Ketika Memutuskan Tobat Makan Pedas (BC70)

Ketika Memutuskan Tobat Makan Pedas

Kali ini adalah tantangan Bloggers’ Challenges ke-70 mengenai makanan kesukaan. Hmm … tantangan yang sangat menggiurkan nih. Pikiran saya sudah melayang kepada makanan pedas-pedas.

Yaps, saya suka banget dengan makanan pedas. Ada rasa tantangan gitu untuk menyelesaikan makanan pedas. Apalagi dengan mie yang berasa pedas. Wah … bakal enak banget tuh.

Keringat yang bercucuran karena pedas, rasa ingin menghabiskan mie itu seutuhnya sekaligus kuahnya, tantangan yang telah memacu adrenalin, dan juga lidah yang menyantap nikmatinya rasa pedas tersebut.

Saking gilanya makan pedas, selalu deh menambah cabe setiap makan mie. Ampun deh, gin dih kalau orang yang suka makan pedas. Namun, ada satu waktu yang membuatku tobat makan pedas. Ehm, maksud di sini, saya menyadari keterbatasan dalam makan pedas.

Ketika di Medan, ada sebuah warung yang namanya mie level. Nah itu adalah mie dengan level kepedasan yang berbeda. Kalau makan mie level dengan level paling atas, wah … bakal pedas banget deh. Sangat sedikit orang yang mencoba level teratas. Level 4 atau 6 itu ya? Lupa saya.

Nah, berhubung saya suka dengan makanan pedas, saya mencoba dengan level teratas. Ketika saya mencicipi satu sendok kuah mie, masih belum terasa pedas. Coba lagi, masih belum pedas. Hingga akhirnya setengah piring mie habis, mulai deh hormon adrenalin berfungsi.

Membuat tubuh semakin bersemangat, ingin rasanya untuk menghabiskan mie yang di depan saya. Kalau tidak habis, tidak akan berhenti makan. Namun, di situ letak kesalahan saya. Seandainya saya kembali ke masa lalu, saya akan menampar diri saya waktu itu. Karena melakukan kesalahan fatal.

Mienya sih habis, habis malah sekaligus dengan kuahnya. Namun, tiga puluh menit kemudian, mulai perut berbunyi. Rasanya perut ini sakit banget. Untung saya sudah sampai di kos, jadi bebas tuh pergi ke kamar mandi. Ternyata, tidak hanya satu dua kali, lebih dari empat kali ternyata.

Kenapa ya? Biasanya ketika saya makan pedas tidak akan menimbulkan seperti ini. Ada apa gerangan? Kenapa saya seperti ini?

Ternyata usut punya usut, pedas yang dihasilkan bukan dari cabai melainkan dari merica. Akhirnya saya mengetahui kelemahan saya. Saya suka makan pedas kalau pedasnya berasal dari cabai. Kalau pedas dari merica, saya tidak tahan, perut saya yang tidak tahan tepatnya.

Mulai hari itu, saya pun belajar membedakan mana pedas yang berasal dari cabai mana pedas yang berasal dari merica. Saya takut melakukan kesalahan yang sama. Akhirnya saya berhasil membedakan mana pedas cabai mana pedas merica. Jadi, setiap makan yang pedas, terlebih dahulu saya melihat bentuk makanan dan mencicipinya sedikit. Kalau berasal dari pedas merica, saya mengundurkan diri. Namun jika pedas berasal dari cabai, baru deh tancap gas, habisin tuh makanan.

8 COMMENTS

  1. tau drimana kalau pedas yg membuat perut kak amru itu pedas dari merica?

    • Setelah belajar dek, mencoba memakan makanan dengan pedas merica lagi. Setelah beberapa kali makan makanan dengan pedas merica dan itu membuat perut sakit.

  2. Kalau aku pedas cabai atau merica sama2 ga tahan.

    Memang katanya pedas merica itu lebih ngeri efeknya, mulas-mulas perut dibuatnya.

    • Benar kan wa πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    • Kalau ane sih cara bedanya dengan rasa pedas. Kalau makanan tiba-tiba pedas mungkin tuh dari pedas merica. Namun kalau perlahan-lahan pedas, itu baru pedas cabai

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here