Kisah Cintaku Melalui Curhat

Kisah Cintaku Melalui Curhat

“Papa, papa tidak akan meninggalkan mama kan?”

“Tentu saja, mama adalah cinta satu-satunya di hati papa.”

“Benarkah pa? Awas kalau papa bohong.”

“Iya mama.”

Setelah itu mereka berpelukan mesra banget. Mendengar hal tersebut aku menjadi panas dingin. Aku langsung mendekati dua insan yang sedang jatuh cinta.

“Kalian ini masih SD. Tidak baik bicara seperti itu,” kataku dan kata seorang cewek di sampingku. Dari mana dia muncul? Aku tidak mengenalnya, begitu juga dengan dirinya tidak mengenalku. Aku menatapnya begitu juga dia.

“Nah, abang dan kakak juga pacaran,” kata kedua anak SD tersebut.

“Kami bukan pacaran! Kenal saja tidak!” teriakku dan cewek itu bersamaan. Eh, kok bisa bersamaan? Setelah itu, kedua anak SD tersebut kabur sambil tertawa. Huh … dasar anak SD.

Cewek itu duduk dibangku yang diduduki anak SD tadi. Aku tidak mengenal cewek itu, sehingga aku ingin meninggalkan dia. Namun … cewek itu mencegah pergerakanku.

“Hey kamu, karena kamu ada di sini. Dengarkan dulu curhatku! Kalau tidak, aku ngambek,” katanya dengan nada memaksa. Apa? Apa yang terjadi dengan cewek ini? Kenapa dia berkata demikian? Kenal aja tidak, sudah mengajakku untuk mendengarkan curhatnya.

“Dengar tidak!”

“Iya deh,” aku lebih baik mengalah saja. Bertengkar dengan cewek bukanlah style diriku. Aku duduk di sampingnya, aku memasang jarang yang cukup jelas antara kami berdua. Kurang lebih jaraknya tiga puluh centimeter.

Cewek itu menarik nafas dalam. Dia pun mulai berkata, “Aku heran ya. Kenapa anak SD main pacaran aja! Padahal mereka itu seharusnya main-main. Apa mereka tidak merasakan patah hati apa? Dasar…,” cewek itu mulai curhat panjang lebar. Aku hanya mendengarkan apa yang dia katakan.

Setelah dia selesai curhat. Kini dia….

“Huh … akhirnya aku selesai curhat. Sekarang kamu curhat,” apa? Kenapa pula aku harus curhat?

“Kenapa?”

“Karena kamu telah mendengar seluruh curhat aku. Asal kamu tahu, aku telah memendam curhat tersebut selama satu tahun. Maka dari itu, kamu harus curhat dalam rentang waktu tersebut. Itu adalah barter bukan? Secara aku tidak mengenalmu, maka wajar aku barter curhat,” sebenarnya aku juga tidak mengenalmu. Tapi, kenapa aku harus curhat?

“Apa tidak ada cara lain?” tanyaku pelan, berusaha bernegosiasi. Curhat bukanlah style diriku. Aku lebih memilih memendam perasaanku, dibiarkan menumpuk begitu saja sampai waktu menghilangkan perasaan tersebut. Aku lebih nyaman demikian, walaupun ada kalanya aku sakit banget menahan perasaan yang menumpuk.

“Tidak ada cara lain. Sebaiknya cepat curhat! Waktu adalah uang,” kata cewek itu dengan setengah memaksa.

Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus memulai curhatku. Tapi, apa yang harus aku keluarkan? Bibirku bergetar sekaligus tertutup. Aku tidak bisa berbicara sedikitpun, tapi….

“Ayo cepat, kalau tidak aku paksa loh,” dari tadi kamu sudah memaksaku.

Aku menarik nafas dalam-dalam. Aku siap untuk curhat. Tapi, apakah cewek dengan hijab hijau mau mendengar curhatku? Cerita yang begitu lama, yang sudah dibiarkan menumpuk di dalam hatiku.

Aku mengeluarkan suaraku dengan pelan. Lambat laun, aku semakin mengeluarkan semuanya.

***

Satu tahun yang lalu, ketika aku baru saja memasuki sebuah kota yang sangat besar. Jika kotaku yang lama bisa ditempuh dengan jalan kaki, namun kota ini tidak bisa. Aku sudah berusaha untuk berjalan kaki, tetap tidak tercapai.

Aku menatap sebuah gedung tinggi sekali. Gedung pencakar langit istilahnya. Aku merasa diri ini begitu kecil. Namun, bukan itu yang aku risaukan. Yang aku risaukan adalah….

“Pokoknya kamu tidak cocok dengan anakku,” teriak seorang laki-laki tua. Dia adalah anak dari perempuan yang baru saja aku lamar. Dan itu adalah penolakan yang sangat keras. Seluruh tubuhku langsung luntur.

Kata-katanya yang tegas mengubah seluruh hidupku. Aku tidak bisa berkata lagi, aku hanya bisa menunduk lemas. Jika bisa, aku ingin menangis, tapi aku tidak boleh demikian.

Seorang cewek yang sudah lama aku cintai. Dia memang bukan pacarku, tapi aku mencintainya. Aku mempunyai keyakinan untuk melamarnya. Namun, itu hanya sebatas keyakinan semata. Ayahnya menolak lamaranku, begitu juga dia. Dia juga merasa senang ketika ayahnya menolakku. Hatiku hancur berkeping-keping.

Karena aku merantau di kota ini, aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Tentu saja aku butuh beberapa uang untuk bertahan di kota ini. Sebelum melamar cewek tadi, aku juga sempat wawancara kerja di salah satu perusahaan, dan aku juga ditolak. Aku melampiaskan semua curahan hatiku di sebuah blog. Blog yang sudah lama aku kelola, tempat curahan hatiku dalam bentuk cerpen.

Karena aku tidak mempunyai pekerjaan sedikitpun, aku semakin banyak menulis. Dan akhirnya pengunjung blog semakin ramai, dan dari situlah aku mendapatkan pundi-pundi rupiah. Hasilnya, lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhanku.

Dan tanpa sengaja, aku bertemu dengan social media cewek yang telah menolakku. Dia baru saja melangsungkan pernikahannya. Hal tersebut makin menguras hatiku.

***

“Jadi, kamu ditolak gitu?” tiba-tiba cewek itu berkomentar, membuyarkan curhatku.

“Iya benar,” kataku sedih.

“Kenapa kita sama ya?” kata cewek itu, dan tentu saja membuat aku terkejut. Tadi dia tidak curhat mengenai masalah itu. Melihat diriku yang terkejut, cewek itu tertawa lepas.

“Hahaha, maaf-maaf. Sebenarnya curhat tadi itu hanya bohong. Itu hanya imajinasiku saja, hahahaha,” apa? Aku sudah curhat panjang lebar, walaupun tidak semuanya, tapi enam puluh delapan persen aku sudah curhat. Aku pikir bakal impas, ternyata tidak! Aku hanya melongo. Aku seperti telah dikhianati.

“Hey, hey, jangan bengong seperti itu dong. Oh ya, sebagai balasannya, aku akan curhat sebenarnya. Lihat kan cincin ini,” cewek itu menunjukkan sebuah cincin emas melingkar manis di jari manisnya. Aku mengangguk. Sepertinya itu cincin tunangan.

“Ini adalah cincin tunangan, dan tunanganku telah menikah bersama cewek lain. Aku pikir dia adalah cowok baik-baik, nyatanya tidak. Dia telah menghamili cewek lain, tentu saja dia harus bertanggung jawab,” kata cewek itu dan otomatis dia mengeluarkan air mata. Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi.

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku hanya diam saja memperhatikan cewek itu menangis keras. Apa yang bisa aku lakukan? Memeluknya sambil mengelus menenangkannya? Tidak-tidak, itu bukan hal yang pantas aku lakukan.

***

Dua hati yang telah rusak, kini bersama-sama memperbaikinya kembali. Mengulang lagi kisah cinta dari awal. Tanpa sadar, masing-masing dari dua insan mengulang kembali, dan menumbuhkan lagi cinta yang suci.

Entah sejak kapan, aku menjadi dekat dengan cewek itu. Karena kami memiliki nasib yang sama, akhirnya kami sering sekali curhat. Kami hanya bertemu satu kali, di tempat yang sama. Di sana kami akan curhat satu sama lain.

Dan pada saat itu adalah saat yang ditunggu-tunggu olehku, ternyata dia juga menunggunya. Hingga akhirnya cewek itu memberi kode kepadaku.

“Hei, kita kan sudah sering curhat-curhatan. Sebenarnya nggak boleh loh kita begini.”

“Iya sih, nggak boleh sebenarnya.”

“Maka dari itu, kamu harus halalin seseorang bisa bisa curhat dengannya ya!” waktu itu aku tidak mengerti. Aku hanya melongo saja. Namun, sehabis salat maghrib aku menyadarinya. Aku langsung tancap gas ke rumahnya. Walaupun aku tidak pernah ke rumahnya, namun dari dia curhat, aku tahu alamat lengkap rumahnya. Awalnya aku minder, rumahnya sangat besar, dua kali lipat daripada rumah orang tuaku. Aku memberanikan diri memencet bel rumahnya.

Datanglah seorang ibu-ibu membukakan pintu. Aku dipersilahkan masuk dan dia bertanya apa maksud kedatanganku. Aku mengutarakan maksudku hendak melamar anaknya, seketika itu pula ibu itu pingsan.

Ibunya pingsan karena itu adalah berita gembira yang didengarnya. Anaknya, alias cewek itu mempunyai perkataan yang cukup kasar, sehingga tidak ada cowok yang mau menerimanya. Ternyata, baru aku yang pertama kali datang melamarnya. Seketika itu pula ibunya menangis haru.

“Kalau bisa, cepat-cepat kalian menikah ya. Segeralah halalin dia,” kata ibunya memaksaku. Tentu saja aku hanya senyum saja, karena aku harus membicarakan ini dengan hal tersebut kepada orang tuaku.

Dan ketika orang tuaku mendengar peristiwa tersebut, ayah dan ibuku tersenyum bahagia. Dan akhirnya kami melangsungkan pernikahan.

“Papa, pokoknya papa jangan meninggalkan mama.”

“Tenang saja mama. Pokoknya papa selalu setia.”

“Tapi, kakak kelas enam itu genit banget kepada papa. Kayaknya dia ada rasa deh.”

“Eh, masak sih. Papa kan cintanya sama mama.”

Mendengar hal tersebut membuat telingaku panas dingin. Segera aku mendekati dua anak SD tersebut.

“Dek, kalau masih SD, jangan dulu pacaran. Main-main saja!” kataku serempak dengan istriku. Eh, istriku dari mana datangnya?

Kedua anak SD itu langsung meninggalkan kami dengan wajah kesal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here