Kakak Yang Disampingku Ternyata Bukan Kakakku

house horor

Ada satu perkataan yang selalu aku simpan di lubuk hatiku. Kakakku pernah berkata, “Jangan pernah percaya samaku kalau kita sudah berpisah. Ketika kamu jauh di sana, suatu saat kita akan bertemu kembali. Tapi kamu tidak boleh percaya kalau itu adalah aku.”

Aku lahir dalam keluarga yang sejahtera. Aku memiliki seorang kakak yang sangat perhatian kepadaku. Orang tuaku sangat senang melihat aku dan kakakku begitu akrab. Tapi yang anehnya, tetangga seolah-olah tidak melihat kakakku. Mereka selalu berkata kalau aku ini anak tunggal. Tentu saja aku membantah perkataan tetanggaku. Jelas-jelas ada kakakku yang selalu di sampingku.

Begitu juga dengan guru dan teman sekolahku. Tidak ada yang menganggap kakakku berada di sampingku. Mereka menganggap kalau aku ini sendirian, aku ini kesepian, padahal sebenarnya tidak. Ada kakak yang menemaniku setiap saat.

Kakak adalah wanita yang sangat cantik dengan rambut panjang berbaju putih. Tapi … kenapa kulit dia selalu putih pucat.

Aku pernah menanyakan itu kepada kakak. Tapi kakak hanya tersenyum dan tidak membalasnya.

“Ingat ya, ketika kita sudah berpisah nanti. Mungkin suatu saat kakak akan datang kepadamu lagi. Saat itu, percayalah, itu bukan kakak. Tapi orang lain,” sejak kakak berkata demikian, aku tidak pernah bertemu dengan kakak lagi. Aku bertanya kepada orang tuaku mengenai kepergian kakak, tapi orang tuaku juga tidak mengetahuinya.

***

Sekarang aku sudah memasuki semester dua bangku perkuliahan. Aku memutuskan untuk merantau, melanjutkan pendidikan. Awalnya orang tuaku sedikit tidak rela melepaskanku. Tapi lama-kelamaan, mereka malah mendukungku. Aku menginjakkan kota besar untuk yang pertama kalinya. Dan gedung yang pertama aku lihat adalah gedung tinggi menjulang ke atas. Leherku sampai sakit melihat ke atas.

Perkuliahanku terasa lancar saja. Aku termasuk anak yang pandai. Nilaiku memuaskan.

Akhir-akhir ini, aku sering mendengar seorang wanita memanggil namaku. Dan dari kejauhan, aku melihat wanita berbaju putih berambut panjang memanggil namaku. Aku selalu teringat dengan perkataan kakak, maka dari itu, aku acuhkan sosok tersebut.

“Abdul, gimana? Mau nginap di kampus malam ini?” ajak Tantri.

“Anu … Tantri. Gimana ya?” tanyaku segan. Sebenarnya aku ingin menolak ajakan Tantri.

“Ayolah Abdul?” bujuk Shinta.

“Iya, seru loh,” bujuk Budi.

Aku tidak bisa menolak ajakan teman-temanku. Mereka bersemangat sekali untuk menginap di kampus ini. Ini semua gara-gara ide gila dari Tantri.

***

Malam harinya begitu sunyi, tidak ada orang di sini. Sekali-kali satpam lalu lalang. Kami sudah minta ijin kepada satpam.

“Mumpung malam-malam begini, ayo kita cerita seram,” ajak Tantri kepada kami bertiga. Sinta dan Budi langsung bersemangat. Ketika aku mendengar ide tersebut, aku langsung keberatan.

“Apa tidak ada cerita lain gitu? Seperti cerita komedi kek?” kataku protes. Tapi mereka bertiga tidak mendengar suara aspirasiku. Mereka mulai bercerita. Aku terpaksa mendengar cerita mereka.

Tantri mulai bercerita mengenai kisah seram. Katanya itu cerita nyata darinya. Tapi entahlah, apakah dia bohong atau tidak. Bukan cerita Tantri yang membuat diriku setengah ketakutan. Tapi, satu orang tambahan dan dia duduk di antara Tantri dan Shinta.

Dia adalah wanita yang berbaju putih berambut panjang. Dia tidak menampakkan wajahnya. Rambut panjangnya menutupi wajahnya. Aku menelan ludahku. Aku tidak bisa memalingkan wajahku.

“Abdul … Abdul … Abdul…,” dia memanggil-manggil namaku. Suaranya mirip dengan suara kakak.

“Abdul, kau kenapa?” Shinta menanyakan kabarku yang menunjukkan wajah ketakutan. Tapi aku tidak mendengar ucapan Shinta.

Sosok itu mendekati tubuhku. Dia berjalan dengan santainya, tapi terkesan seram. Rambutya sudah menyentuh kepalaku. Tanganku gemetar tidak terkendali.

Sosok itu memperbaiki rambutnya. Pelahan dia menunjukkan wajahnya. Aku terkejut luar biasa. Mataku melotot tidak percaya. Sosok itu, adalah sosok kakak yang kukenal dulu. Tapi … sosok ini begitu menyeramkan. Seluruh muka dia mengeluarkan darah. Beberapa darahnya menetes ke pipiku.

Seharusnya aku senang melihat kakak, tapi aku justru ketakutan. Samar-samar, aku mulai mengingat kejadian masa lalu.

***

Bendera merah kecil terpampang di depan rumahku. Aku waktu itu masih kecil tidak mengerti apa-apa. Di hadapanku adalah sosok kakak yang tertidur pulas. Orang tuaku menagis pilu melihat kakak. Kakak tidak membuka matanya. Dia dibaluti dengan pakaian putih.

Aku tidak mengerti. Kenapa kakak tidak bangun-bangun. Tapi, beberapa menit kemudian, di sampingku muncul sosok kakak. Eh, kakak menjadi dua.

“Kakak, kakak sebenarnya yang mana. Yang tidur atau di sampingku?” tanyaku heran.

Kakak tersenyum kepadaku sambil berkata, “Yang tidur itu adikku tersayang.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here