5 Kesalahan Menyebabkan Rawan Dipecat dari Pekerjaan

Dipecat dari pekerjaan

Dipecat dari pekerjaan tuh rasanya asam banget. Mau nangis, sedih, terhina, dll. Segala perasaan seolah menumpuk menjadi satu di dalam diri ini. Rasanya dipecat itu mampu menghancurkan dunia. Bahkan banyak orang yang tidak dapat berpikir jernih ketika dipecat dari pekerjaan. Dan terkadang, seseorang tidak tahu kenapa dia harus merasakan pengalaman dipecat. Apalagi bagi karyawan baru, sebaiknya antisipasi kesalahan tanpa disadari menyebabkan rawan dipecat dari pekerjaan.

Kesalahan tersebut memang wajar, karena masih orang yang baru menduduki tangga kedewasaan. Namun, terkadang ada beberapa kesalahan tersebut tidak terkendali sehingga mampu menghancurkan dirinya.

Namun, ketika dipecat dari pekerjaan, apakah segalanya akan berakhir? Bagi Anda yang baru saja menduduki tangga kedewasaan, masih fresh graduate istilahnya, jangan menyerah. Bangkit setelah dipecat dan sukses setelah dipecat merupakan hal yang harus ditanamkan di dalam hati Anda. Tapi, ini kalau telah terjadi pemecatan. Jadi, sebelum terjadi pemecatan, perhatikan kesalahan Anda.

Kesalahan Menyebabkan Rawan Dipecat dari Pekerjaan

Jadi, marilah introspeksi diri, perhatikan ke dalam diri Anda, apakah ada kesalahan yang menyebabkan Anda rawan dipecat dari pekerjaan.

1. Kesalahan sulit berkomunikasi

Nah, masalah berkomunikasi ini termasuk kebiasaan buruk bagi karyawan baru. Entah kenapa, rasanya sudah nyaman menggunakan sosial media, atau memang kemampuan berkomunikasi tidak dilatih secara maksimal ketika bangku sekolah, sehingga menjadi pribadi yang sulit berkomunikasi.

Padahal, komunikasi ini sangat penting bagi dunia pekerjaan. Komunikasi adalah kunci bagi suksesnya dalam pekerjaan. Misal, masalah tender, proyek, penjualan, dll, pasti membutuhkan kemampuan komunikasi yang baik.

Bukan untuk masalah hal itu saja. Berkomunikasi kepada senior, teman kerja, di dalam kelompok, itu sangat penting. Jadi, sebelum masuk zona rawan dipecat, sebaiknya latihlah komunikasi.

2. Kesalahan kepercayaan diri

lelah bekerja

Nah, ini ada dua sisi. Kepercayaan diri yang terlalu percaya diri atau kepercayaan diri yang tidak terlalu, sehingga sering rendah diri. Hal ini sangat tidak baik. Yang mana dunia pekerjaan membutuhkan kepercayaan diri yang bisa dibilang rata-rata. Tidak terlalu percaya diri dan tidak pula terlalu rendah diri.

Masalah kepercayaan diri yang tinggi salah satunya adalah merasa paling hebat. Ingin menonjol dari yang lain. Terkadang mengatakan sesuatu hal tersebut salah, dan sialnya dia mengatakan sesuatu itu tidak pada tempatnya. Misalnya, si bos melakukan kesalahan dan dia mengatakan kesalahan si bos ketika sedang rapat.

Memang, hak untuk dihargai adalah hal segala bangsa. Namun, kepercayaan diri yang tinggi lama kelamaan akan menghancurkan seseorang. Istilahnya, boleh percaya diri, tapi percaya diri yang cantik. Tidak terlalu menonjol, menonjol tapi pada tempatnya. Dan terkadang memberikan masukan yang sederhana untuk kemajuan suatu perusahaan/instansi.

Kesalahan umum adalah terlalu percaya diri, ingin cepat diakui, dan ingin cepat naik jabatan. Sehingga terkadang terlihat mengganggu bagi karyawan lain bahkan pimpinan pun tidak suka dengan sikap tersebut.

Orang yang kepercayaan diri yang rendah, alias rendah diri alias minder juga menjadi masalah. Tidak ada orang yang suka dengan pribadi yang minder. Bayangkan deh, Anda bertemu dengan teman Anda yang minder. Namun dia mempunyai kemampuan yang baik, tapi dia minder. Bagaimana reaksi Anda? Begitu juga dengan reaksi orang-orang di lingkungan pekerjaan kepada orang yang minder.

Dia punya kemampuan, tapi karena tidak percaya diri sehingga menyembunyikan kemampuannya. Dan pada akhirnya, kemampuan dirinya tidak terlihat orang lain. Tentu menjadi rawan dipecat dari pekerjaan. Oh ya, takutnya orang yang minder tuh dimanfaatin oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Dia memanfaatkan kemampuan orang yang kemampuannya tidak terlihat, demi keuntungan diri dia sendiri. Kalau begitu, endingnya akan tertebak. Si dia akan dipecat karena kemampuannya tidak terlihat, sedangkan orang yang memanfaatkan kemampuan dia akan naik jabatan ke yang lebih tinggi.

3. Kesalahan terlalu mengubah tradisi

Setiap perusahaan/instansi pasti memiliki tradisi yang turun temurun diturunkan. Misalnya, penerimaan pegawai baru dengan makan nasi tumpeng. Sebagian karyawan baru merasa heran dengan tradisi tersebut dan akhirnya memilih untuk tidak mengikuti tradisi tersebut.

Ini merupakan gabungan antara sulit komunikasi dan tidak suka berkumpul. Sehingga memilih untuk berdiam diri. Apa jadinya? Tentu akan dijauhi oleh teman kantor. Padahal, dengan mengikuti tradisi tersebut adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada para teman kantor dan senior.

Ada juga, karena karyawan baru penuh dengan ide segar di dalamnya, dan menyukai dunia modern, seolah ingin mengubah tradisi tersebut. Yang awalnya tradisi penerimaan pegawai baru dengan makan nasi tumpeng, kini diganti dengan karaoke. Hal tersebut sangat tidak baik. Ingat, para pimpinan perusahaan/instansi adalah orang yang sudah berumur, artinya mereka sudah mengikuti tradisi tersebut berpuluh-puluh kali. Dan menerima perubahan tradisi itu sangat sulit.

4. Kesalahan yang tidak takut dipecat

Nah, ini dia masalah karyawan baru, tidak takut dipecat karena berpikir akan mendapat pekerjaan baru beberapa bulan setelah dipecat. Hmm … mungkin ini adalah pemikiran yang sama ketika masih fresh graduate. Karena memang kebutuhan belum begitu banyak.

Dan motivasi setelah dipecat itu bermacam-macam. Ada yang tidak betah, ada yang ingin menjadi lebih baik, ada yang ingin mengikuti passion, dll. Namun, karena pribadi tidak takut dipecat, sehingga kelakuannya terlihat sesukanya di lingkungan pekerjaan.

Sedangkan orang yang sudah berpengalaman di bidang pekerjaan, akan merasa takut dipecat. Kecuali kalau dia memang ingin meningkatkan kualitas dirinya. Bisa keluar pekerjaan untuk mengikuti passion, pindah kerja, atau buka usaha. Namun, bagi para senior tersebut akan berpikir matang-matang mengenai dipecat atau mengundurkan diri demi peningkatan keahliannya. Banyak yang dipertimbangkan, namun karyawan baru tidak banyak yang dia pertimbangkan.

5. Kesalahan dengan kepribadian buruk

Menunda pekerjaan

Tahukah Anda, kalau seseorang kepribadian buruk adalah sangat rentan dengan dipecat dari pekerjaan. Memang, kata-kata dipecat kerja berkata lain. Terlihat halus banget, namun kebanyakan menjurus kepada kepribadian yang buruk (sciencedirect).

Jadi, kata mutiara dipecat yang keluar selalu mengeluhkan tentang kepribadian seseorang. Seseorang yang berkelakuan buruk, selalu menjadi masalah bagi semua orang. Nah, maka itu adalah alasan yang kuat bagi pimpinan melakukan pemecatan.

Kalau dipikir-pikir, kepribadian buruk akan merugikan segalanya. Tentu saja perusahaan ataupun instansi memiliki image buruk. Hanya karena karyawannya tidak baik, maka image perusahaan atau instansi menjadi buruk.

Misalnya, seorang karyawan sering banget berkata-kata kasar kepada sekitar. Bahkan, di lingkungan rumahnya selalu berkata kasar. Nantinya, orang luar akan menilai kalau perusahaan atau instansi X tempat dia bekerja mempunyai kebiasaan berkata kasar. Sehingga menurunkan kredibilitas tempat dia bekerja.

Banyak kok contoh nyata. Seorang karyawan yang berperilaku buruk, akhirnya dipecat, bahkan ada istilah dipecat secara tidak hormat.

Penutup

Kesalahan tersebut sehingga rawan dipecat dari pekerjaan terlihat sepele bahkan terkadang kesalahan tersebut tidak disadari. Namun, bagi orang lain, kesalahan tersebut sangat besar dan perlu diperbaiki. Maka dari itu, bagi Anda yang memiliki kesalahan sulit berkomunikasi, kepercayaan diri, terlalu mengubah tradisi, tidak gentar dengan pemecatan sehingga berbuat sesukanya, atau kepribadian yang buruk, sebaiknya perbaiki. Hal tersebut untuk menunjang diri Anda menjadi lebih baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here