Kaca Disertai Tulisan Darah

house horor

“Siapa itu?” aku mendengar seseorang memanggil namaku dengan jelas. Tapi ketika aku lihat ke belakang, dia tidak ada. Aku berada di ruang sendirian, aku berada di toilet sekolah. Entah kenapa, toilet yang biasanya ramai dan terang, kini gelap dan sepi. Di dalam bilik kamar mandi, aku melihat sepasang kaki dengan bulu yang lebat. Aku pikir dia adalah siswa yang memakai toilet, tapi sepertinya aku salah.

Aku menatap cermin toilet. Di cermin terpampang tulisan dengan darah segar. Tulisan itu berbunyi, “Kini giliranmu!” Setelah membaca tulisan itu, aku melihat sesosok perempuan dengan muka yang penuh dengan darah. Dia berjalan dengan tidak normal. Mulutnya terbuka lebar sekali seakan ingin melahapku.

Aku begitu ketakutan, sehingga aku menjerit dengan kuat sekali. Namun jeritanku, hanya sebatas suara dalam ruangan ini. Suaraku tidak mampu menembus dinding toilet.

Perempuan itu berjalan semakin mendekat, semakin mendekat.

“Haaaaaaaa,” aku menjerit dan menutup mataku.

***

“Andi, bangun!” dan pukulan rol besi dengan kerasnya memukul kepalaku. Aku langsung terbangun. Mimpi? Apakah tadi itu mimpi?

“Andi, kenapa kamu selalu tidur setiap ibu menjelaskan?”

Kesadaranku akhirnya terkumpul. Sekarang aku berada di kelas, dan aku tertidur seperti biasanya.

“Andi, jawab pertanyaan ibu!”

“Anu … ibu. Entah kenapa rasanya aku selalu ngantuk,” ya benar. Entah kenapa aku selalu ngantuk. Sudah sebulan ini aku merasakan demikian. Ketika aku duduk di bangku ini, aku merasakan kantuk yang tak tertahan. Namun, ketika aku melangkah sedikit dari bangku yang kududuki, rasa kantuk ini langsung hilang.

“Dengar ya Andi. Beberapa tahun yang lalu, ada juga seorang siswa yang duduk di bangkumu. Dia juga sama denganmu, selalu tidur. Dan kamu tahu, dia ditemukan bunuh diri di atas itu,” bu guru menunjukkan sebuah atap tepat di atas kepalaku. aku mengikuti tangan bu guru.

“Ya, benar, dia bunuh diri di situ,” sekilas aku melihat seorang perempuan yang gantung diri. Namun itu hanya pandangan sekilas saja.

“Bu guru, apakah siswa itu perempuan?”

“Benar sekali. Tumben kamu pintar. Nah, sekarang giliran kamu!” bu guru mengatakan demikian dengan nada yang aneh. Aku merasa kalau yang bicara itu bukan ibu guru, tapi makhluk lain yang merasuki ibu guru. Aku ketakutan, tatapan bu buru begitu tajam kepadaku. Dia mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Entah dari mana dia mendapatkan dan menyembunyikan pisau yang tajam. Aku langsung berlari menyelamatkan diri.

***

Aku berlari menyelamatkan diri. Aku berusaha untuk keluar dari sekolah ini, tapi aku tidak bisa keluar. Entah kenapa aku rasanya berputar terus di sekolah ini.

Sampai akhirnya aku bersembunyi di toilet. Aku mengunci pintu toilet tersebut.

Tunggu dulu! Bukannya ini tempat yang sama dengan mimpiku? Ruangan gelap dan sepi, di salah satu bilik toilet ada sepasang kaki dengan bulu yang lebat?

Ketika aku membuka pintu toilet, rasanya aku tidak bisa membukanya. Pintu toilet itu seperti dikunci dari luar. Bagaimana ini? Aku langsung menggigil.

Aku berjalan menuju cermin. menurut mimpi, aku akan menemukan tulisan dengan darah segar. Dan memang benar, aku menemukannya. Tulisannya, “Kali ini giliranmu!”

Sosok perempuan muncul dengan muka yang dipenuhi darah. Rambut panjang dan mulut lebar. Dia berjalan dengan tidak normal. Ketika aku melihat ke belakang, aku tidak melihat perempuan itu. namun ketika aku melihat di cermin, aku melihat perempuan itu.

Entah kenapa, aku sudah siap untuk mati. Ya, untuk lari pun tidak ada gunanya. Mungkin dia adalah dewa kematian yang akan mencabut nyawaku.

Perempuan itu berjalan semakin mendekatiku. Tapi, sebelum dia mencabut nyawaku, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan.

“Kenapa? Kenapa kamu menunjukkan dirimu kepadaku? Kenapa kamu begitu dendam kepadaku?” tanyaku ketika tangan perempuan itu menyentuh kepalaku, seakan hendak mematahkan leherku. Dan pertanyaanku membuat dia berhenti bergerak.

“Ke-ke-kenapa? Kenapa? Sejak kapan? Kenapa aku seperti ini?” perempuan itu terlihat bingung.

“Bukankah kamu perempuan yang duduk di bangkuku beberapa tahun silam. Bukankah kamu yang bunuh diri tepat di atap itu. Apa yang terjadi? Kenapa kamu menerorku?”

“A-a-aku tidak tahu,” katanya kebingungan.

“Aku tidak tahu,” katanya pelan sambil mundur menjauhiku. Dan ketika jaraknya sudah cukup jauh, dia menghilang, aku pun pingsan di tempat.

Aku terbangun di rumah sakit. Kata dokter, aku ditemukan pingsan di toilet dan aku tidak sadarkan diri selama tiga hari.

2 COMMENTS

  1. aduh mampir kesini malah pas baca Horror begini… Jangan2 terisnpirasi pengalaman pribadi yak? 😀

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here