Desaku Cinta Desaku Malang Karena Kesalahanku

Aku tinggal di sebuah desa. Desanya sangat subur dan banyak sekali pepohonan. Aku suka sekali memanjat pepohonan. Bersantai di atas pohon itu sangat luar biasa menurutku.

Setiap sore desa ini selalu didatangi hujan. Tidak peduli musim apapun. Baik musim kemarau maupun musim hujan selalu didatangi hujan. Kalau musim hujan ya … makin sering datang hujan.

Akibatnya sungai desa ini berlimpah. Beruntung alirannya sangat jernih sehingga dapat kami gunakan untuk kehidupan sehari-hari.

Kami mengambil air untuk kebutuhan sehari-hari di sungai tersebut. Bahkan kami sering mandi di sungai itu. Mandi di sungai itu sangat menyegarkan. Lebih menyegarkan daripada mandi di bath up mewah sekalipun. Dan hal itu sudah tidak aku rasakan saat ini.

Dulu Kakek sering kali berpesan. “Cu, kalau sudah besar. Jangan pernah bolehkan siapapun menebang pohon di hutan. Pokoknya jangan!”

Dan kalau pergi ke hutan, sangat banyak sekali pohon-pohon tua. Umur pohonnya sangat tua, mungkin sudah ratusan tahun. Bukan hanya tua saja, kayunya sangat keras dan akarnya merambat kemana-mana.

Dulu aku tidak mengerti tentang arti pohon. Tapi sejak kejadian waktu itu aku akhirnya mengerti.

Aku waktu itu hanya memikirkan uang tanpa memikirkan dampaknya.

Banyak sekali hewan dan tumbuhan liar di hutan ini. Tumbuhannya tidak hanya beracun, tapi juga tumbuhan indah juga. Terkadang aku sering datang ke hutan untuk mengambil anggrek hitam.

Dan hewan di dalam hutan memang agak menyeramkan sih. Banyak sekali binatang buas seperti harimau. Dan beruntung aku belum pernah bertemu dengan binatang tersebut. Desaku yang indah dan desaku yang kucinta.

***

Aku akhirnya berhasil menyelesaikan pendidikanku. Aku langsung diterima pada salah satu perusahaan tambang. Dan satu fakta yang sangat mengejutkan. Di desa itu, tersimpan berlian yang sangat mahal.

Mau tidak mau, aku yang ditunjuk sebagai mediasi antara perusahaan dan warga desa. Aku langsung melancarkan strategi pendekatan. Karena aku lahir di desa itu, aku jadinya mudah bangat diterima. Bahkan kepala desa sangat percaya denganku.

Para warga desa sangat percaya kepadaku dan aku mengkhianati kepercayaan mereka.

***

Pembangunan pertambangan pun dimulai. Banyak sekali pohon-pohon tua ditebang. Perusahaan menyerahkan kepadaku urusan pohon-pohon tua. Aku langsung menjualnya dan ternyata langsung membuatku kaya secara instan.

Aku memang kaya, rumahku besar dan kendaraanku mewah. Banyak sekali emas yang aku sembunyikan. Tapi itu berbanding terbalik dengan keadaan desa.

***

Bencana pertama, air sungai mulai kotor dan mengering. Para penduduk desa tidak bisa lagi menggunakan air sungai tersebut untuk kebutuhan sehari-hari.

Bencana kedua, air bersih mulai susah di dapat. Para penduduk desa sering sekali mengantri untuk mendapatkannya.

Bencana ketiga, air untuk mengairi lahan pertanian mulai mengering. Banyak sekali lahan pertanian yang sudah tidak bisa digunakan lagi karena kekeringan.

Bencana keempat, hujan mulai jarang muncul. Tidak ada lagi hujan di desa ini.

Perusahaan menggali berlian dengan rakusnya. Setelah berlian tersebut habis, mereka meninggalkannya begitu saja. Kini desa terlihat gersang.

Dan beberapa bulan yang lalu terjadi bencana kelima di desa itu.

Bencana kelima terjadi longsor besar-besaran. 90% penduduk desa tewas dan 10% luka serius. Aku sangat terpukul dengan keadaan desa tersebut.

Aku merasa bersalah dengan keadaan desa. Karenaku semuanya hancur. Aku menampung para penduduk yang selamat. Aku menyekolahkan anak mereka hingga menyelesaikan pendidikan.

Aku merasa bersalah. Aku tidak pernah keberatan bila menolong warga desa. Mereka demikian karena salahku.

Desaku yang kucintai, kini berubah menjadi tanah tandus tak tersentuh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here