6 Faktor Kenapa Naskah Fiksi Ditolak Penerbit Mayor

Bagi para penulis, diterbitkan di penerbit mayor merupakan sebuah rezeki. Seperti durian runtuh yang senangnya minta ampun, demikianlah terjadi ketika naskah fiksi diterima di penerbit mayor. Namun, agar diterima penerbit mayor, butuh perjuangan yang berat. Dan ada beberapa faktor kenapa naskah fiksi ditolak penerbit mayor. Wah … kalau sudah ditolak penerbit mayor, rasanya sedih banget.

Bayangkan deh, sudah nunggu jawaban berbulan-bulan, antara tiga sampai enam bulan. Setiap hari melihat email, mudah-mudahan ada email dari penerbit, eh setiba ada email dari penerbit, isi email tersebut mengatakan kalau naskah fiksi ditolak. Gimana ya rasanya itu? Sedih dan kecewa pastinya.

Nah, sebelum mengirim naskah, perhatikan terlebih dahulu 6 faktor kenapa naskah fiksi ditolak penerbit mayor.

ditolak penerbit mayor

1. Tema Tidak Menjual

Nah, ini nih alasan klasik namun memang selalu ada sampai sekarang. Tema cerita kurang menjual. Namanya penerbit, yang mengedepankan sastra dan penjualan, tentu saja harus mikir keras mengenai ini.

Salah satu tema yang menjual adalah genre romantis. Kalau romantis sih, tetap menjual sepanjang zaman. Di Indonesia, genre yang disukai adalah romantis, horor, agama, dan komedi.

Untuk genre romantis, berarti temanya mengenai masalah percintaan. Untuk genre horor berarti temanya masalah hantu-hantu. Untuk genre komedi, temanya masalah lucu-lucu. Nah, jika tema naskah fiksi tidak menjual tentu saja menjadi tidak laku di pasaran. Misalnya, tema yang tidak menjual di pasar Indonesia adalah tema fantasi. Itu loh dunia khayal. Jika diperhatikan di pasar Indonesia, tema fantasi lebih dominan berasal dari luar negeri. Sangat jarang di Indonesia. Itu pun, meskipun dari luar negeri, masih kalah dengan tema romantis.

2. Bukan Genre Yang Diinginkan Penerbit

Nah … ini nih yang diperhatikan. Perhatikan apakah genre fiksi diterima oleh penerbit atau tidak. Ada beberapa penerbit mayor yang menerbitkan genre tertentu. Jika naskah fiksi salah alamat, tentu saja ditolak penerbit mayor.

Misalnya, untuk penerbit mayor mizan yang mengedepankan genre islami. Naskah fiksi Anda genre horor. Ketika dikirim ke penerbit mizan, tentu saja ditolak penerbit mayor tersebut. Itu dia maksudnya.

Untuk bocoran saja, untuk penerbit mayor Bentang Pustaka, lebih menyukai genre slice of life, inspirasi, romantis, dll. Untuk penerbit Gramedia menyukai genre inspirasi, romantis, islami, dll. Untuk penerbit Gagas Media, menyukai genre komedi, inspirasi, horor, dll. Dan penerbit lainnya. Maka dari itu, perhatikan genre naskah fiksi dengan genre yang diinginkan penerbit.

3. Sudah Banyak Tema Yang Sama

Tahukah Anda, membuat cerita yang berbeda alias unik namun tetap menarik itu sangatlah sulit. Dan inilah tantangan penulis di seluruh pelosok Bumi. Jika temanya sama dengan tema yang sudah-sudah, tidak ada sisi menariknya satu pun. Tentu saja bakal ditolak. Jika tidak ada sisi menarik, tentu saja tidak akan laku di pasaran. Dan hal ini membuat rugi bagi penerbit mayor. Dan tentu saja Anda, Anda tidak ingin melihat buku Anda berada di gudang bukan?

Tapi, jika Anda tetap ngotot bahwa naskah Anda memang terbaik dan laku di pasaran dan juga sudah ditolak di beberapa penerbit mayor. Mengapa tidak menerbitkan naskah Anda di penerbit Indie. Tentu saja Anda yang membiayai pembuatan buku tersebut dan Anda berperan aktif 100% dalam promosi buku tersebut.

4. Pembaca Naskah Anda Terbatas

Pembaca Naskah Anda Terbatas

Nah, ini lagi yang dilema. Kebanyakan dari kita menulis tanpa memikirkan pembaca nantinya. Sedangkan penerbit mayor, bakal memikirkan pembaca. Jika pembaca terbatas, tentu akan ditolak penerbit mayor.

Misalnya seperti ini, naskah fiksi Anda bergenre science fiction dengan penjelasan ilmiah tingkat tinggi. Tentu saja tidak akan bisa dibaca oleh remaja. Yang mengerti tulisan Anda hanya orang dewasa dengan pendidikan tinggi. Tentu saja ini menjadi dilema. Hanya orang dewasa dan pendidikan tinggi yang menjadi segmen pembaca Anda, maka sudah jelas naskah itu nantinya tidak akan laris dipasaran.

Maka dari itu, sebelum memulai sebuah cerita, dan jika memang ingin menerbitkan naskah fiksi di penerbit mayor. Mulai deh pikirkan, segmen pembaca naskah fiksi nantinya. Tentu saja harus segmen pembaca yang luas ya. Kalau bisa, bisa dibaca di segala usia.

5. Naskah Tidak Memenuhi Standar Minimal Penerbit

Nah, ini memang remah, tapi terkadang tidak diperhatikan beberapa penulis. Pastinya, beberapa penerbit mayor mempunyai standar minimal. Jika naskah fiksi tidak memenuhi standar minimal, tentu akan ditolak penerbit mayor.

Misalnya untuk penerbit Gramedia. Standar minimalnya adalah, jenis kertas A4, margin standar, spasi 1,5 dan jumlah halaman minimal 100 lembar dan maksimal 200 halaman. Untuk penerbit Bentang Pustaka, untuk naskah Dewasa, jenis kertas A4, margin 4,4,3,3 cm (atas 4 cm, kiri 4 cm, bawah 3 cm, dan kanan 3 cm), spasi ganda, dan jumlah halaman minimal 200 lembar, untuk penerbit Gagas Media, jumlah halaman 70 sampai 150 halaman, margin normal, kertas A4 dan spasi 1,5. Dan masih banyak penerbit mayor lainnya dengan standar berbeda. Hal ini perlu banget diperhatikan.

Berikut standar minimal beberapa penerbit mayor.

Penerbit Gramedia
1. Tebal naskah 100 – 200 halaman.
2. Ukuran font 12 pt dengan spasi 1,5, margin standar.
3. Ukuran kertas A4 atau folio.

Penerbit Gagas Media
1. Tebal naskah 75 – 150 halaman.
2. Ukuran font 12 pt, times new roman, spasi 1, margin standar.
3. Ukuran kertas A4.

Penerbit Grasindo
1. Tebal naskah 100 – 150 halaman.
2. Ukuran font 12 pt, times new roman, spasi 1,5, margin standar.
3. Ukuran kertas A4

Penerbit Bentang Pustaka
1. Tebal naskah 200 halaman (fiksi dewasa), 80 – 150 (fiksi remaja), dan 60-70 (fiksi anak-anak).
2. Ukuran font 12, times new roman, spasi ganda, margin top 4 cm, left 4 cm, right, 3 cm, bottom 3 cm.
3. Ukuran kertas A4.

Penerbit Noura Books
1. Tebal naskah minimal 200 halaman untuk fiksi dewasa dan minimal 150 halaman untuk fiksi remaja.
2.. Ukuran font 12, times new roman, spasi ganda, margin standar.
3. Ukuran kertas A4.

Penerbit Mizan Publishing House
1. Tebal naskah 75 – 150 halaman (fiksi dewasa), 80 – 90 (fiksi remaja).
2. Ukuran font 12, times new roman, spasi 1,5, margin standar.
3. Ukuran kertas A4.

Oh ya, di setiap penerbit mayor wajib menyertakan sinopsis. Sinopsis di sini adalah garis besar dari cerita naskah Anda. Dan perlu diingat! Panjang sinopsis maksimal 1 halaman.

6. EYD (Ejaan Yang Disempurnakan) Belum Benar

Nah, ini nih yang merupakan masalah sangat-sangat umum. Banyak penulis berfikir kalau EYD itu adalah urusan si Editor, sehingga tidak memikirkan EYD. Namun sebenarnya, EYD ini adalah masalah si penulis. Jangan sampai mengirim naskah yang EYD masih berantakan, apalagi banyak typo. Sudah pasti ditolak penerbit mayor deh.

Editor itu sangat sibuk. Dia bertugas untuk menyeleksi naskah yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan. Maka dari itu, dia harus selektif dong memilih naskah. Jika EYD tidak benar, tentu saja akan menambah pekerjaannya. Maka dari itu, lebih baik si Editor menolak naskah yang EYD tidak beraturan meskipun cerita itu bagus, daripada menambah pekerjaannya. Oh ya, pelajaran EYD merupakan pelajaran yang wajib bagi setiap penulis. Penulis yang menulis naskah tanpa mengetahui EYD, bagaikan pisau yang belum terasah.

Baca juga: 9 panduan sederhana teknik menulis yang benar

Hmm ditolak penerbit mayor memang membuat galau berkepanjangan, namun tidak membuat semangat menulis turun dong. Jika gagal penerbit yang satu, mulai deh mengirim ke penerbit seterusnya. Teruslah berkarya dan jangan mudah putus asa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here