Kenapa Sangat Sulit Menjaga Konsistensi Menulis?

Ingin menjadi penulis yang hebat? Maka jawabannya harus sering-sering latihan. Semakin sering berlatih menulis, maka kemampuan semakin terasa. Seperti bayi yang belajar berjalan. Semakin sering bayi tersebut berlatih berjalan semakin ahli pula dia berjalan.

Sebenarnya apapun pekerjaan manusia, membutuhkan konsistensi untuk terus berlatih dan berkarya. Menghitung? Coba ingat sejak kapan kita mulai belajar berhitung? Mulai dari SD sampai sekarang tetap berhitung. Membaca? Sejak dari SD sampai sekarang kita terus membaca tanpa henti.

Begitu juga dengan menulis, membutuhkan latihan yang tidak singkat. Banyak usaha yang dibutuhkan agar menjadi penulis yang handal. Inspirasi hebat boleh-boleh saja datang kapan saja, namun inspirasi hebat tanpa keahlian penulis merangkai kata-kata bakal sia-sia juga inspirasi tersebut.

Jika dilihat dari tulisan “cara cepat menjadi penulis handal” atau “tips menjadi penulis best seller” maka selalu disebutkan “sering berlatih menulis” dan kadang disebutkan untuk terus konsisten. Menulis setiap hari, tiga hari sekali, atau satu minggu sekali, yang penting konsisten. Ketika dibayangkan memang terlihat mudah sekali untuk terus konsisten, namun kenyataannya tidak demikian. Ketika kita memutuskan untuk terus konsisten, maka akan datang halangan yang lebih besar.

Mencoba menulis setiap hari. Minggu pertama masih bisa terus konsisten. Menulis itu rasanya menyenangkan. Namun apa yang terjadi minggu-minggu selanjutnya? Mulailah banyak sekali cobaan yang membuat kita menunda menulis. Mulai dari mood kurang baik, inspirasi yang tidak muncul-muncul, atau karena masalah kehidupan dunia nyata yang begitu pelik.

Hingga akhirnya rencana yang terus menulis setiap hari, semakin lama semakin hilang. Semakin jarang untuk berlatih menulis hingga akhirnya meninggalkan dunia menulis. Bukan hanya satu orang yang pernah mengalami hal demikian, banyak banget orang yang mengalami demikian. Terkadang, kenyataan tidak sesuai dengan direncanakan.

Memang, terkadang tidak sesuai dengan direncanakan. Ingin rasanya menulis konsisten tapi banyak sekali halangan. Namun, menghadapi halangan tersebut dan menghancurkan tembok penghalang yang harus dilakukan. Jangan kalah menghadapi tembok penghalang.

Setidaknya ada beberapa hal yang menyebabkan kita menjadi tidak konsisten menulis.

1. Suasana hati tidak baik

Ada yang berkata kalau menulis itu tergantung dengan suasana hati. Jika suasana hati baik maka menulis pun rasanya lancar sekali. Jika suasana hati tidak baik maka menulis pun bakal tersendat-sendat. Hehe, terkadang saya juga demikian kok.

Ketika saya patah hati ini ceritanya, jangankan memulai menulis, membuka laptop saja susah amat. Rasanya ada sesuatu yang menahan saya untuk menulis. Ketika membuka laptop dan menghidupkannya, ujung-ujungnya hanyalah melihat layar desktop saja. Tidak ada gerakan untuk memulai menulis.

Berdasarkan pengalaman saya, ketika suasana hati tidak untuk menulis, kadang saya ingin melawan hal demikian. Terkadang memang berhasil dikalahkan namun terkadang juga tidak berhasil. Namun entah kenapa, ketika saya melawan suasana hati yang tidak ingin menulis. Ada saja yang mendorong hati ini untuk terus melawan perasaan demikian. Memang bukan pada hari itu menjadi rajin menulis. Namun beberapa hari kemudian, saya semakin mampu melawan suasana hati.

Hingga walaupun hati ini malas untuk menulis, tapi tetap menulis. Walaupun tidak mood tapi ada dorongan kuat untuk menulis. Di situlah saya belajar, ketika berusaha untuk melakukan apa yang kita cintai/sukai, maka ada saja cara hari untuk memberi semangat.

Jadi kalau suasana hati tidak baik, jangan biarkan suasana tersebut menghalangi semangat menulis. Memang tidak harus langsung menulis, tapi beberapa hari kemudian. Sedikit-demi sedikit mengumpulkan hati yang ingin terus menulis.

2. Inspirasi tidak ada

Ini sering banget terjadi, bahkan para penulis profesional juga sering mengalaminya. Istilah kerennya adalah writer’s block. Ketika inspirasi tiba-tiba terhenti di tengah jalan, tiba-tiba kita tidak tahu apa yang ingin ditulis.

Sedang asyik-asyiknya menulis, tiba-tiba inspirasi hilang. Dalam kasus saya sih terjadi pada deskripsi tempat kejadian atau narasi mengenai definisi suatu ilmu. Rasanya malas banget untuk menulis. Alhasil, hanya melihat layar komputer saja tanpa melakukan apapun.

Kalau sudah begini ampun banget deh. Ingin menulis tapi tidak tahu apa yang harus ditulis. Kadang bisa sih memaksa diri untuk terus menulis. Tiba-tiba muncul inspirasi. Tapi kadang, memaksakan diri untuk menulis di saat inspirasi tidak ada membuat sakit kepala, pengalaman pribadi juga.

Jadi bagaimana menghadapi writer’s block ini? Hmm banyak cara sih yang dilakukan. Misalnya mengganti tempat menulis. Kalau biasanya menulis selalu di dalam kamar, coba deh sekali-kali menulis di cafe atau perpustakaan. Malah terkadang saya menulis di laboratorium, hihihi.

Intinya, coba deh mengganti suasana ketika inspirasi tiba-tiba hilang di tengah asyik-asyiknya menulis.

3. Tiba-tiba malas

Ini nih penyakit manusia yang tidak ada obatnya. Bahkan penyakit yang mampu mematikan kreatifitas manusia. Malas, adalah penyakit yang membuat kita tidak ingin melakukan apa-apa. Ingin rasanya hidup ini tidak melakukan apa-apa tapi hidup senang selamanya.

Memang sih, di awal-awal konsisten menulis, rasa malas masih belum menyerang. Masih menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan manusia. Biasanya sih di tengah jalan, tiba-tiba deh malas.

Seperti mahasiswa yang sedang rajin-rajinnya menulis skripsi. Ketika skripsi tersebut direvisi dosen pembimbing dua sampai tiga kali, tiba-tiba rasanya malas banget menulis skripsi kembali. Rasanya lebih baik tidak menulis skripsi dan ingin cepat-cepat lulus saja.

Jadi bagaimana caranya melawan malas? Caranya adalah niat menjadi rajin kembali, hanya itu saja caranya. Ketika dilanda rasa malas, cara paling ampuh adalah memaksa diri untuk terus berkarya. Ketika seseorang malas melakukan sesuatu, namun ketika mendekati deadline tiba-tiba menjadi rajin. Hal tersebut karena dia memaksakan dirinya untuk terus berkarya. Bahkan saking dipaksakan, otaknya bekerja dua kali lipat, menghasilkan karya yang luar biasa. Efek sampingnya adalah rasa lelah.

4. Terus menunda

Sudah direncanakan nih untuk menulis sesuatu, misal nih ingin menulis novel romantis. Prolog telah ditulis dan ketika menulis tersebut, diri senyum-senyum sendiri membayangkan adegan apa yang selanjutnya akan ditulis. Prolog telah selesai, istirahat dulu deh.

Mengambil smartphone, eh tiba-tiba doi mengirim pesan. Mulai deh saling berkirim pesan hingga tanpa sadar waktu telah menunjukkan tengah malam. Ok, coba besok deh memulai menulis.

Eh besoknya doi tiba-tiba mengirim pesan lagi. Rencana sih hanya membalas satu dua pesan saja. Eh, tidak tahunya seluruh pesan dijawab hingga waktu menunjukkan tengah malam.

Besoknya lagi si doi tidak mengirim pesan. Namun ada notifikasi bahwa ada event game. Asyik nih kalau ada event game. Rencananya sih bermain game hanya dua jam saja. Namun kenyataannya, bermain game lebih dari lima jam dan tanpa sadar menunjukkan waktu tengah malam.

Begitu seterusnya, ada saja yang membuat diri menunda menulis hingga akhirnya tulisan terbengkalai. Masih prolog dan tidak dilanjutkan hingga akhirnya ide tentang novel tersebut menjadi hilang, pengalaman pribadi juga, hiks.

Siapa bilang konsisten menulis mudah, sulit banget loh. Saking sulitnya, banyak orang yang gagal menjaga konsistensi menulis. Banyak orang yang berhenti di tengah jalan, membuat ide berlian yang ada di kepalanya.

Namun, bagi mereka yang tetap bertahan konsistensi menulis, suatu hari nanti mereka akan menjadi penulis yang luar biasa. Tidak harus menghasilkan tulisan best seller, namun tulisan mereka dibaca, dinikmati, memberi pencerahan serta pengetahuan baru bagi pembaca.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here