Istriku Musuh Bebuyutanku, Kebencian Berubah Jadi Cinta

“Hei dengar ya! Gara-gara kamu aku jadinya jatuh cinta kepadamu. Padahal kamu tuh tidak ada cantiknya sama sekali tapi kenapa aku jatuh cinta,” kataku dengan emosi meluap-luap.

Dan reaksi Shinta? Shinta hanya bengong saja dan memegang keningku. Dia langsung berkata, “Sepertinya kamu sudah gila Dana.”

Dan mukaku langsung memerah. Bagaimana tidak, ucapan itu seharusnya aku katakan pada saat romantis. Tapi entah kenapa aku mengucapkannya di saat seperti ini, di saat kami sedang bertengkar. Tunggu dulu! Shinta adalah musuh bebuyutanku!

***

Aku dan Shinta sudah menjadi musuh bebuyutan sejak lama. Kalau tidak salah sejak kami kelas dua SD telah menjadi musuh bebuyutan. Setiap ada aku dan Shinta pasti ujung-ujungnya berantam dan berantam. Tidak ada kata “damai” dalam kamus kami.

“Apakah kalian tidak capek berantam saja?” itu pertanyaan yang selalu dilontarkan Mama.

Tentu saja aku tidak capek. Aku itu paling senang kalau berantam. Walaupun hanya sama Shinta saja sih. Tapi … sikapnya yang menyebalkan itu membuat diriku ingin berantam.

Dia selalu memandang remeh ke arahku. Mentang-mentang dia anak yang paling rajin, plus pintar pula. Dia menganggapku rendah? Hoh … itu tidak bisa dibiarkan.

“Hati-hati loh. Dari berantem nanti jatuh cinta loh.”

Itu tidak mungkin. Cinta itu datang karena kecocokan dan keharmonisan. Sesuatu seperti berantam tidak akan tersentuh oleh cinta. Tidak akan!

Tapi kayaknya itu salah deh. Aku telah jatuh cinta kepada Shinta sejak kelas dua SMA. Aku merasa kehilangan karena Shinta tidak menunjukkan batang hidungnya selama tiga hari. Shinta sakit.

Aku terpaksa pergi menjenguknya, plus membawa bunga mawar besar lagi. Padahal aku berusaha menabung uang, eh tidak tahunya tuh uang lenyap seketika demi Shinta. Hatiku pada saat itu begitu dag dig dug.

Shinta sedikit tersenyum melihat kunjunganku. Dia tidak meledekku seperti biasanya. Dia tersenyum dan aku pun tersenyum. Pada saat itu, waktu terasa sangat lama. Seakan-akan kami berbicara dalam hati.

***

Kini aku telah masuk Universitas. Aku kuliah di kota lain. Alhasil aku berpisah dari Shinta. Keinginanku sih begitu. Tapi…! Shinta malah satu Universitas denganku!

Beruntung tidak satu jurusan. Aku memilih jurusan Fisika sedangkan Shinta memilih jurusan Biologi. Hmm … sangat pas dengan Shinta yang suka menghafal mati-matian.

Walaupun satu Universitas dan satu Fakultas. Tapi karena kesibukan masing-masing, kami jarang bertemu. Kami pernah bertemu itu pun satu kali. Pas MOS dan kami masih saja berantam. Dan dia menganggap pernyataan cintaku waktu itu hanyalah bercanda. Padahal….

Aku masih mencintainya. Aku tidak bisa lepas darinya. Aku selalu saja menaruh hati kepadanya. Aku sudah berusaha buat melupakanya tapi tidak bisa. Aku selalu kepikiran.

Alhasil aku bisa dibilang stalker daripada mata-mata. Aku selalu memantau pergerakan Shinta dari jauh. Kalau ada waktu kosong satu detik saja, aku sudah menajamkan mataku buat mencari jejak Shinta. Hanya itulah yang bisa aku lakukan.

***

Aku sudah bekerja. Dan rasa cintaku ini masih belum lenyap. Aku tidak bisa lagi menahan rasa cintaku ini. Dan yang paling sialnya, Shinta bekerja di kantor yang sama denganku.

Aku membicarakan hal ini kepada Papa dan Mama. Papa dan Mama malah menganggap aku bercanda. Mereka berdua tertawa meledekku.

“Dana, kamu serius.”

“Iya,” jawabku singkat.

“Seketika itu pula suasana menjadi hening. Sepertinya orang tuaku syok kali.

Aku datang ke rumah Shinta, melamarnya. Aku mengutarakan maksudku dengan gemetar. Aku bahkan beberapa kali salah ucap.

Bagaimana dengan Shinta? Dia masih menganggapku bercanda sampai aku menunjukkan keseriusanku. Dan seketika itu pula wajahnya merah dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya bisa menunduk, tersenyum, dang mengangguk setuju.

Istriku ini sebenarnya adalah musuh bebuyutanku. Tapi cinta mengubah kebencian abadi menjadi cinta abadi.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here