Fashion Style Amrudly–Terlalu Simple (BC67)

Fashion Style Amrudly

Tantangan pada Blogger’s Challenges yang ke-67 kali ini mengenai fashion style diri sendiri. Wah … berarti bakal ada acara buka-bukaan nih. Fashion apa nih yang biasa digunakan, hihihi. Pusing? Enggak dong, saya mana pusing mikirinnya, karena fashion saya simple banget–celana kain/training dan kaos oblong. Sudah itu saja fashion style saya.

Sebenarnya sudah banyak yang protes dengan fashion style saya, karena terlalu simple dan katanya sih, bikin malu. Ya … saya tidak begitu memikirkan mengenai gengsi, apa yang nyaman bagi saya, itulah yang saya gunakan.

Sebenarnya fashion style ala saya ini ada empat tempat: di perantauan, di kampus, di tempat kerja, dan di kampung. Ketiga tempat tersebut beda loh fashion style yang saya gunakan, hihihi. Makanya ada yang terkejut dengan perubahan fashion saya. Arif saja sampai terkejut ketika melihat gaya fashion saya di kampung.

1. Fashion Style di Perantauan

Nah, ini fashion style ketika saya di tempat perantauan, entah itu di kota mana saja. Eh, saya baru merantau di dua kota besar deh, Medan dan Jakarta. Nah, fashion style saya ini dibilang orang adalah gaya gembel.

Loh kok gembel? Pertama, ketika berjalan di Mall, ke tempat khalayak ramai, atau ke tempat pesta, saya lebih suka dengan menggunakan baju kaus dengan celana training olahraga. Nggak ada accessories yang dipakai. Kalau sepatu, menggunakan sepatu sport.

Nggak tahu gitu, rasanya nyaman banget menggunakan fashion style ala seperti itu. Saya sih nyaman-nyaman saja, tapi itu tuh teman pada protes. Kalau mau pergi ke Mall, ikut acara yang ramai, atau pergi ke pesta, mereka pastinya merepet janda tuh melihat style fashion saya. Katanya gaya gembel dan tidak sesuai tempat.

Dan ya … mau teman merepet pun saya tidak mengganti gaya fashion saya. Karena sudah nyaman, hihihi.

Ya … ada suka dan dukanya sih. Misalnya, ketika saya ingin membeli sesuatu di Mall, biasanya sih mau beli game, sepatu ketika diskon, laptop ketika diskon, atau sekedar menemani teman yang membeli barang elektronik di Mall, pemilik toko atau mbak sales pada judes tuh pada saya. Ya … tidak tahulah apa yang mereka pikirkan. Tapi ada positifnya juga. Jadi, kalau ada mbak sales yang ingin menawarkan barang, saya nggak bakal ditawarin, hihi.

2. Fashion Style di Kampus

Ketika saya di kampus, saya nggak mau ambil pusing dengan fashion style saya. Saya hanya menggunakan celana kain dan pakaian kemeja, itu saja. Nggak neko-neko amat kok. Belum lagi nggak terlalu memikirkan apakah antara baju atau celana nyambung warnanya atau tidak.

Karena tidak terlalu memikirkan, hampir semua celana kain saya menggunakan warna hitam, dan hampir semua pakaian kemeja saya menggunakan warna gelap, hihihi.

Hasilnya ya … pakaian atau celana apa yang mudah diambil, itulah yang digunakan untuk ke kampus. Pakaian mana yang sudah disetrika itulah yang digunakan. Kalau celana jarang disetrika, soalnya warna hitam, keriput di celana tidak akan kelihatan tuh.

Kalau sepatu yang digunakan, tetap menggunakan sepatu sport.

3. Fashion Style di Tempat Kerja

Beberapa bulan yang lalu saya diterima kerja sebagai freelance di bimbingan belajar, akhirnya ada juga yang menerima saya, huhuhu terharu. Nah, di tempat kerja ada peraturan mengenai gaya berpakaian.

Peraturannya, menggunakan celana kain, kemeja dengan model slim fit, menggunakan dasi, kalau bisa rambut harus kinclong. Ya sudah, tinggal ikuti peraturan yang ditetapkan, beres deh nggak perlu neko-neko.

Pokoknya harus good looking gitulah. Jadi agak gimana gitu ketika saya menggunakan fashion celana kain berwarna hitam, kemeja dengan model slim fit, menggunakan dasi, dan rambut yang kinclong, rasanya berbeda dari biasanya.

Namun, ada satu peraturan yang tidak bisa saya patuhi, yaitu mengenai sepatu. Di tempat kerja menggunakan sepatu orang kantoran dengan berwarna hitam, kalau bisa kinclong. Makanya, sebelum kerja saya bicara dengan pimpinan dan syukurnya diterima. Jadi tetap, untuk urusan sepatu, saya menggunakan sepatu sport.

4. Fashion Style di Kampung

Nah, ketika di kampung, fashion style berbeda jauh dengan fashion style yang sudah tertera di atas. Bahkan, ketika Arif mengunjungi kampung halaman saya, dia terkejut dengan perubahan yang terjadi pada saya. Bang Boy terkejut nggak ya? Hmm….

Jadi, ketika di kampung, saya mengikuti tren fashion. Seperti tahun ini, fashion yang sedang tren adalah pink bomber jaket, kaus berwarna putih, dan bule jeans klasik. Nah, kira-kira seperti itulah. Terkadang saya menggunakan aksesoris jam tangan, ikat pinggang, dan topi.

Jadi, kalau di kampung halaman tuh, kalau mau keluar rumah bakal mikir gaya berpakaian apa yang mesti digunakan: apakah model good looking, klasik, kasual, monochromatic, korea, dll. Kalau sepatu tetap, sepatu sport.

Kenapa di kampung halaman gaya berpakaian mengikuti tren fashion? Jawabannya simple, karena sedikit yang melihat saya. Jadinya saya bebas bereksperimen mengenai fashion. Kalau di tanah perantauan, banyak orang yang melihat saya jadinya tidak nyaman.

Jika diperhatikan, dimanapun tempatnya, saya tetap menggunakan sepatu sport, apalagi yang khusus running. Entah kenapa, rasanya nyaman banget memakai sepatu tersebut, alias sepatu jenis sport yang tahan lama bagi saya. Saya ini orangnya sukanya berjalan kaki, jika jarak masih dua sampai lima kilometer, saya lebih memilih jalan kaki daripada menggunakan kendaraan. Jadinya ya … jika menggunakan sepatu yang tidak sepatu sport, rata-rata sepatu tersebut tidak tahan lama. Rekor terlama sepatu yang saya miliki yang bukan sepatu sport kurang lebih satu bulan.

Bisa sih saya menggunakan dua sepatu. Misalnya ketika saya pergi ke tempat kerja, saya menggunakan sepatu sport. Namun ketika sudah sampai, diganti menjadi sepatu kantoran. Tapi saya pikir itu ribet, jadi nggak dilakukan.

2 COMMENTS

  1. Wah wah.. Baru tahu waa, gaya amru gini. Wkwk. Penasaran gaya pas di tenpat kerja, pake kemeja slim fit, dasi. Eaaak.

  2. Pas stel gembel gak ada yg ngerecokin enak ya … Lah aku, stel gembel direpetinlah sama emak

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here