Fenomena Pendidikan Siswa Kurang Pandai Tapi Sukses

Gelar Keilmuan Juga Sangat Berpengaruh

Hal ini merupakan pertanyaan tersendiri bagi kita. Seorang siswa yang memiliki kemampuan akademis rata-rata, bahkan bisa dibilang kurang. Rasanya dia sangat sulit untuk sukses di luar sana, jika ditinjau dari kemampuan pendidikan. Namun sungguh mengejutkan, dia justru sukses. Fenomena pendidikan siswa kurang pandai tapi sukses ini banyak terjadi di berbagai daerah dan di berbagai zaman.

Sebenarnya apa sih yang menyebabkan hal demikian? Bukannya sukses itu membutuhkan kemampuan akademis? Nilai yang tinggi rasanya sangat mungkin menjamin kesuksesan seseorang, tapi nyatanya tidak.

Robinson, p dan Sexton, E, 1994 bahkan menyebutkan mungkin ada hubungan antara kemampuan akademis dengan kesuksesan seseorang. Namun ingat, ada kata “mungkin” disebutkan.

Pertanyaannya, kenapa mereka menyebutkan kata mungkin? Hal ini karena mereka juga menemukan fenomena demikian. Ada beberapa sample siswa yang kurang pandai, justru menunjukkan kemampuan bisnis yang luar biasa. Dia bahkan bisa menjadi pemimpin yang baik. Mengatur strategi keuangan dan pengambilan peluang.

Sepertinya, Slavin, RE, dkk, 2009 berhasil menemukan sebuah jawaban pertanyaan dalam fenomena pendidikan tersebut. Fenomena pendidikan siswa kurang pandai tapi sukses.

Di tulisan tersebut disebutkan kunci sukses bukan hanya kemampuan akademis saja. Ternyata kemampuan akademis yang tinggi tidak menjamin kesuksesan. Bahkan kemampuan akademis yang tinggi juga tidak menjamin apakah dia akan menjadi peneliti hebat nantinya.

Salah satu kunci kesuksesan adalah dengan pribadi yang pantang menyerah, mampu berkomunikasi, kerja sama, dan pantang menyerang. Oh ya, pada sukses juga erat kaitannya dengan peluang. Siapa yang jeli melihat peluang tersebut walaupun kecil, maka kemungkinan dia akan berhasil.

Melihat peluang, mungkin inilah faktor yang menyebabkan fenomena pendidikan siswa kurang pandai tapi sukses. Kenapa? Karena siswa kurang pandi kebanyakan dipandang sebelah mata. Rasanya buang-buang waktu saja meladeni siswa yang demikian. Padahal mereka juga butuh diperhatikan.

Perhatikan beberapa pengajar di sekolah. Mereka lebih suka memberi pengajaran kepada siswa dengan kemampuan akademis tinggi daripada yang biasa saja. Mungkin ini wajar, siapa sih yang tidak suka mengajari siswa pintar? Terkadang siswa yang kemampuan akademis biasa saja berusaha menarik perhatikan sang pengajar. Salah satunya adalah membuat ulah yang terkadang memancing emosi.

Namun, bukankah kelakuan mereka secara tidak langsung erat kaitannya dengan pengambilan peluang? Mereka tahu kapan si pengajar emosi sehingga perhatian tertuju kepadanya. Bisa juga sang siswa berusaha bertanya walaupun pertanyaan tersebut pertanyaan level rendah, namun itu adalah peluang untuk dia agar diperhatikan.

Siswa dengan kemampuan akademis tinggi cenderung tidak melakukan demikian. Dia tidak usah mencari peluang juga bakal diperhatikan. Bahkan, terkadang siswa kemampuan akademis tinggi sering sekali terlalu menonjolkan kepintarannya sehingga terkesan cari muka. Dan inilah kesalahan terbesar dari siswa tersebut.

Pantang menyerah, mungkin siswa yang kemampuan akademis biasa saja terbiasa untuk tidak menyerah. Untuk menguasai satu bidang pelajaran sangat sulit. Sehingga dia berusaha sekeras mungkin untuk menguasainya. Lambat laun dia sudah terbiasa berusaha keras. Pantang menyerah menjadi hal yang tidak dia inginkan. Sebelum berusaha pantang baginya untuk berhenti.

Kebanyakan siswa dengan kemampuan akademis tinggi terlalu dimanjakan ketika sekolah. Dia tidak perlu berusaha keras untuk menguasai satu pelajaran, sehingga dia merasa hidup ini mudah. Iya, hidup ini mudah ketika dibangku sekolah saja. Mungkin begitulah kata-kata orang, “Di sekolah adalah masa-masa yang paling indah.”

Namun di kehidupan pekerjaan tidak demikian. Kesalahan terbesar dari kecil tidak terbiasa untuk pantang menyerah ditambah baru pertama kali menemukan kesulitan. Hal ini membuat sang siswa kemampuan akademis tinggi menyerah. Dia merasa hidup ini berat, tidak seperti waktu dia sekolah dulu, memang benar fakta demikian.

Hare, D, 2003 bahkan menyebutkan kesuksesan seorang peneliti tergantung dengan kemampuan komunikasi seseorang tersebut. Peneliti perlu untuk berkomunikasi dengan rekan setim. Bukan hanya peneliti sendirian saja, karena itu sangat sulit. Misalnya, meneliti suatu bidang tertentu, misal di bagian Fisika. Namun terbentur dengan pemahaman yang mengharuskan mengerti dalam bidang Kimia. Untuk menyelesaikannya perlu komunikasi dengan ahli Kimia.

Kemampuan komunikasi ini juga erat kaitannya dengan fenomena pendidikan siswa kurang pandai tapi sukses. Bahkan seorang peneliti saja, untuk menjadi peneliti hebat diperlukan kemampuan komunikasi. Peneliti itu adalah orang yang kemampuan akademis tinggi, masih membutuhkan kemampuan komunikasi. Apalagi bagi orang yang biasa saja, diperlukan juga. Maka tidak heran, orang sukses di luar sana memiliki kemampuan komunikasi yang luar biasa. Bahkan peneliti hebat sekalipun mampu menjelaskan penelitiannya yang seharusnya sulit banget dimengerti menjadi mudah dimengerti orang awam.

Inilah yang kurang dalam fenomena pendidikan siswa dengan kemampuan akademis tinggi. Bisa dilihat, banyak sekali siswa demikian yang cenderung pendiam. Bahkan hanya berinteraksi dengan teman sekelas pada waktu sekolah saja. Pergi ke sekolah pagi sekali, ketika selesai sekolah langsung pulang, atau pergi ke tempat les. Setelah itu langsung pergi ke rumah, belajar, dan tidur. Kapan dia berlatih berkomunikasi?

Salah satu cara untuk melatih kemampuan komunikasi dengan berteman dengan banyak orang. Berteman dengan banyak orang, bukan bersahabat dengan banyak orang. Akan terlihat sekali sifat-sifat yang berbeda, maka tentu dengan kemampuan komunikasi yang berbeda pula. Berbicara dengan orang pemarah tentu berbeda dengan berbicara dengan orang pemurung. Inilah tempat latihan yang baik untuk kemampuan komunikasi.

Siswa bandel yang kurang pandai dalam akademis ini lebih suka bermain daripada belajar. Belajar sih, namun lebih diprioritaskan bermain. Menemukan orang baru, berinteraksi dengan dia, mendapatkan pengalaman komunikasi yang nantinya dibutuhkan di dunia kerja.

Kemampuan kerjasama? Rasanya di dunia pekerjaan sangat sedikit pekerjaan yang dilakukan sendirian. Bahkan sebagai penulis membutuhkan para editor dan penerbit untuk bisa menerbitkan bukunya. Artinya, si penulis itu harus melakukan kerjasama dengan editor dan penerbit.

Jadi, kerjasama ini amat sangat diperlukan. Sayangnya, siswa dengan kemampuan akademis tinggi kurang suka dengan kerjasama. Dia hanya suka jika bekerja dengan teman yang kemampuannya sama dengannya atau bekerja sendirian, dia kerjakan tugas kelompok atas nama dia dan temannya.

Kalau dari kecil tidak terbiasa bekerja sama, ketika besar nantinya akan kesulitan untuk bekerja sama. Apalagi bekerja sebagai tim, hal ini sangat sulit sekali. Kerjasama juga membutuhkan kemampuan komunikasi agar lancar. Kedua hal penting ini kurang dilatih siswa dengan kemampuan akademis tinggi.

Catatan:
Tulisan ini mengarah pada siswa yang kurang pandai tapi berusaha keras dalam belajar dan suka sekali bergaul. Dia tidak ingin terus tertinggal dalam pelajaran sehingga berusaha mencari peluang agar dia mengerti, bisa jadi minta bantuan teman yang kemampuan akademis tinggi.

Tidak berlaku kepada siswa yang kurang pandai, bandel, tidak mau belajar, dan masuk ke lingkungan pertemanan yang kurang baik. Hal ini lambat laun akan menghancurkan siswa tersebut.

Tulisan ini ditujukan juga kepada siswa dengan kemampuan akademis tinggi namun lebih suka belajar sendiri, mengerjakan tugas kelompok sendiri, apa-apa dia lakukan sendiri. Memang hasilnya luar biasa bagus. Sehingga ketika dia besar dia tidak terbiasa untuk berkomunikasi dan kerja sama.

Tidak berlaku dengan siswa dengan siswa kemampuan akademis tinggi namun suka dengan kerjasama maupun berteman. Dia tahu kalau dia bisa mengerjakan semuanya sendirian, namun dia lebih menghargai hasil kerjasama kelompok dibandingkan hasil dirinya sendiri.

Demikianlah fenomena pendidikan siswa kurang pandai tapi sukses. Kesimpulannya, kesuksesan tidak bisa ditebak. Kesuksesan itu bukan di bangku sekolah yang menentukan, tapi bagaimana dia berusaha ketika terjun ke dunia kerja nantinya.

1 COMMENT

  1. wuah, sayang sekali ya,
    untung pintar dikit 🙂

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here