Di Kala Hujan Aku Mengingatmu (Cerpen)

di kala hujan aku mengingatmu

Hujan adalah keadaan air jatuh bebas ke Bumi. Betapa enaknya air tersebut, jatuh tanpa ada yang menghalangi. Dan ketika air itu jatuh ke Bumi, dia membawa kebaikan yang sangat banyak. Seolah air hujan itu adalah penolong yang jatuh ke Bumi.

Dina suka sekali melihat hujan. Entah kenapa, katanya hujan selalu mengingat dia akan sesuatu. Namun dia tidak ingat apa itu. Ada rasa rindu yang tidak tertahankan ketika melihat hujan.

Dina memang mengalami kejadian yang buruk. Karena kecelakaan waktu itu, dia mengalami hilang ingatan. Seluruh memorinya terhapus. Seolah-olah otaknya telah mengganti memori. Membuang memori lama dan mengganti memori yang baru.

Tapi, kenangan akan memori lama masih tersimpan di dalam otaknya. Namun, kenangan itu hanya bisa mengetuk memori saja. Kenangan itu tidak bisa memasuki memorinya. Seolah kenangan itu berkata, “Ada sesuatu yang penting kamu lupakan.”

Namanya Dina, gadis kuliah yang ceria. Namun, keceriaan yang dia tunjukkan hanyalah topeng semata. Jauh di dalam lubuk hatinya dia kesepian. Dia ingin berteriak di tempat yang tidak ada orangnya. Dia ingin menjerit, melepaskan segala yang tertahan di hatinya.

Orang-orang mengatakan kalau Dina orang yang ceria. Namun aslinya dia pemurung. Orang-orang mengatakan kalau dia ramah. Aslinya tidak begitu ramah. Dina selalu tersenyum, menyembunyikan kekesalan di hatinya.

Namun, walaupun banyak orang tertipu dengan topeng yang dia gunakan. Ada. Satu pemuda yang menyadarinya. Dia mendatangi Dina, bicara berdua di tempat yang sepi.

Dia berpikir kalau pemuda itu akan menyatakan cinta kepadanya. Dia sudah menyiapkan jawaban yang paling menyakitkan hati pemuda itu.

“Kamu, adalah orang yang buruk. Topeng yang kamu gunakan terlalu tebal. Dasar pura-pura!” kata pemuda itu dan itu berhasil membuat gadis itu terkejut. Ada sesuatu yang berhasil menembus hatinya. Hati yang tertahan sudah tidak bisa lagi ditahan. Kata pemuda itu, mendobrak hati gadis itu.

“Ya, aku memang memakai topeng. Apa kamu tahu? Aku itu muak dengan topeng. Aku muak dengan semua orang dengan senyuman itu. Aku muak dengan anggapan orang yang mengatakan aku baik. Aku ingin menunjukkan ini diriku!” teriak Dina sambil menjambak rambutnya. Dia sudah tidak bisa menahan apa yang di dalam hatinya.

Pemuda itu hanya diam mematung. Dia membiarkan gadis itu berkata dan berbuat sesukanya.

“Apa kamu mendengarkanku?”

Pemuda itu mengangguk setelah mendengar pertanyaan gadis itu. Gadis itu ingin menangis. Dia berjalan pelan mendekati pemuda itu. Dia membiarkan kepalanya jatuh di dada pemuda itu. Dia menangis, dia menangis sepuasnya. Dia menangis sambil memukul dada pemuda itu.

Pemuda itu hanya diam, mukanya menghadap ke atas. Dia menggenggam tangannya.

Pemuda itu bernama Agus. Dia menyadari Dina memakai topeng, karena dulu dia juga memakainya.

***

“Kenapa? Kenapa kamu tahu kalau aku memakai topeng?”

“Karena aku dulu juga memakai topeng. Kamu boleh memakai topeng ke semua orang, tapi kamu tidak akan bisa memakai topeng di hadapanku.”

“Hahaha, baiklah, mulai hari ini kita berteman.”

“Maaf aku tidak mau berteman. Aku mau menjadi kekasihmu.”

“Jijik!”

Entah kenapa, mereka berdua semakin lama semakin dekat. Mereka berdua selalu bersama di kala susah maupun senang.

Terkadang, jika Agus merasa sedih, dia langsung menemui Dina untuk mencurahkan kesedihannya, begitu juga dengan Dina. Walaupun Dina lebih sering mencurahkan hatinya, Agus mendengarkannya dengan senang hati.

Keakraban mereka semakin tidak terkendali. Bahkan banyak gosip yang menerpa mereka. Rata-rata gosip tentang mereka kalau mereka berdua telah memiliki hubungan.

Dan suatu hari, di tempat yang sama, Agus dan Dian bertemu. Pada hari itu, hari sedang hujan. Dan mereka berdiri saling berhadap-hadapan dengan tubuh basah diguyur hujan.

“Jadi, kamu mau jadi kekasihku?” tanya Agus dengan gaya sok cool.

“Nggak mau. Kamu mau menembakku atau tidak sih?” sebenarnya jantung Dina berdetak kencang. Detakannya semakin tidak terkendali. Bisa-bisa dia terkena serangan jantung. Jauh di lubuk hatinya, dia ingin mendengar Agus menembaknya. Dia sudah menyiapkan kalimat yang tepat untuk menjawabnya.

“Ok, aku cinta kamu.”

“Kok terpaksa bilangnya?”

“Terserah.”

“Bodoh, aku juga cinta kamu,” kata Dina karena geramnya. Padahal dia sudah menyiapkan kalimat yang tepat, namun hasilnya kalimat itu percuma.

Pada hari itu mereka jadian. Namun hanya beberapa jam saja. Karena pada malam harinya, Dina mengalami kecelakaan dan menghapus seluruh memorinya.

***

Dina menatap hujan di balik jendela rumahnya. Kenangan yang ingin memasuki memorinya semakin kuat membentur. Dina merasa, ada kenangan yang indah ketika hujan.

“Apa yang kulupakan? Aku merasa aku melupakan sesuatu,” pikir Dina dalam hati. Namun apapun kenangan itu, Dina tidak mampu mengingatnya.

Dan itu terjadi beberapa tahun selanjutnya. Hingga Dina telah menyelesaikan kuliahnya dan mendapatkan pekerjaan, dia tetap tidak bisa mengingatnya.

Perilakunya terhadap orang-orang telah berubah. Dina tidak bisa memakai topeng. Karena setiap dia hendak memakai topeng, ada bayangan seseorang yang melarangnya memakai topeng.

“Gimana? Pemuda itu cocok nggak?” tanya Dini, sahabatnya di kantor. Dini telah bekerja dan menikah. Sedangkan Dina, masih berkutat pada kenangan yang sama. Dia tidak bisa mencintai pemuda lain. Namun, dia tidak menyerah, dia berusaha untuk mencintai pemuda lain, walaupun itu percuma.

Hingga suatu hari, seorang pemuda tidak sengaja menabrak dirinya. Pemuda itu tengah terburu-buru sehingga dia tidak melihat kiri kanan.

“Hey, kalau jalan lihat-lihat dong!” terbaik Dina karena kesal.

Pemuda itu mengangkat badannya. Dina telah bangkit terlebih dahulu. Ketika mereka berdua saling berhadapan, kenangan Dina berhasil masuk di memorinya. Di tambah, hari itu sedang hujan deras. Tubuh mereka berdua diguyur hujan.

“Agus?” Dina tidak kuasa menahan air matanya.

“Akhirnya kamu ingat juga ya?”

“Kenapa? Kenapa kamu tidak menemuinya? Bertahun-tahun aku menderita karena kenangan ini.”

“Aku selalu menemuimu. Tapi kamu tidak menyadariku,” Agus sudah berusaha keras agar Dina mengingatnya. Dia berusaha untuk berteman dengannya, namun tidak pernah berhasil.

Dia juga berusaha untuk pura-pura bertemu secara tidak sengaja dengannya. Namun, Dina menanggapinya dengan acuh.

Hingga takdir masih mendukung mereka. Ketika badan mereka diguyur hujan, Dina berhasil mengingat semuanya.

“Jadi, kamu selama ini?”

“Tentu saja. Aku kesepian tahu tanpa dirimu.”

“Aku tidak kesepian!” Dina berusaha untuk mengeluarkan candaan, walaupun dia saat ini sedang mengeluarkan air mata.

Air hujan memang menyamarkan air matanya. Namun Agus mengetahuinya.

“Kali ini, maukah kamu menjadi istriku?”

1 COMMENT

  1. Kak ceritanya bagus. Kira-kira ada kelanjutannya gak ya. Kalau ada kelanjutannya tolong di kasih pemberitahuan ya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here