Kebudayaan Mencontek Seolah Menjadi Siklus Tanpa Henti

Mencontek, merupakan sebuah kebudayaan yang sudah sangat umum di dunia sekolah. Fenomena mencontek bukan fenomena zaman now. Namun fenomena yang sudah ada puluhan tahun silam. Mungkin orang tua sekarang dulunya pernah mencontek.

Banyak orang yang mengatakan, “Jangan mencontek karena tidak baik”. Mulai dari orang tua, guru, bahkan sampai teman sekelas. Namun pada kenyataannya, mencontek itu sulit sekali dihilangkan. Mencontek seperti jalan cepat bagi siswa untuk sukses.

Kalau tidak mencontek akan mendapat nilai buruk. Kalau mendapat nilai buruk, maka akan mendapat nilai buruk bagi guru maupun orang tua. Kalau tidak mencontek mendapat nilai baik. Guru dan orang tua akan mendapat penilaian baik. Kalau tidak mencontek namun nilai tetap baik tapi tidak maksimal, tetap mendapat penilaian buruk.

Jadi secara tidak langsung, mungkin bagi Anda yang telah melewati bangku sekolah pun merasakannya. Penilaian merupakan angka mutlak. Tidak peduli bagaimana cara memperoleh nilai tersebut, jika nilai baik maka dianggap baik. Jika nilai buruk maka akan dianggap buruk.

Banyak orang yang beranggapan, “Tidak apa-apa nilai buruk asal tidak mencontek.” Namun sayang anggapan tersebut hanya dimulut saja. Banyak orang yang berprinsip demikian, namun ketika mendapat nilai yang buruk, dia merasa sedih dan akhirnya memilih mencontek.

Atau orang tua yang beranggapan demikian. Namun ketika melihat anaknya mendapat nilai buruk padahal dia tidak mencontek, sang orang tua marah atau sedih bukan main.

Memang, masih ada sebagian kecil bahkan mungkin sangat kecil yang beranggapan “nilai buruk hasil kerja keras lebih baik daripada mencontek.” Namun keberadaan mereka lambat laun menghilang.

Menjadi pertanyaan penting, kenapa budaya mencontek belum hilang, padahal nyatanya akan menghancurkan siswa. Para oang tua sekarang mungkin sudah merasakan akibat dari mencontek. Mereka kebanyakan menyesal kenapa mencontek pada saat sekolah dulu.

Kemungkinan terbesar tidak lain dan tidak bukan karena:

Nilai adalah segalanya

Kebanyakan orang akan menganggap, “Nilai baik itu lebih baik daripada nilai buruk.” Dan sedikit yang menganggap, “Usaha lebih baik daripada nilai.” Dalam praktik di lapangan. Walau banyak yang mengatakan, “Usaha lebih baik daripada nilai.” Namun kenyataan tidak demikian.

Para siswa seolah telah menanamkan pemikiran, “Nilai adalah segalanya.” Ya, hal tersebut tertanam secara alami. Dimana ketika pada saat siswa mendapat nilai buruk walau itu hasil usaha keras. Maka akan mendapat pandangan buruk, baik oleh guru maupun orang tua.

Ironisnya sekarang ini, orang tua terlalu memperhatikan nilai anak. Dia tidak memikirkan bagaimana usaha anak untuk memahami suatu ilmu. Mungkin si orang tua terlalu sibuk kali bekerja sehingga lupa membimbing anak, atau mungkin tidak peduli dengan perkembangan anak.

Banyak juga kasus dimana pendidik memandang buruk si anak dengan nilai rendah, walaupun itu dengan hasil kerja keras. Bahkan banyak juga pendidik yang memuji anak dengan nilai tinggi, walaupun itu hasil mencontek.

Sehingga lambat laun si anak menanamkan pemikiran “nilai adalah segalanya”. Tidak peduli bagaimana cara memperoleh nilai baik, yang penting nilai yang dihasilkan adalah nilai baik. Kalau bisa mendapat nilai sempurna.

Ironis memang tapi apalah daya.

Tulisan di kertas lebih penting daripada skill

Nilai matematika sempurna, fisika sempurna, kimia sempurna, namun, coba kita test satu per satu siswa dengan nilai matematika sempurna. Berikan soal pelajaran sebelumnya. Apakah dia bisa menyelesaikannya atau tidak. Mungkin ada yang bisa menyelesaikannya, namun jumlahnya sedikit. Sebagian besar siswa tidak bisa menyelesaikannya.

Mungkin juga Anda orang tua yang telah menyelesaikan pendidikan pernah merasakan demikian. Sehingga yang ada adalah penyesalan. Namun, penyesalan itu tidak bisa diperbaiki lagi.

Kebanyakan orang tua pada zaman sekarang ini, tidak memperhatikan usaha anaknya dalam sekolah. Namun, mereka hanya menunggu akhir semester dan langsung melihat isi raport. Memperhatikan setiap detail tulisan angka yang tertulis.

Orang tua hanya memperhatikan nilai setiap mata pelajaran. Bahkan mungkin menghiraukan penilaian dari kepribadian siswa.

Ketika melihat angka yang jelek, para orang tua merasa sedih atau marah. Tidak banyak orang tua yang memaksa anaknya agar bisa memperoleh nilai tinggi di semester depannya. Misalkan si anak memperoleh nilai rendah pada pelajaran matematika. Si orang tua pun memsukkan anaknya les matematika. Terkadang orang tua tidak memperhatikan, apakah anaknya ahli pelajaran matematika atau bukan. Mungkin si anak memang tidak ahli pelajaran matematika. Dia memiliki kekurangan pada pelajaran itu. Namun dia ahli dalam pelajaran seni. Orang tua kebanyakan tidak memperhatikan hal itu.

Pendidikan seperti berada siklus berulang tanpa bisa berubah

Si pendidik waktu kecil juga, orang tua lebih melihat nilai daripada usaha. Sehingga dia pun memilih mencontek. Lalu ketika dia menjadi pendidik, dia pun lebih memilih siswa yang memiliki nilai tinggi walaupun cara mendapat nilai tidak baik.

Orang tua pada waktu kecil, juga merasakan demikian. Waktu kecil mereka terpaksa mencontek demi mendapatkan nilai yang tinggi. Hingga ketika menjadi orang tua, tanpa sadar juga lebih memperhatikan nilai daripada usaha anaknya.

Hal ini seperti siklus yang terus berulang tanpa henti. Diperparah keadaan dimana sistem pendidikan secara tidak langsung lebih memperhatikan nilai daripada hasil usaha siswa. Bisa kita lihat ketika penerimaan siswa baru di beberapa sekolah, yang diperhatikan nilai yang terpampang pada ijazah. Atau mungkin memang ada hasil test murni, tapi masih dipertimbangkan hasil nilai ijazah. Ada sih yang melihat nilai test murni, namun sekolah demikian jumlahnya sangat sedikit.

Apakah bisa berubah?

Apakah siklus yang terus berulang ini bisa diubah? Tentu saja bisa. Bukan dimulai dari siswa. Namun dimulai para orang tua. Sebagai orang tua, hendaknya memperhatikan setiap perkembangan anak. Jangan hanya fokus kepada nilai raport. Tapi lebih fokus kepada usaha anak. Kalau bisa perhatikan setiap anak belajar. Kalau perlu bimbinglah anak.

Banyak yang beranggapan kalau siklus ini yang disalahkan adalah guru. Sebenarnya bukan guru penyebab kesalahan utama. Namun orang tua, anak lebih memikirkan perasaan orang tua daripada guru.

Bisa kita perhatikan ilmuwan terdahulu. Mereka rata-rata memiliki nilai buruk. Bahkan ada yang dikeluarkan dari sekolah karena dianggap tidak mampu. Namun, dukungan orang tua yang tanpa memperhatikan nilai membuat mereka bangkit.

Guru memang memberikan pengaruh, namun itu hanyalah pengaruh kecil. Pengaruh yang lebih besar justru dari orang tua.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here