Cerpen: Sejarah Manusia di Abad 20

Sejarah Manusia di Abad 20

Dahulu, jika zaman semakin berkembang, maka teknologi akan semakin maju. Tidak ada yang mampu menghambat kemajuan teknologi. Teknologi yang semakin berkembang, memungkinkan manusia menjadi raja seluruh jagad raya. Namun, tidak demikian. Manusia memang mampu menciptakan teknologi termaju, tapi tidak mampu menaklukkan alam. Setidaknya itulah yang dikatakan dalam buku yang kubaca.

Sekarang tahun 2200 masehi. Dunia yang sangat jauh sekali berdasarkan waktu. Bumi sudah semakin tua dan renta. Tapi anehnya, Bumi semakin bersemangat untuk menampung manusia.

Pada tahun 2100, saat manusia akan mencapai puncak kemajuan teknologi, sebuah bencana besar terjadi. Bencana tersebut menyapu seluruh manusia. Manusia yang memiliki pengetahuan tinggi semuanya musnah. Kini tinggal manusia yang tidak memiliki ilmu pengetahuan. Dan saat itu, manusia kembali ke zaman purbakala. Kehidupan yang selalu berulang.

Dan … sekarang, tahun 2200, manusia sudah mampu menggunakan besi. Manusia sudah bisa menggunakan pedang dan alat lainnya. Dan juga, mulai lagi mengembangkan ilmu pengetahuan. Aku adalah salah satu dari manusia yang tergila-gila dengan ilmu.

Tanpa sengaja, aku menemukan buku mengenai kehidupan zaman lalu. Awalnya aku pikir manusia zaman dulu itu adalah manusia purba. Tapi aku terkejut, ternyata manusia waktu itu memiliki ilmu pengetahuan yang sangat dahsyat.

Namun bencana alam menyapu bersih semuanya. Mungkin Bumi marah kepada manusia.

Aku mempelajari buku tersebut. Semakin aku mempelajarinya, semakin pusing kepala. Banyak sekali imajinasi yang tidak sampai di kepalaku.

“Sayang, kenapa kamu selalu membaca buku itu? Buku itu tidak lebih dongeng masa lalu.”

“Kamu memang ada benarnya sayang. Tapi buku ini gambaran manusia zaman lalu. Sejarah tidak boleh dilupakan sayang,” kataku sambil membaca buku.

“Aduh … kamu ini mah. Memang lah sayangku ini. Kalau sudah serius, istri sendiri dilupakan juga,” kata istriku ngambek. Aku tetap membaca buku. Sebuah cerita yang mampu melewati batas imajinasiku.

Namun, aku berhenti di salah satu chapter pada buku itu. Aku begitu terkejut ketika membacanya.

Katanya di zaman itu, banyak sekali negara berdiri. Jumlah manusia mencapai miliaran. Sebuah angka yang tidak bisa kubayangkan. Di antara negara, dipimpin kepala negara.

Di dalam negara, ada yang namanya pejabat. Mungkin di zamanku, ini dinamakan raja dan gubernur. Tapi yang membuatku terkejut, para pemimpin waktu itu sangat kejam.

Rakyat memang makmur, tapi mereka banyak melakukan kecurangan. Pikiran mereka, asal rakyat senang dan tidak mengetahuinya, mereka bebas melakukan apapun.

Praktik korupsi bagaikan ilmu yang sudah dipelajari secara turun temurun. Mereka dengan lancang berkata “korupsi itu tidak benar”, tapi merekalah para pelaku korupsi itu.

Omongan para pejabat tidak ada yang benar. Susah membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Baginya, asal memenuhi keinginannya, itulah kebenaran.

Kebenaran bagi manusia waktu itu adalah hal yang baik bagi dirinya. Mereka tidak peduli dengan orang lain. Asalkan dia senang, maka itu sudah cukup.

Tolong menolong? Itu hanyalah sebuah kata saja. Manusia mau menolong orang lain, jika itu memberikan keuntungan kepadanya. Misalnya, dia mau menolong orang miskin, hanya masa kampanye saja. Tidak ada lagi yang namanya ikhlas. Semuanya ada untungnya.

Dan aku juga berhenti mengenai kalimat “manusia sudah tidak ada bedanya dengan binatang”. Karena manusia bebas melakukan hubungan badan siapa saja tanpa adanya ikatan yang jelas. Bagi mereka, itu adalah permainan yang mengasyikkan. Memang zaman itu, kehamilan bisa dicegah, tapi itu berdampak pada kebebasan seks.

Aku langsung menutup buku itu. Aku tidak sanggup melihat kelanjutannya. Manusia di zaman itu, memang memiliki teknologi yang maju. Tapi tidak dengan moralnya. Moral manusia semakin mirip dengan binatang. Pantas Bumi marah dan menghancurkan semuanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here