Jarak Cinta Diantara Pembeda

6 Tanda Ini Menunjukkan Cowokmu Pelit atau Irit, Lihat Yuk Biar….

“Di antara alam semesta ini, hanya Bumi yang bisa ditinggali manusia. Berapa banyak sih jumlah planet di alam semesta ini? Kenapa hanya Bumi yang bisa ditempati. Bukan hanya manusia, namun binatang, tumbuhan, dan makhluk organisme kecil juga mampu bertahan hidup di sini. Tetangga Bumi, planet Mars dan Venus bahkan tidak ada kehidupan di sana. Sebenarnya, benarkah hanya Bumi yang mampu ditempati? Di antara jutaan planet di alam semesta ini?” itulah pemikiran yang dikatakan Lisa kepadaku. Aku hanya diam saja. Sejujurnya, aku tidak pernah memikirkan itu semua. Bagiku, dimana aku hidup, merupakan pemikiran yang cukup melelahkan bagiku. Tapi Lisa, dia bukanlah manusia biasa. Dia selalu memikirkan alam ini.

Aku dan Lisa sebenarnya bukanlah dua insan yang cocok. Aku orangnya bukanlah memikirkan pengetahuan. Sebatas memikirkan diriku saja kadang susah sekali dilakukan. Aku adalah orang yang berusaha hidup santai, berusaha berada di antara orang-orang normal, berusaha terlihat normal. Namun Lisa tidak. Dia tidak terima jika selamanya berada di batas normal. Dia menginginkan keberadaan di luar batas normal. Hingga akhirnya, dia dijauhi. Ya, memang itulah hukum manusia. Siapa yang pemikirannya lain dari pemikiran mayoritas, maka dia akan dijauhi.

Hari ini hari Senin. Hari yang melelahkan bagiku. Entah kenapa setiap hari Senin begitu menyebalkan. Pada hari Minggu merupakan waktu istirahat yang cukup, namun pada hari Senin, manusia dipaksa untuk melakukan aktivitas. Aku langsung bangun pagi dan sarapan. Hari ini ada UAS. Aku akui aku tidak pernah belajar. Tapi, entah kenapa diriku selalu beruntung.

Aku berangkat ke kampus dengan jalan lemas. Sebenarnya jarak antara kostku dengan kampus cukup jauh, jaraknya kira-kira empat kilometer. Tapi, aku lebih memilih jalan kaki daripada naik kendaraan. Entah kenapa, rasanya sayang aja uangku habis hanya untuk empat kilometer. Dan juga, aku malas membeli kendaraan, karena aku malas merawatnya.

Pagi-pagi dengan jalanan masih sepi. Sesekali aku mendengar suara burung bersiul. Matahari terlihat malas menunjukkan cahayanya. Tumbuh-tumbuhan serasa bangun tidur, bersiap mengambil karbon dioksida untuk diolah. Ya, aku sengaja berangkat terlalu pagi, karena aku tidak ingin melihat manusia yang sibuk berjalan ke tujuan masing-masing.

Sesampainya di kampus keadaan masih sangat sepi. Hanya sesekali petugas kebersihan membersihkan kampus agar kampus terlihat bersih. Jika tidak ada mereka, aku tidak bisa membayangkan mahasiswa dipaksa untuk membersihkan kampus. Maka dari itu, aku bersyukur ada petugas kebersihan kampus. Setidaknya, aku tidak lagi merasakan adanya piket saat SMA dulu.

Tapi, selain aku, ada satu orang lagi yang selalu berangkat pagi. Itulah yang membuat kami menjadi akrab. Dialah Lisa, dia selalu membawa teropong untuk melihat angkasa. Aku tahu, teropong itu hanya teropong Bulan. Namun, Lisa selalu bersemangat melihat angkasa. Tidak harus melihat Bulan, namun melihat benda-benda langit lainnya. Terkadang, dia melihat Meteor yang jatuh ke Bumi dan terbakar di atmosfir Bumi. Dia selalu berada di tempat favoritnya, di atap gedung fakultas.

“Selamat pagi Lisa, masih melihat angkasa lagi,” tanyaku kepada Lisa. Dia sedang asyik menatap angkasa dengan teropongnya, seperti biasa.

“Oh, selamat pagi Amru,” kata Lisa dengan datarnya sambil tetap meneropong angkasa. Aku duduk di bangku, memperhatikan Lisa yang asyik menatap angkasa. Sebenarnya di atap gedung ini tidak ada bangku, namun, Lisa berinisiatif mengambil bangku. Awalnya penjaga Fakultas marah-marah, namun lama kelamaan dia malas marah-marah. Akhirnya, Lisa menang, mendapatkan dua bangku di atap gedung.

Aku memperhatikan ke bawah, lambat laun matahari semakin menunjukkan cahayanya. Aku memperhatikan mahasiswa lain dan dosen mulai berdatangan. Mereka datang berbondong-bondong. Melihat dari atas, melihat mereka seperti melihat semut ya.

“Oh … sudah jam delapan ya? Nggak terasa ya. Entah kenapa tidak ada yang terlihat sedikitpun,” kata Lisa sedih.

“Memangnya tidak ada meteor yang masuk ke atmosfir Bumi?”

“Tidak ada. Yang ada hanyalah meteor yang melewati Bumi. Kalau seperti itu kan sama aja dengan batu biasa,” kata Lisa cemberut.

Sebenarnya, aku tidak mempunyai teman dekat. Aku hanya berpura-pura saja, berpura-pura bersikap ramah agar aku tidak dijauhi. Namun, berada di samping Lisa membuat perbedaan yang sangat jauh. Aku tidak perlu lagi berpura-pura untuk dekat dengannya.

“Yasudah, berarti belum rezekimu. Oh ya, sudah sarapan?” tanyaku kepada Lisa. Dia biasanya melewatkan sarapan.

“Sudah dong. Berkat dari cerewetmu, aku jadi mempersiapkan diri untuk sarapan,” kata Lisa dengan senyumannya. Namun, aku merasakan sesuatu yang ganjal. Entah kenapa senyumannya aneh, sepertinya dia menyembunyikan sesuatu.

“Benarkah?” tanyaku dengan nada mengancam. Sepertinya, Lisa berbohong deh.

“Benar deh, pegang aja perutku kalau nggak percaya,” Lisa langsung menyerang kelemahanku. Aku tidak mungkin memegang perutnya. Aku langsung mengatakan, “Iya aku percaya.”

Namun tiga menit kemudian, aku mendengar suara perut darinya. Mendengar suara tersebut, aku langsung memasang ekspresi serius.

“Benar sudah sarapan?” tanyaku dengan senyuman tulus.

“Hehe.”

“Makanya sarapaaaaaan!”

Dan pada akhirnya, aku dan Lisa pergi ke kantin. Lisa sarapan, aku hanya memesan minuman.

***

Kelinci dan kura-kura mengadakan kontes berlari. Secara logika, kura-kura bakal kalah, namun di cerita kura-kuralah pemenangnya. Hal tersebut karena kelinci meremehkan lawannya dan memilih tidur.

Di kelas ini, aku adalah kura-kura dan temanku adalah kelinci. Temanku berusaha menjadi yang terbaik. Mereka belajar dengan sungguh-sungguh, mereka seakan-akan berlari dengan cepat.

Sedangkan aku, aku hanya kura-kura kecil. Jangankan berlari, berjalan saja aku malas. Aku malas untuk belajar. Aku malas untuk menghafal teori-teori membosankan. Namun, seperti cerita kura-kura dan kelinci, aku selalu menjadi yang terbaik. Karena itu, aku lambat laun dijauhi teman sekelas. Karena mereka marah kepadaku.

Mereka pikir aku sedih ketika dijauhi. Namun sebenarnya aku senang. Karena aku tidak perlu pura-pura lagi.

Aku berada di jurusan Kimia. Sebenarnya aku masuk jurusan ini karena terpaksa. Aku merasa takdir telah mengatakan aku di sini. Itu adalah alasanku. Yang sebenarnya, aku lulus pada jurusan ini, dan aku malas memikirkan masa depanku. Aku hanya mengikuti arus saja.

Di jurusan Astronomi, disitulah aku bertemu dengan Lisa. Dia adalah anak yang lain dari yang lain. Mungkin beberapa orang mengatakan dia unik, namun sebenarnya dia aneh. Dia tidak pernah memikirkan apa yang dikatakan orang. Baginya, dirinya senang, maka dia pun senang.

Dia mendalami ilmu tersebut, namun dia mendalami tidak yang dipelajari saat kuliah. Dia suka-sukanya saja mendalami. Pelajaran apa yang dia senangi, maka itulah yang dia dalami.

Di satu kesempatan, aku berada di kantin. Karena aku dijauhi, aku akhirnya makan sendiri. Ya, ini lebih baik untukku. Tiba-tiba saja, muncullah seorang perempuan.

“Mas, sendirian?” tanyanya sambil membawa piring yang berisi makanan.

“Iya,” kataku datar.

Lisa langsung duduk di hadapanku, dan dia makan sepuasnya. Aku juga makan. Aku tidak menghiraukan Lisa berada di depanku. Oh ya, aku sudah kenal dengan Lisa, karena seluruh Fakultas membicarakan keanehan dia.

Ketika dia menyelesaikan makanannya, dia langsung berkata, “Oh ya, kamu Amru kan? Orang yang beruntung?”

“Hey, dari mana kamu dengar?”

“Ya … aku dengar secara tidak sengaja sih. Memang iya ya, kamu tidak tertarik dengan pelajaran namun kamu selalu menjadi terbaik?”

“Bukan urusanmu,” kataku membalas pertanyaannya dengan cepat.

“Hmm … sepertinya aku salah dengar ya? Banyak yang mengatakan kalau kamu itu ramah. Ternyata, kamu itu judes dan cuek orangnya.”

“Ya … beginilah aku,” kataku dengan cuek. Aku tidak mengerti, ketika berada di depan Lisa, aku tidak ingin berpura-pura.

“Dan aku juga tahu siapa kamu. Lisa, orang aneh berasal dari planet entah berantah.”

“Enak aja kamu mengatakan demikian! Aku berasal dari Bumi ya! Di planet lain belum ada bukti kalau makhluk hidup ada,” katanya dengan nada agak meninggi.

“Ya terserah deh,” kataku sambil beranjak dari tempat tersebut. Ternyata sama juga dengan Lisa. Dia di sampingku terus bercerita mengenai luar angkasa. Biasanya, aku berusaha untuk mengalihkan pembicaraan, namun, tidak dengan Lisa. Aku membiarkan dia berbicara sesukanya. Entah kenapa aku suka sekali mendengar ceritanya.

Dan itulah awal perkenalanku dengan dia. Hingga sekarang, hanya dialah temanku satu-satunya. Di depannya, aku tidak perlu berpura-pura.

***

Sebuah kata sederhana dari Lisa mampu mengubah seluruh hidupku. Dia berkata, “Keberuntunganmu, pasti ada maknanya. Karena ada sesuatu di dalam dirimu yang akan berguna nantinya.”

Hatiku berdebar-debar ketika mendengar hal tersebut. Dan sejak saat itu aku mulai berubah. Aku lambat laun mulai mengubah pola belajarku. Yang awalnya aku tidak ingin belajar, tetap tidak belajar. Namun, aku memilih untuk terjun ke dunia penelitian. Aku yakin, pasti ada satu hal yang berguna dari diriku. Dan pada akhirnya, ketika aku menyelesaikan seluruh pendidikan Strata 2, aku berhasil menjadi peneliti yang disegani.

Banyak tawaran penelitian di berbagai perusahaan, tapi aku memilih beberapa saja. Karena memang aku harus fokus ke satu bidang penelitian. Aku sekarang punya nama. Seekor kura-kura yang berhasil mengalahkan kelinci, pada akhirnya dia akan menjadi terkenal. Tapi kura-kura tetaplah kura-kura. Harus menjadi orang yang rendah hati.

Namun, hal yang mengejutkan terjadi. Secara tidak sengaja aku bertemu dengan Lisa. Dia bekerja lari dari jurusannya. Dia adalah jurusan astronomi dan dia sekarang beker jadi perusahaan sebagai pegawai. Namun, dia menjadi orang yang biasa saja. Dia menjadi orang normal. Lisa yang kukenal dulu, sekarang sudah berubah.

Sekarang, kami janjian untuk bertemu di sebuah café. Kami saling rindu satu sama lain. Lisa sekarang adalah pegawai kantoran dengan gaya bicara seperti orang kantoran.

“Bagaimana kabarmu Lisa?”

“Baik,” katanya seperti seorang costumer service. Dia berubah, keadaan yang memaksanya untuk berubah.

“Kemana dirimu yang aneh itu? Entah kenapa aku lebih merindukan dirimu yang itu.”

“Itu sudah lama hilang.”

“Karena keadaan?”

“Benar. Keadaan yang mengubahku. Itulah hukum dunia, jika seseorang berbeda dari yang lain, maka lambat laun dia akan dikucilkan. Jika tidak ingin dikucilkan, ubahlah dirimu.”

“Kamu benar. Tapi … kamu tahu tidak kalau aku sekarang berubah. Aku sekarang menjadi orang berbeda. Hal itu karena dirimu.”

“Aku tahu. Dan aku senang mendengarnya. Setidaknya, diriku itu berada di dalam dirimu.”

Lisa menundukkan kepalanya. Sudah kuduga sebelumnya. Dia memaksakan diri untuk berubah agar diterima masyarakat. Dia pasti merasa lelah. Aku pernah sekali melihat ekspresi demikian, itu ketika Lisa sidang skripsinya. Dia harus menjadi normal untuk lulus di depan dosen.

“Lisa, kamu merasa lelah bukan?”

“Kalau iya, kenapa?” Lisa mulai mengalirkan air matanya. Memang aku dan dia tidak bisa untuk berpura-pura. Jika kami saling berhadapan dan bercerita, entah kenapa semua hal yang mengganjal di hati kami langsung dikeluarkan.

“Jadi, kamu ingin menjadi dirimu yang seperti dulu?” tanyaku dengan sangat hati-hati. Diam-diam aku mengambil sebuah kotak berwarna merah di kantongku.

“Kalau iya memangnya kenapa? Apa kamu pikir aku dapat bertahan dengan diriku sebenarnya di tengah masyarakat seperti ini?”

“Karena itulah, jadilah istriku,” kataku sambil membuka kotak tersebut. Di dalamnya ada cincin emas. “Jadilah istriku, jadilah dirimu. Mulailah lagi melihat angkasa. Jika kamu bersamaku, kamu tidak khawatir bukan untuk menjadi diri sendiri?”

“Kenapa? Kamu kasihan kepadaku!”

“Tidak! Yang ada aku justru kagum kepadamu. Kata-katamu telah mengubahku. Mengubahku menjadi seperti yang sekarang, dan juga mengubah hatiku menjadi mencintaimu.”

“Aku sudah punya pacar!” katanya dengan nada cuek.

“Jika benar demikian. Berarti aku ditolak, hahaha,” kataku berusaha tertawa padahal di dalam hatiku bagaikan ditusuk pedang.

“Hahahaha,” Lisa tertawa begitu keras. Akhirnya, aku berhasil melihat dirinya lagi. “Jangan sedih gitu, aku hanya bercanda loh. Akhirnya, jawaban atas doaku terkabul juga. Dasar, bertahun-tahun aku menunggu cintamu, sudah ribuan kode yang kulontarkan kepadamu, sudah tidak terhitung lagi berapa doa yang kupanjatkan. Ternyata, hari ini adalah jawabannya. Aku senang sekali,” Lisa mengeluarkan air mata, namun dia tersenyum bahagia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here