Dia Ingin Memberitahuku (Cerpen)

modus penipuan

Pertama kali cowok itu memasuki kelas kami, tidak ada ketakutan yang terlihat di wajahnya. Seperti siwa pertama kalinya berjumpa, memperkenalkan dirinya dengan semangat, dan juga kelihatan rapi. Namun, tidak bulan berlalu, cowok itu berubah penampilan. Daripada penampilan yang rapi, dia telah berubah menjadi buruk. Wajahnya seperti tidak pernah dibersihkan selama tiga bulan ini. Dan wajahnya menunjukkan ketakutan. Seperti setiap hari dia diikuti oleh makhluk, dan makhluk itu tidak diketahui wujudnya.

DAN AKU MENYESAL MENGETAHUINYA. SEBAB KENAPA COWOK ITU KETAKUTAN.

“Hai, perkenalkan namaku Stevan. Ayahku pindah kerja ke kota ini, maka aku dan seluruh keluargaku juga pindah. Hari ini aku bergabung di kelas ini. Semoga kita menjadi teman baik, kalau bisa ada dong yang menjadi pacarku,” katanya pada saat perkenalan.

Ketika dia berkata “pacaku” seluruh cewek tampak berbisik satu sama lain. Sepertinya mereka menemukan target yang pas untuk mereka. Memang pilihan mereka tidak salah. Cowok itu tinggi, gantentg, badan atlitis, dan yang paling penting kulitnya putih dan berambut pirang. Menandakan cowok itu adalah keuturunan orang asing. Seperti rahasia umum, keturunan orang asing itu adalah orang kaya. Karena mereka rata-rata menetap ke kota ini, karena ingin mengeruk harta kekayaan kota ini.

Dan sialnya, cowok itu menunjukkan keakraban terhadap diriku. Dia tiba-tiba mendatangi mejaku, padahal tidak ada yang mau mendatangi mejaku. Aku adalah orang yang kesepian. Keseharianku hanyalah duduk di dalam kelas, mendengarkan apa yang dikatakan ibu guru. Setelah itu pulang dengan damai. Aku tidak tertarik untuk pergi bermain atau apalah katanya. Karena aku memang tidak punya teman.

Dan ketika cowok itu memperkenalkan dirinya secara pribadi kepadaku, hidupku berubah seratus persen. Banyak cewek yang berusaha berkenalan dengan diriku. Namun dengan tegas aku menolak perkenalan itu. Karena aku menyadari kalau perkenalan itu adalah palsu. Ada sesuatu yang ingin mereka ambil dariku, yaitu informasi.

Semakin hari Stevan semakin dekat denganku. Bahkan beberapa kali dia meminta untuk pergi ke kantin bareng. Aku akhirnya luluh dan mau berteman dengan dirinya.

“Hei, kita sudah berteman tapi aku tidak memperkenalkan diriku. Namaku Andri, sedang berkenalan denganmu.”

“Hahahah, kita sudah tiga hari berteman tapi bari hari ini kamu mengatakan namamu,” tawanya memecahkan keheningan. Pipiku langsung memerah, karena baru kali ini aku diledek orang. Tapi dalam hati aku begitu senang, karena aku telah mempunyai teman. Mungkin hari-hariku yang penuh kesepian bakal terobati dengan adanya dirinya.

Berteman dengan Steve begitu menyenangkan. Jika dikatakan teman sejati, dia mungkin teman sejatiku. Namun, dia berubah. Sudah tiga bulan dia di kelas ini, dan beberapa minggu ini dia menunjukkan perubahan.

Aku sebagai temannya sudah wajar menunjukkan kehawatiran.

“Steve, kamu kenapa?”

“Tidak apa-apa,” katanya seolah dirinya tidak ingin ditanya lebih.

“Sebenarnya ada apa?” tanyaku balik. Rasa khawatirku sangat besar, aku tidak bisa membendung perasaan ini.

“Sudah kubilang tidak apa-apa!” katanya sambil memukul meja dengan kuat sekali.

Namun aku tidak menyerah untuk mendapatkan informasi arinya. Aku diam-diam mengikuti dirinya. Kemanapun dia pergi, aku mengikuti dirinya. Entah kenapa rasanya aku terbiasa menjadi penguntit.

Hingga akhirnya aku menemukan kebenaran yang tidak boleh diungkap. Tanpa sadar, ditengah kegelapan malam. Stevan berlari begitu kencang. Dia menuju ke sebuah gubuk kosong. Beruntung atap gubuk tersebut mempunyai lubang kecil. Stevan menutup pintu gubuk tersebut sehingga aku tidak bisa masuk.

Dan apa yang kulihat. Aku melihat sebuah bayangan putih, tidak itu bukan bayangan. Itu adalah makhluk yang sering dikatakan orang-orang. Bahwa makhluk itu tidak tinggal di dunia ini. Makhluk itu tinggal di dunia berbeda.

Stevan begitu ketakutan hingga akhirnya dia pingsan. Dan dengan cepat, kepala makhluk tersebut menghadap diriku. Aku melihat wajahnya begitu jelas. Wajah yang berwarna hitam pekat dengan darah segar yang selalu keluar dari keningnya. Dia tersenyum kepadaku.

Perlahan mulutnya terbuka, seakan ingin berkata sesuatu kepadaku. Dan aku mengartikan perkataannya, yaitu, “MATI,” aku langsung merinding. Seandainya kalau bisa memilih, aku ingin berlari sekencangnya. Namun aku tidak bisa menggerakkan badanku. Karena ketika dia berkata kata itu, dia menghilang dan tiba-tiba mmuncul dihadapanku.

Sungguh menyeramkan dirinya. Baru pertama kali aku bertemu makhluk itu dan aku begitu ketakutan. Bulu kudukku langsung berdiri. Kakiku gemetaran hebat, begitu juga bibirku.

Makhluk itu menatap diriku dengan tatapan tajam. Tatapan yang mengatakan kalau saatnya giliranku untuk MATI. Namun beruntungnya, hanya tiga menit dia dihadapanku, dan dia menghilang begitu saja. Badanku langsung lemas.

“Steve, makhluk itu apa sih?”

“Tentu saja dia itu hantu. Dia bakal membunuh kita satu persatu.”

“Apa benar begitu?” kataku dengan tangan yang sudah menggigil. Mengingat makhluk itu yang begitu menyeramkan, aku yakin kalau dia akan membunuhku.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanyaku kepada Steve. Sejujurnya, aku sangat takut dengan kematian. Aku tidak siap untuk mati.

Steve juga kebingungan. Dan di belakang Steve, aku melihat makhluk itu seakan dia menatapku. Aku ketakutan, dan Steve langsung memegang tanganku.

“Jangan takut!” kata Steve. Aku yakin dia mengetahui apa yang aku lihat. Aku menguatka diriku. Dan dengan sekejab, wajah Steve berubah dengan wajah perempuan hitam pucat dengan raha segar mengalir keliar dari keningnya.

Aku ingin berlari namun tangan Steve memegang keras tanganku. Tangannya seolah-olah dari baja, yang tidak akan lepas bagaimanapun caranya. Mau tidak mau aku menatap wajah tersebut.

“Bolehkah kamu menolongku?” Tanya hantu tersebut. AKu tidak yakin kalau dia meminta tolong atau bukan. Karena perkataannya yang menyeramkan dan juga memaksa.

“Jangan!” tiba-tiba suara Steven terdengar di telingaku.

“Diam kamu!” teriak hantu tersebut. Apakah tubuh Steven sudah diambil alih makhluk itu?

Tiba-tiba tangan yang begitu dingin, mengenai leherku. Tangan tersebut menggenggam leherku begitu keras. Aku tidak bisa bernafas.

Wajah hantu itu begitu menyeramkan. Dan aku ketahui kalau tangan ini adalah tangannya. Aku berusaha untuk melepaskan cekikannya, insting bertahan hiduku muncul. Namun aku tidak bisa melepaskanya karena tenaganya yang sangat kuat.

Aku ingin berteriak meminta tolong, namun suaraku tidak keluar. Aku tidak bisa langi bersuara, pandanganku mulai kabur. Perlahan-lahan, aku melihat bayangan lain. Bayangan yang berwarna hitam dengan pedang sabit di tangannya. Apakah itu malaikat kematian yang akan mencabut nyawaku.

Dan aku beruntung. Di saat malaikat itu ingin menyentuh ubun-ubunku, tiba-tiba aku terbangun di kelas. Aku terkejut dengan perubahan situasi. Dan aku bangun sebelum kejadian itu. Sebelum Steve memperkenalkan dirinya. Aku kebingungan, seolah-olah aku kembali ke masa lalu.

***

Steve memperkenalkan dirinya. Kejadiannya sama persis yang kualami tiga bulan yang lalu. Tidak ada perubahan dalam situasi macam ini. Setelah Steve memperkenalkan dirinya, beberapa jam kemudian, dia mendatangiku, dia memperkenalkan dirinya secara personal kepadaku. Dia berusaha menjadi temanku.

Aku terdiam beberapa saat. Namun, aku rasa ada beberapa alasan mengapa aku kembali pada masa ini. Aku harus memperingatkan Steve. Bahwa ada hantu di luar sana yang hendak mengambil nyawanya dan juga nyawaku.

Aku langsung memperkanlkan diriku. Aku yakin, perubahan pertama yang harus aku lakukan adalah perkanalan diri. Perlahan, ada sesuatu yang mencekik leherku ketika aku memperkanlkan diriku.

Apakah hantu itu mengikutiku?

Hal yang pertama kali aku lakukan adalah mengikuti Steve secara diam-diam. Apa yang dia lakukan hingga hantu itu mengikutiku. Dan pada hari itu, aku menemukan pemandangan yang mengerikan. Sesuatu yang hal yang lain dari diri Steve. Yang aku ketahui selama ini, Steve adalah orang yang ramah, namun aku melihat sisi lain darinya.

Dia sangat suka berbuat kasar terhadap cewek. Dan cewek yang dia kasari hari ini adalah cewek yang sangat mirip dengan penampakan hantu itu.

“Oh … pantas saja,” kataku dalam hati. Tanpa berpikir panjang, aku langsung berlari ke hadapan Steve dan melindungi cewek itu.

“Apa yang kamu lakukan Steve?”

“Minggir kamu! Aku ingin bersenang-senang!”

“Apa? Dengan menyakiti cewek kmu pikir bersenang-senang?”

“Apa urusanmu!” dengan sekilas pisau tajam menusuk perutku. Aku begitu kaget dan mengeluarkan banyak darah. Aku tidak sempat merasakan kesakita, karena badanku langsung lemas. Seluruh tenagaku terkuras sesuai dengan aliran darah yang keluar dari perutku.

Steve langsung kabur begitu saja, meninggalkan diriku yang terkulai lemas. Pandangku tiba-tiba kabur. Aku melihat cewek itu berusaha untuk menolongku, tapi aku yakin itu tidak ada gunanya. Dan secara sekilas, aku melihat pemandangan bayangan hitam dengan memegang sabit. Aku yakin itu malaikat maut.

Malaikat itu perlahan mendekatiku. Wajahnya penuh dengan senyuman. Aku yakin dia gembira karena kali ini dia tidak salah. Dia pun secara perlahan memegang ubun-ubunku.

Dan ketika tangannya memegang ubun-ubunku, tiba-tiba aku kembali ke waktu yang semestinya. Wajah hantu itu memelototiku, tangannya masih keras mencekik leherku.

“A-a-aku tahu kebenarannya,” kataku terbata-bata. Dan hantu itu melepaskan cekikannya.

“Apa yang kamu ketahui!”

“Steve, dia telah melukaimu bukan?”

Seketika itu pula suasan berubah. Yang awalnya kelam, kini berubah penuh dengan kedamaian. Yang seharnya aku berada di dalam kelas, kini berubah di taman bunga. Hantu itu juga berubah menjadi cewek yang cantik.

“Apakah kamu ingin balas dendam?”

“Hahaha, jangan salah. Aku tidak ingin balas dendam. Aku hanya ingin memberitahumu, sekaligus memberi pelajaran sedikit kepada Steve.”

“Apakah kamu sudah mati?”

“Hahaha kenapa kamu berpikir seperti itu. Memang benar aku menjadi seperti ini. Tapi sebenarnya aku masih hidup. Tapi aku terbaring koma di rumah sakit. Mungkin, harapan hidupku sedikit, sebentar lagi aku akan meninggalkan dunia ini.

“Di rumah sakit mana?”

“Itu tugasmu untuk mengetahuinya.”

Aku terbangun, aku terbangun di hadapan Steve. Dia juga tertidur. Secara refleks, aku langsung menjauhi Steve.

***

Bel sekolah berbunyi, saatnya untuk pulang ke rumah masing-masing. Steve memanggilku, dia hendak mengajakku jalan. Namun aku langsung menolak. Karena aku tidak bisa lagi berteman dengannya, mengingat penikaman yang telah dia lakukan. Mungkin dia tidak menyadarinya, namun aku masih mengingatnya dengan jelas.

Dan betapa bodohnya aku, rumah sakit dengan fasilitas ICU di kota ini hanya satu. Aku langsung pergi ke rumah sakit itu, mendaftarkan diri sebagai pengunjung. Beruntung jam ini, pukul tiga sore diperbolehkan untuk membesuk pasien ICU. Aku sedikit berbohong kalau aku keluarga pasien. Padahal aku tidak tahu siapa dirinya.

Dan aku bertemu dengannya. Aku melhat dirinya terbaring lemas. Namun, ketika aku memegang tangannya dengan lembut, keajaiban menunjukkan dirinya. Dirinya membuka matanya, dan tersenyum melihat diriku. Aku yakin, dia mengenal diriku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here