dan sistematis, bakal kecewa berat tuh.

Oh ya, penyusunan dengan rapi dan sistematis merupakan salah satu nilai jual dalam tulisan non-fiksi. Karena rata-rata, orang yang membaca buku non-fiksi adalah mereka yang memiliki pengetahuan luas. Dan pastinya, mereka sangat suak dengan penyusunan yang rapi dan sistematis.

6. Berikan solusi praktik yang harus dilakukan

Sebaiknya jangan hanya memberikan solusi praktik pada masalah, tanpa diberitahu apa yang harus dilakukan si pembaca. Hal tersebut terkesan nanggung banget. Jika boleh, berilah solusi apa yang harus dilakukan oleh si pembaca.

Misalnya nih ya, Anda membuat buku tentang “Sehat di hari tua”, nah, Anda pada setiap BAB, Anda menjelaskan keuntungan sehat di hari tua. Dan teori mengenai apa yang harus dilakukan agar sehat di hari tua.

Nah, itukan hanya teori. Praktiknya? Berikan juga apa yang harus dipraktikkan agar sehat di hari tua. Sehingga pembaca dapat mengaplikasikannya. Oh ya, terkadang, ada juga buku non-fiksi yang langsung memberikan solusi praktik yang dilakukan. Misalnya pada tulisan buku tutorial. Baik buku non fiksi pdf maupun cetak, buku tutorial selalu memberikan solusi praktik. Sehingga tak heran, kebanyakan buku tutorial tuh best seller.

Kesimpulannya, pada penulisan buku, jangan hanya sekadar berteori. Tapi berikan juga solusi nyata yang harus dilakukan.

7. Jika perlu berikan pengalaman pribadi

Pengalaman pribadi, apalagi pengalaman ketika lagi susah dan sekarang Anda sekarang sukses, atau pengalaman mengenai perjuangan dalam menjalani kerasnya hidup, bisa cinta, keuangan, atau keluarga.

Bukan hanya pada sebuah buku, namun pada tulisan essay juga, mencantumkan sedikit pengalaman pribadi mampu meningkatkan kualitas essay. Bahkan, jika pengalaman tersebut memang menarik, tepat sasaran, dan memberikan pembelajaran yang berarti, maka itu disebut essay yang tak ternilai. Maka tak heran, orang berlomba-lomba membuat essay dengan mencantumkan pengalaman pribadi. Namun hal yang perlu harus diingat, membuat tulisan non-fiksi (buku, journal, essay) dengan mencantumkan pengalaman pribadi, agar terlihat menarik itu terlihat mudah, namun sebenarnya itu sangat susah (letterpile).

Hehe, berarti sudah tahu kan kalau mencantumkan pengalaman pribadi itu mampu meningkatkan kualitas tulisan. Dan dengan penempatan yang baik, mampu memberikan masukan yang positif bagi pembaca. Jadi, jangan ragu untuk memberikan pengaman pribadi.

8. Bisa juga memberikan studi kasus

Memberikan studi kasus pada sebuah karangan itu memang menarik, mampu meningkatkan kualitas tulisan. Dan juga, dengan penempatan studi kasus yang tepat, para pembaca mampu mengambil pelajaran, dan pastinya tulisan jadi tidak membosankan.

Anda membuat tulisan “Sehat di Hari Tua”, maka Anda memberikan studi kasus mengenai apa yang harus dilakukan jika sehat di hari tua. Sumbernya bisa diambil dari pengalaman orang lain maupun pengalaman sendiri. Dan tentu saja, pembaca semakin berpikir keras dan mendalaminya.

Oh ya, satu lagi contoh studi kasus buku best seller setiap tahun, “Kupas Tuntas UN/SBMPTN”, perhatikan, di buku tersebut banyak sekali studi kasus diberikan. Dan juga membuat si pembaca semakin tertantang untuk memahaminya.

Buku “Tutorial Best Seller” juga biasanya memberikan studi kasus yang harus dipahami para pembaca. Iya sih, kalau buku tutorial tuh memang harus memberikan studi kasus, biar lebih muda dipahami.

9. Gaya bahasa harus santai dan mudah dimengerti

Bersabar memperbaiki artikel

Baik itu target pembaca orang awam maupun orang akademik, gaya bahasa harus santai sehingga mudah dipahami. Apalagi untuk pembaca awam, sebaiknya gunakan gaya bahasa orang awam, jangan gunakan gaya bahasa orang akademik.

Untuk target pembaca akademik, misalnya jurnal internasional, essay ilmiah, karya ilmiah, memang menggunakan gaya bahasa akademik, namun harus menggunakan gaya bahasa santai.

Bayangkan deh, ketika Anda, menemukan sebuah tulisan dengan gaya bahasa ribet banget. Butuh waktu untuk memahami satu kalimat saja. Anda pun bakal meninggalkan tulisan tersebut, bukan?

10. Ciptakan judul yang menarik

Jika ditanya, pada setiap tulisan tuh yang sulit itu apa? Bukan untuk mengarang tulisan beberapa ribu kata yang sulit. Namun menentukan judul, itulah yang sulit. Padahal judul hanya beberapa kata saja, bahkan ada yang hanya satu kata.

Kenapa hal tersebut sangat sulit? Kalau membuat judul asal-asalan sih nggak masalah. Namun, membuat judul yang menarik, unik, terlihat manfaat dalam tulisan, menarik minat, meningkatkan rasa penasaran pembaca itulah yang sulit.

Ketika calon pembaca akan membaca sebuah karangan, hal yang pertama kali dilihat tentu judul. Kalau judulnya menarik tentu si pembaca akan meluangkan waktunya untuk memeriksa tulisan tersebut. Jika tidak menarik, bakal ditinggalkan.

Untuk membuat judul yang menarik, apakah harus dilakukan sebelum tulisan selesai atau setelah tulisan selesai? Itu sih terserah Anda. Namun, sebaiknya Anda memikirkan judul tersebut matang-matang.

Penutup

Menulis buku non fiksi yang baik, benar dan best seller itu memang sulit. Karena banyak hal yang harus diperhatikan. Eh, bukan saja non-fiksi deh, buku fiksi juga banyak yang harus diperhatikan agar buku itu menarik dan best seller. Namanya memberikan yang terbaik, tentu tidak sembarangan dong.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here